Musim kemarau berdampak kesulitan air bersih di Desa Pejukutan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali, dan sebanyak 919 kepala keluarga (KK) di desa tersebut menghadapi kesulitan air bersih.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Klungkung, I Putu Widiada mengatakan, pihaknya bersama Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) dan PDAM Klungkung telah mendistribusikan atau menyalurkan bantuan air bersih ke Desa Pejukutan sejak Jumat (28/8).
"Distribusi bantuan air bersih (telah dilakukan) di Desa Pejukutan," kata Widiada, Senin (31/8).
Dalam tiga hari, sebanyak 38.000 liter air telah didistribusikan kepada warga yang berada di lingkungan atau banjar di Desa Pejukutan. Di antaranya, pada Jumat (28/8) sebanyak 14.000 liter air disalurkan ke Banjar Cemlagi.
Kemudian pada Sabtu (29/8) sebanyak 10.000 liter dikirim ke Banjar Pelilit. Sementara pada Minggu (30/8), distribusi kembali dilakukan ke Banjar Cemlagi sebanyak 14.000 liter.
"Air ditampung di sumur maupun penampungan yang sebelumnya telah dikoordinasikan dengan pemerintah desa," imbuhnya.
Sementara, distribusi dilakukan menggunakan dua mobil tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter, yakni armada Damkar dan BPBD Provinsi Bali, serta satu mobil tangki PDAM dengan kapasitas 4.000 liter.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Desa Pejukutan I Made Arsana Atmaja mengatakan, kekurangan air bersih terjadi di desanya setiap tahun ketika musim kemarau.
"Warga kami mengajukan permohonan bantuan. Warga di semua dusun kekurangan air bersih," kata Arsana.
Advertisement
Krisis Air Sejak Juni 2026
Ia mengungkapkan, Desa Pejukutan memiliki lima dusun dengan total 919 KK. Krisis air mulai terjadi sejak Juni dan diperkirakan berlangsung hingga Desember.
"Ada 919 KK. Kekurangan airnya setiap tahun ini. Setiap tahun kami kekurangan air kalau musim kemarau seperti ini," jelasnya.
Kondisi tersebut terjadi karena warga Pejukutan masih mengandalkan air hujan untuk memenuhi kebutuhan air.
"Tidak ada air sumur bor dari bawah. Kalau musim kering begini enggak ada hujan, otomatis kering," kata dia.
Selama ini, warga juga harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk air sebanyak 1.100 liter, warga harus membayar sekitar Rp 150.000. Pihaknya berharap bantuan air bersih dapat terus diberikan hingga musim kemarau berakhir pada Desember 2026.
"Kalau beli itu dari tahun ke tahun kemarin beli terus. Harapan kami di desa, kalau bisa dibantu sampai dengan bulan Desember. Untuk membantu meringankan beban masyarakat kami, khususnya dalam beli air," ujarnya. (*)