Laba BTN Melejit Jadi Rp2,4 Triliun, Ini Faktor Pendorong Utamanya

Poin krusial dari transformasi ini terletak pada keberanian BTN merambah ranah bisnis di luar pembiayaan KPR konvensional (beyond mortgage).

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Laba BTN Melejit Jadi Rp2,4 Triliun, Ini Faktor Pendorong Utamanya
<p>Gedung kantor Bank BTN. (dok: BTN)</p>

Langkah PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) memperluas fokus bisnisnya dinilai mulai membuahkan hasil nyata. Bank yang semula berfokus pada pembiayaan rumah (mortgage bank) ini kini ber transformasi menjadi penyedia ekosistem keuangan perumahan (housing financial ecosystem).

CEO The Finance Research, Eko B. Supriyanto, menilai keberhasilan transformasi ini tidak sekadar tercermin pada ekspansi bisnis dan digitalisasi semata. Perbaikan kinerja secara keseluruhan serta penguatan kualitas aset perseroan juga menjadi bukti konkret pendorongnya.

"Transformasi BTN sudah mulai terlihat hasilnya. Bukan hanya dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari perbaikan kualitas kredit dan penguatan fundamental," ujar Eko dikutip di Jakarta, Senin (31/8)

Capakian positif tersebut tecermin dari kinerja semester I-2026, di mana laba bersih konsolidasi BTN melejit 40,8 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp2,40 triliun. Pada kurun waktu yang sama, total aset perseroan telah menembus Rp545 triliun, didukung penyaluran kredit dan pembiayaan sebesar Rp418 triliun, serta penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp433 triliun.

Di sisi lain, kualitas pembiayaan BTN juga kian sehat. Tingkat kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) berhasil ditekan dari 3,3 persen menjadi 2,99 persen, sementara rasio biaya kredit (Cost of Credit) turun tajam dari 2,0% ke level 0,7 persen.

Eko menambahkan, poin krusial dari transformasi ini terletak pada keberanian BTN merambah ranah bisnis di luar pembiayaan KPR konvensional (beyond mortgage). Perseroan mulai merancang ekosistem terpadu yang mendampingi kebutuhan finansial nasabah, mulai dari urusan kepemilikan rumah hingga kebutuhan keuangan harian lainnya.

"BTN tidak meninggalkan bisnis perumahan. Justru bisnis perumahan diperluas menjadi ekosistem. Bank tidak lagi hanya melihat nasabah sebagai debitur, tetapi sebagai bagian dari perjalanan hidup," katanya.

Akselerasi Layanan Digital

Pengembangan ekosistem ini disokong penuh oleh akselerasi layanan digital melalui aplikasi superapps Bale by BTN. Saat ini, aplikasi tersebut telah menggaet sekitar 4,5 juta pengguna, terhubung dengan 358 ribu merchant, 14 ribu developer, serta terintegrasi dengan 59 pemerintah daerah. Catatan aktivitas transaksinya pun melonjak hingga 2,63 miliar transaksi dengan total nilai mencapai Rp134 triliun.

Selain memperkuat ekosistem digital, BTN turut mengepakkan sayap bisnis di luar pembiayaan perumahan dengan mencaplok portofolio kredit pensiun milik SMBC Indonesia senilai hampir Rp20 triliun. Aksi korporasi ini dipandang kian memperkokoh kapasitas BTN dalam memfasilitasi kebutuhan finansial nasabah hingga memasuki masa purna tugas.

Meskipun diversifikasi bisnis terus berjalan, Eko mengingatkan agar BTN tidak mengendurkan komitmen utamanya sebagai penopang pembiayaan perumahan nasional. Pada semester I 2026, penyaluran kredit perumahan subsidi BTN tercatat tumbuh 8,1 persen menjadi Rp196,96 triliun, sementara realisasi Kredit Program Perumahan telah menyentuh Rp4,1 triliun.

"Kalau melihat perjalanannya, arahnya sudah benar dan hasilnya mulai terlihat. Tantangannya sekarang adalah menjaga momentum transformasi, meningkatkan kualitas layanan, dan memastikan ekosistem yang dibangun BTN terus memberikan nilai bagi masyarakat," pungkas Eko.

Rekomendasi