Harga minyak mengalami penurunan pada Senin, 24 Agustus 2026, setelah Amerika Serikat (AS) meluncurkan kampanye sanksi terberat terhadap Iran. Penurunan ini terlihat pada harga minyak West Texas Intermediate (WTI) yang turun sekitar 2,5% menjadi US$ 84,89 per barel, sementara harga minyak Brent yang merupakan acuan internasional juga susut 2,5% menjadi US$ 92,06 per barel.
Pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana sanksi global yang berfokus pada Iran, dengan menekankan bahwa China tidak akan dikecualikan dari strategi ini, yang dinamakan “Operasi Pengucilan Ekonomi” (Operation Economic Outcast). Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menggambarkan langkah ini sebagai "D-Day ekonomi" dan menyebutnya sebagai "serangan finansial terbesar yang pernah dikerahkan terhadap pihak lawan."
Bessent menegaskan, "Mereka yang takut akan bahaya menentang Teheran sebaiknya tidak meremehkan konsekuensi dari menguji Washington," merujuk pada ibu kota Iran. Ia juga menyatakan bahwa Washington berniat untuk "meruntuhkan" Republik Islam tersebut dengan sanksi terberat dalam sejarah, seiring upaya pemerintahan Trump mendesak sekutu dan negara-negara lain untuk memutus hubungan ekonomi dengan Teheran.
Pengumuman ini muncul setelah ancaman Presiden Trump pekan lalu untuk meluncurkan "operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap negara mana pun" yang ditujukan kepada Iran. Trump juga memperingatkan adanya penalti finansial berat bagi negara-negara yang membantu Teheran menghindari sanksi, menyebut upaya tersebut sebagai "Perang Ekonomi dan Isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya."
Harga minyak WTI dan Brent sebelumnya sempat melonjak pekan lalu setelah pengumuman tersebut, yang menunjukkan bahwa para investor mungkin melakukan aksi ambil untung pada sesi perdagangan Senin. Iran pun menanggapi ancaman ini, dengan Korps Garda Revolusi Islam menyatakan bahwa Teheran memiliki cara untuk "menangkal dampak buruk dari perang musuh" dan dapat "dengan mudah menjalin hubungan ekonomi dengan berbagai negara," menurut laporan media pemerintah Iran.
Commonwealth Bank of Australia memperkirakan harga minyak akan tetap fluktuatif pada paruh kedua tahun ini. Hal ini disebabkan pasar yang mempertimbangkan apakah upaya Washington untuk mengisolasi Iran secara ekonomi akan berhasil dan bagaimana respons Teheran nantinya. "Belum jelas apakah kebijakan AS untuk mengisolasi Iran secara ekonomi akan terbukti efektif. Namun, jika langkah-langkah AS tersebut berhasil, kemampuan Iran untuk merespons melalui peningkatan kekerasan menjadi risiko yang perlu diperhitungkan oleh pasar energi," tulis CBA dalam sebuah catatan pada Senin.
CBA juga memperkirakan bahwa harga minyak mentah Brent akan diperdagangkan di kisaran US$ 70 hingga US$ 100 per barel pada paruh kedua 2026. Bank tersebut menyatakan bahwa harga bisa turun ke batas bawah kisaran itu jika arus minyak yang melewati Selat Hormuz pulih meskipun hanya sedikit, dengan estimasi bahwa volume sebesar 50% hingga 60% dari tingkat sebelum perang sudah cukup untuk memicu kembali ekspektasi akan terjadinya kelebihan pasokan di pasar global.