AS Luncurkan Kampanye Sanksi Ekonomi Terhadap Iran, Lima Sektor Vital Jadi Sasaran

Amerika Serikat meluncurkan kampanye sanksi ekonomi baru terhadap Iran, menargetkan lima sektor vital untuk memutuskan sumber pendapatan Teheran.

Septian Deny
Oleh Septian Deny - Reporter
AS Luncurkan Kampanye Sanksi Ekonomi Terhadap Iran, Lima Sektor Vital Jadi Sasaran
<p>Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent berbicara di Ruang Oval Gedung Putih, Jumat, 5 September 2025, di Washington, dalam sebuah acara bersama Presiden Donald Trump. (Foto AP/Alex Brandon)</p>

Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS), Scott Bessent, mengumumkan peluncuran kampanye tekanan ekonomi terhadap Iran dengan menargetkan kepentingan finansial Teheran di berbagai penjuru dunia. Dikutip dari Al Jazeera, pada Senin (25/8/2026), Bessent menyatakan bahwa AS akan membidik seluruh sumber pendapatan Iran, termasuk sektor minyak. Langkah ini bertujuan untuk mencegah negara dan perusahaan lain melakukan bisnis dengan Teheran.

“Di seluruh dunia, tujuan kami adalah memutus setiap jalur kehidupan ekonomi yang menopang rezim tirani ini sampai Teheran berdiri sendirian,” kata Bessent. Ia menegaskan bahwa negara-negara di dunia harus memilih antara AS dan Iran, menambahkan bahwa kampanye baru ini juga akan membuat mitra dagang Teheran menghadapi ancaman sanksi sekunder. “Tidak ada seorang pun yang berada di luar jangkauan sanksi AS,” ujarnya.

Bessent menjelaskan bahwa jika negara dan entitas “memfasilitasi transaksi dan menjadi bagian dari ekosistem yang mengubah minyak Iran menjadi uang, mereka akan menjadi target.” Meskipun AS mengumumkan gelombang sanksi baru terhadap Iran, kampanye tersebut belum menyasar lembaga ekonomi internasional besar yang berhubungan dengan negara itu. Ia menyebut langkah ini sebagai peringatan keras bagi negara dan perusahaan di seluruh dunia.

Kampanye Tekanan Ekonomi di Tengah Perang

Kampanye tekanan ekonomi ini dilakukan hampir enam bulan setelah perang dengan Iran berlangsung. AS dan Israel sebelumnya melancarkan serangan terhadap Iran tanpa provokasi langsung, yang mengakibatkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta sejumlah pejabat tinggi lainnya. Namun, serangan tersebut gagal menggulingkan sistem pemerintahan di Teheran.

Iran merespons serangan AS dan Israel dengan melancarkan serangan rudal dan drone di berbagai wilayah kawasan. Teheran juga mengambil kendali atas Selat Hormuz, jalur utama energi global, yang menyebabkan lonjakan harga minyak dan gas. Berbagai putaran pertempuran dan diplomasi belum berhasil menyelesaikan krisis tersebut.

Sanksi yang diumumkan pada Senin menjadi upaya terbaru AS untuk menekan Iran agar memberikan konsesi besar, termasuk menyerahkan program nuklirnya dan menghentikan serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz. Meskipun AS telah mengumumkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran pada April, Iran tetap menentang tekanan tersebut meskipun menghadapi pengepungan angkatan laut.

Lima Jalur Ekonomi Iran Jadi Target

Bessent menyatakan bahwa Presiden AS, Donald Trump, telah menelepon para pemimpin dunia “dengan permintaan khusus untuk menghentikan interaksi mereka dengan rezim tersebut.” Ia menegaskan, “Mereka yang berdiri bersama Amerika Serikat akan menuai manfaat dari kemitraan kami. Mereka yang mengikatkan diri dengan rezim Iran harus siap berbagi dalam isolasi.”

Pejabat AS mengungkapkan bahwa sanksi baru akan menargetkan lima jalur kehidupan paling vital Iran, yaitu aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan pelayaran. Departemen Keuangan AS juga menjatuhkan sanksi baru terhadap 60 entitas, kapal, dan individu di berbagai negara, termasuk Uni Emirat Arab, Hong Kong, China, Singapura, dan Swiss, yang dituduh memungkinkan “kecerobohan rezim Iran.”

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menanggapi tekanan AS dengan menegaskan bahwa sanksi ekonomi terhadap Iran bukanlah hal baru. “Mereka tidak dapat memikirkan solusi lain dalam menghadapi rakyat Iran yang besar, sehingga mereka berulang kali mengajukan rencana lama yang sama,” kata Araghchi.

Kepala Pentagon, Pete Hegseth, pada Senin menyatakan bahwa Iran tidak akan mampu menghadapi tekanan ekonomi tersebut. Ia menekankan bahwa Teheran pada akhirnya “tidak punya pilihan” selain kembali ke meja perundingan untuk membahas program nuklirnya. AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada Februari ketika perundingan nuklir masih berlangsung.

Pemerintahan Trump kini mengandalkan sanksi ekonomi di tengah meredanya pertempuran setelah berbulan-bulan perang dan serangan sporadis. Hegseth tidak menutup kemungkinan AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran, dengan menyatakan, “Jika kami perlu menggunakan serangan kinetik, kami akan menggunakannya. Jika Iran cukup bodoh untuk bertindak berlebihan atau mengganggu militer Amerika, kami akan melakukan apa yang perlu kami lakukan. Namun tekanan ekonomi, kami tahu, paling menyakiti mereka saat ini.”

Rekomendasi