Terik matahari belum surut ketika tim gabungan bergerak menuju titik api di Cagar Alam Muara Kaman Sedulang, Desa Liang Buaya, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Vegetasi semak belukar dan rumpun bambu terbakar, mengancam kawasan konservasi yang menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati.
Tim patroli gabungan BKSDA Kalimantan Timur yang menemukan kebakaran segera bertindak. Manggala Agni, personel TNI, dan Masyarakat Mitra Polhut bahu-membahu menuju lokasi untuk memadamkan api.
Peralatan mekanis dioperasikan di tengah kondisi lapangan yang panas. Upaya tersebut berlangsung selama lebih dari tiga jam, mulai pukul 13.59 hingga 17.10 Wita. Sekitar satu hektare lahan yang terbakar akhirnya berhasil dipadamkan sepenuhnya.
Kepala BKSDA Kaltim M Ari Wibawanto mengatakan respons cepat menjadi kunci agar api tidak menjalar lebih luas.
"Kami langsung menerjunkan tim gabungan untuk memadamkan titik api demi menjaga keanekaragaman hayati nusantara," kata Ari di Samarinda, Selasa (25/8), demikian dikutip dari Antara.
Namun, padamnya api di Muara Kaman Sedulang bukan berarti tugas penjaga kawasan konservasi selesai. Di tempat lain, ancaman serupa masih mengintai.
Advertisement
Menerobos Malam
Di Cagar Alam Teluk Adang, Kabupaten Paser, personel BKSDA Kaltim bersama tim gabungan bahkan harus menerobos malam untuk mengendalikan kobaran api. Pemadaman terus dilakukan untuk memastikan api tidak meluas dan merusak ekosistem penting di kawasan tersebut.
Bagi para penjaga rimba, setiap titik api adalah perlombaan dengan waktu. Semakin cepat ditemukan dan dikendalikan, semakin besar peluang hutan dan habitat satwa liar terhindar dari kerusakan.
"Kewaspadaan tinggi mutlak diperlukan guna memastikan seluruh habitat satwa liar di dalam cagar alam kita benar-benar aman dari ancaman kemarau," ujar Ari.
Ancaman karhutla menjadi semakin serius ketika kondisi cuaca ekstrem dan kemarau membuat vegetasi lebih mudah terbakar. Karena itu, upaya menjaga kawasan konservasi tidak cukup hanya mengandalkan petugas di lapangan.
Pemerintah daerah mengajak masyarakat sekitar turut berperan dalam mencegah munculnya titik api. Aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran perlu dihindari, sementara laporan dini menjadi penting sebelum api berubah menjadi bencana yang lebih besar.
Di balik kobaran api yang berhasil dijinakkan, ada kerja senyap para penjaga kawasan konservasi yang terus bergerak, bahkan ketika malam tiba. Mereka bukan hanya memadamkan api, tetapi berupaya mempertahankan rumah bagi satwa liar dan menjaga hutan tetap hidup.
"Menjaga hutan berarti menyelamatkan masa depan bangsa," kata Ari.