Tata Kelola Adaptif Penentu Keberlanjutan Industri Reasuransi

Aspek kepercayaan menjadi modal krusial untuk menciptakan pertumbuhan bersama para mitra di industri asuransi.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Tata Kelola Adaptif Penentu Keberlanjutan Industri Reasuransi
Ilustrasi bayar premi asuransi dan klaim asuransi. (depositphotos.com/artursz)

PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau Indonesia Re menegaskan komitmennya dalam memperkuat penerapan Good Corporate Governance (GCG) dan manajemen risiko. Di tengah sengitnya volatilitas ekonomi global serta percepatan teknologi digital, penguatan tata kelola ini ditempatkan sebagai pilar utama untuk menjaga keberlanjutan bisnis dan daya saing perusahaan.

Direktur Utama Indonesia Re, Robbi Yanuar Walid, menyampaikan bahwa tata kelola yang bersih dan akuntabel merupakan elemen fundamental dalam menyokong industri reasuransi nasional.

"Bagi Indonesia Re, tata kelola perusahaan yang baik dirasakan semakin penting seiring dengan meningkatnya risiko bisnis dan tantangan yang dihadapi oleh industri reasuransi,” ujar Robbi di Jakarta, Senin (31/8).

Ia menuturkan bahwa aspek kepercayaan menjadi modal krusial untuk menciptakan pertumbuhan bersama para mitra di industri asuransi.

"Kami terus memperkuat tata kelola, kualitas layanan, dan pengelolaan risiko agar Indonesia Re dapat menjadi mitra strategis yang mampu mendukung pertumbuhan industri secara berkelanjutan," tegasnya.

Implementasi Program dan Pengukuran Kematangan Risiko

Sejak 2025, Indonesia Re secara berkelanjutan menggelar berbagai inisiatif untuk memperkuat budaya kepatuhan di seluruh lini organisasi. Langkah ini direalisasikan melalui forum diskusi berkala, compliance self-assessment, sosialisasi LHKPN, penerapan Perlindungan Data Pribadi (PDP), pedoman anti-gratifikasi, kampanye HAKORDIA, hingga edukasi anti-suap.

Selain itu, perusahaan mengukur tingkat kematangan manajemen risiko melalui Risk Maturity Index (RMI) yang merujuk pada Petunjuk Teknis KBUMN Tahun 2023. Pada pengukuran periode 2024 yang digelar Juli–September 2025, Indonesia Re mencetak skor 3,10 dengan kriteria “Fase Praktik Yang Baik”.

Seluruh implementasi ini berpatokan pada delapan prinsip GCG dan terus dievaluasi secara berkala oleh pihak internal maupun pengawas eksternal, seperti OJK, BP BUMN, PT Danantara Asset Management, dan BPKP.

Hasilnya, penilaian penerapan GCG Tahun 2025 dari OJK mengganjar Indonesia Re dengan skor 4,84 dari skala 5 (96,80 persen) berpredikat "Sangat Baik".

"Lewat transformasi tata kelola yang terus berjalan, termasuk penguatan manajemen risiko, digitalisasi, kepatuhan, serta pengembangan sumber daya manusia, kami ingin memastikan Indonesia Re jadi perusahaan yang sustainable bagi seluruh pemangku kepentingan," kata Robbi.

Adaptasi Standar Baru

Di sisi operasional dan regulasi, Indonesia Re berhasil mengimplementasikan PSAK 117 yang mengadopsi IFRS 17 guna meningkatkan kualitas keputusan berbasis data.

Perusahaan juga beradaptasi secara mulus dalam transisi kepemilikan ke ekosistem Danantara dengan menyesuaikan mekanisme pengawasan dan struktur koordinasi internal tanpa mengurangi kepatuhan regulasi.

Ke depan, Indonesia Re berkomitmen memperkuat pengawasan risiko berbasis teknologi, mempercepat transformasi digital, serta mengasah kompetensi SDM demi mengukuhkan posisinya sebagai mitra strategis tepercaya bagi industri asuransi nasional.

Rekomendasi