Serangan udara Israel di Gaza tengah pada Minggu (25/8/2026) menewaskan seorang bocah berusia empat tahun dan tiga warga Palestina lainnya. Serangan ini terjadi setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengancam akan meningkatkan serangan terkait dugaan peluncuran layang-layang kertas dari wilayah Gaza yang dilanda perang.
Menurut laporan Al Jazeera, serangan tersebut dimulai dengan penembakan rudal ke sebuah gudang di az-Zawayda, yang mengakibatkan bangunan tersebut hancur. Di sekitar Jalan Salah al-Din, serangan itu juga menewaskan Muhammad Abdel Salam Taha, bocah berusia empat tahun. Selain itu, serangan drone Israel menyasar wilayah selatan Khan Younis serta sebuah tenda yang menjadi tempat berlindung warga di Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Deir el-Balah, yang menyebabkan lebih banyak korban.
Seorang saksi mata, Abu Ahmed, menggambarkan keputusasaan warga akibat kekerasan yang terus berlangsung. "Tidak ada gencatan senjata; tidak ada apa-apa. Kami ingin solusi; kami ingin hidup dalam damai," ungkapnya.
Advertisement
Netanyahu Ancam Balasan Keras
Serangan mematikan ini terjadi di tengah peringatan dari sejumlah pakar Palestina dan Israel bahwa pemerintah Israel berusaha membangun krisis keamanan terkait mainan anak-anak untuk menggagalkan kesepakatan gencatan senjata. Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel, Katz, mengeluarkan pernyataan bersama yang mengancam pembalasan keras terkait dugaan penggunaan layang-layang, drone, dan balon sebagai alat serangan.
"Tidak akan ada kembali ke situasi sebelum 7 Oktober [2023]," demikian pernyataan mereka. Mereka juga menegaskan bahwa Israel tidak akan membiarkan Hamas atau kelompok lain di Gaza mengancam komunitas mereka.
Ancaman ini muncul meskipun militer Israel mengakui bahwa layang-layang yang ditemukan tidak mengandung bahan peledak dan hanya diterbangkan oleh anak-anak. Pemeriksaan militer juga memastikan bahwa hanya ditemukan 10 layang-layang kertas yang tidak berbahaya.
Advertisement
Pakar Sebut Klaim Ancaman Drone Tak Berdasar
Analis politik Palestina, Hussam Shaheen, menilai klaim mengenai drone yang diluncurkan dari Gaza sebagai rekayasa. "Itu adalah klaim yang palsu dan tidak berdasar; tidak ada bukti yang menunjukkan adanya hubungan dengan drone," katanya.
Sementara itu, pakar urusan Israel, Adel Shadid, menegaskan bahwa ancaman tersebut sepenuhnya dibuat oleh media berbahasa Ibrani di bawah arahan aparat militer. "Sudah jelas ada niat untuk memanfaatkan dan menggunakan layang-layang kertas ini sebagai dalih," ujarnya.
Advertisement
Senjata Nuklir vs Layang-Layang Kertas
Para analis menyoroti kejanggalan dalam klaim Israel terkait mainan tersebut. Shaheen berpendapat bahwa layang-layang hanya menjadi alasan yang lemah untuk menghindari komitmen politik. "Tidak masuk akal bahwa sebuah negara yang mengklaim dirinya sebagai kekuatan besar dengan persenjataan nuklir menganggap layang-layang kertas yang diterbangkan seorang anak Palestina sebagai ancaman keamanan," tegasnya.
Ia juga mempertanyakan kemungkinan narasi tersebut secara logistik, mengingat 70 persen wilayah Jalur Gaza masih berada di bawah kendali tentara Israel. "Bagaimana mungkin seseorang berbicara tentang layang-layang kertas yang menembus seluruh wilayah ini dan menimbulkan ancaman keamanan?" tambahnya.