Empat negara Asia Tenggara—Indonesia, Vietnam, Filipina, dan Thailand—masuk jajaran penguasa pasar mi instan global. Menurut Laporan Asosiasi Mi Instan Dunia (WINA) yang dikutip VnExpress, Senin (31/8/2026), konsumsi gabungan keempatnya diproyeksikan mencapai 31,3 miliar porsi pada 2025. Indonesia sendiri berada di urutan kedua dunia setelah China.
Total konsumsi di Indonesia tercatat 14,5 miliar porsi, 51% lebih tinggi daripada India yang menjadi pasar terbesar ketiga. Varian yang paling digemari adalah mi goreng—mulai dari rasa sayur, ayam, hingga udang dengan bumbu cabai. Sebagian besar produk di pasar domestik telah bersertifikat halal seiring mayoritas penduduk yang beragama Islam.
Vietnam menempati peringkat keempat dengan 8,2 miliar porsi. Namun secara per kapita, negara ini memimpin dunia dengan 81 porsi per orang. Rasa campuran udang dan jeruk nipis menjadi favorit, dengan mi bertekstur kenyal dan tambahan bawang bombai, lemon, serta cabai. Selain berbahan terigu, banyak pula produk yang menggunakan mi beras "pho".
Filipina berada di posisi ketujuh dengan 4,3 miliar porsi, turun 3,5% dibanding 2024. Jenis paling populer adalah mi goreng "Pancit Canton". Rasa calamondin (jenis jeruk) dan cabai pedas banyak diminati, disusul rasa makanan laut untuk varian kuah. Karena kebiasaan ngemil, mi instan kemasan cup mini kerap dipilih masyarakat setempat.
Advertisement
10 Besar Konsumsi Mi Instan: Dari China hingga Nigeria
Thailand menempati peringkat kedelapan dengan hampir 4,2 miliar porsi—angka tertinggi yang pernah tercatat di negara itu. Rasa tom yum, suki Thailand, dan daging babi cincang populer, terutama varian pedas karena tambahan cabai.
Di luar Asia Tenggara, Jepang berada di urutan kelima dengan 5,9 miliar porsi, disusul Amerika Serikat di posisi keenam dengan 5,2 miliar porsi. Korea Selatan dan Nigeria melengkapi 10 besar dengan masing-masing 4,1 miliar dan 3,1 miliar porsi.
China tetap menjadi pasar mi instan terbesar dunia dengan 43,3 miliar porsi, setara gabungan dari lima pasar terbesar berikutnya.
Secara global, permintaan mi instan pada 2025 mencapai 124 miliar porsi, naik 0,7% dibanding 2024.