Babak Baru Kematian Bocah Hind Rajab, Israel Selidiki Peran Pasukan

Dua tahun setelah kematian Hind Rajab, militer Israel membuka penyelidikan kriminal usai mengakui menembaki kendaraan. Keluarga dan WCK merespons keras.

Septian Deny
Oleh Septian Deny - Reporter
Babak Baru Kematian Bocah Hind Rajab, Israel Selidiki Peran Pasukan
<p>Hind Rajab sedang meninggalkan kota dengan mobil bersama bibinya, pamannya dan tiga sepupunya pada saat itu (Keluarga Rajab).</p>

Lebih dari dua tahun setelah Hind Rajab tewas di Gaza, militer Israel mengumumkan penyelidikan kriminal atas kematian bocah 5 tahun itu. Dalam pernyataan Rabu waktu setempat, militer juga untuk pertama kalinya mengakui pasukannya "menembaki sebuah kendaraan yang mendekati mereka" pada hari kejadian. Menurut Al Jazeera, langkah ini diambil setelah gelombang investigasi jurnalistik yang menyoroti peran pasukan Israel dalam insiden tersebut.

Israel sebelumnya lama dituding bertanggung jawab. Pada awalnya militer menyangkal tentaranya berada di wilayah tempat Hind tewas. Pada Januari tahun ini, pejabat Israel menyebut kasus itu sedang ditinjau sebelum akhirnya diputuskan dinaikkan ke tahap penyelidikan pidana.

Militer menyatakan keputusan membuka penyelidikan diambil setelah meninjau temuan yang ada. Selain itu, ada dugaan kegagalan dalam koordinasi pergerakan ambulans Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS) pada malam tersebut. Israel juga sebelumnya mengakui pasukannya melakukan serangan terhadap "target teroris" di Gaza City pada hari yang sama.

Kronologi Penembakan Mobil Keluarga di Gaza City

Pada 29 Januari 2024 sekitar pukul 19.30 waktu setempat, Hind tewas akibat luka-luka setelah terjebak di dalam sebuah mobil yang dikelilingi jasad anggota keluarganya. Keluarga itu sebelumnya dipaksa mengungsi dari Gaza City, berusaha mengikuti perintah Israel untuk meninggalkan wilayah tersebut.

Dalam perjalanan, militer Israel menembakkan lebih dari 300 peluru ke mobil Kia hitam yang dikemudikan paman Hind. Sepupu Hind berusia 15 tahun, Layan, berada di dalam mobil dan sempat berbicara melalui telepon dengan pekerja PRCS sebelum akhirnya tewas.

Para pekerja PRCS berupaya menyelamatkan Hind namun disebut terhalang mencapai lokasi oleh pasukan Israel. Paramedis kemudian mengirim ambulans dan terus berkomunikasi melalui telepon dengan Hind sampai akhirnya sambungan terputus.

Investigasi Al Jazeera pada 2024 mengungkap sebuah tank Israel kemungkinan berada hanya sekitar 13 hingga 23 meter dari mobil, jarak yang dinilai memungkinkan melihat jelas warga sipil di dalam kendaraan. Kata-kata terakhir Hind melalui telepon tersebar luas di media sosial dan memicu kecaman internasional. Kisahnya kemudian diangkat menjadi film docu-drama yang meraih nominasi Oscar 2026 untuk kategori film internasional terbaik.

Skeptis terhadap Proses Israel, Seruan Penyelidikan Internasional

Hind Rajab Foundation menyatakan tidak percaya terhadap keputusan Israel membuka penyelidikan kriminal. Presiden yayasan, Dyab Abou JahJah, menilai berbagai kejahatan terhadap warga Palestina selama puluhan tahun jarang menghasilkan keadilan yang serius.

"Kami tidak mempercayai sistem peradilan Israel, bukan karena posisi ideologis, tetapi karena rekam jejaknya," kata Abou Jahjah kepada Al Jazeera.
"Dan dalam kasus khusus ini, sistem peradilan Israel secara keseluruhan selalu terlibat dalam kejahatan Israel," lanjutnya.

Nenek Hind, yang juga bernama Hind Rajab, mendesak adanya investigasi lintas negara. Ia menyampaikan pandangannya melalui sambungan telepon kepada kantor berita The Associated Press.

"Penyelidikan internasional diperlukan untuk mengungkap kebenaran dan meminta pertanggungjawaban semua pihak yang bertanggung jawab," katanya.
"Kami menyerukan keadilan, bukan hanya untuk Hind, tetapi untuk semua anak Gaza."

Reporter Al Jazeera Hani Mahmoud yang melaporkan dari Gaza menyebut keraguan serupa juga dirasakan warga setempat.

"Orang-orang di sini yang mendengar tentang penyelidikan tersebut skeptis bahwa penyelidikan itu akan membawa keadilan bagi Hind dan keluarganya," ujarnya.

Menurut catatan berbagai kelompok hak asasi, penyelidikan atas dugaan pelanggaran kriminal oleh tentara Israel terkait pembunuhan warga Palestina jarang berujung pada vonis.

Cakupan Penyelidikan dan Keputusan soal Serangan ke Relawan

Militer Israel mengatakan penyelidikan kriminal pertama terhadap perilaku tentaranya di Gaza akan mencakup kasus Hind dan keluarganya pada awal 2024, serta kematian 15 tenaga medis Palestina pada Maret 2025. Kedua insiden tersebut telah menyita perhatian internasional.

Keputusan diambil setelah militer meninjau 150 insiden terkait tindakan pasukan selama perang di Gaza. Namun Israel menyatakan tidak akan membuka penyelidikan kriminal terhadap tiga serangan lain yang menewaskan pekerja bantuan dari World Central Kitchen (WCK) dan Doctors Without Borders.

World Central Kitchen menolak keras keputusan itu. Organisasi ini menyampaikan sikapnya melalui laman resmi.

"Keputusan tersebut tidak sesuai dengan kebenaran sepenuhnya dan sangat menyinggung," tulis organisasi tersebut di situsnya.

WCK juga menyatakan Israel "tahu bahwa tim kami di Gaza tidak bersenjata" dan menilai penyelidikan militer mencampuradukkan waktu serta peristiwa yang berbeda, sehingga mengaburkan fakta dan mengalihkan kesalahan atas tindakan ilegal tentara Israel.

Pemerintah Australia pada Kamis memanggil duta besar Israel terkait keputusan tidak melanjutkan proses kriminal atas kematian pekerja WCK. Warga negara Australia, Zomi Frankcom, termasuk di antara para korban. Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong menyampaikan keberatan negaranya.

"jauh dari pertanggungjawaban yang kami harapkan," katanya.
Ia menambahkan bahwa Australia "marah" atas keputusan tersebut.

Pada April 2024, tujuh pekerja bantuan internasional dan seorang pengemudi Palestina tewas dalam tiga serangan udara Israel. Mereka menggunakan kendaraan bertanda jelas dan telah membagikan koordinat lokasi kepada militer Israel. Investigasi Al Jazeera menyimpulkan pembunuhan tersebut dilakukan secara sengaja, bertentangan dengan pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang sebelumnya menyebut penargetan itu "tidak disengaja".

Rekomendasi