Di Negara ini Bulan Puasa Tanpa Malam, Ternyata Begini Alasannya
Fenomena unik di salah satu negara Eropa yang memiliki waktu siang dan malam sama-sama 24 jam.
Seorang konten kreator memperlihatkan kesehariannya selama berpuasa di salah satu negara Eropa. Dalam video yang diunggahnya di kanal YouTube pribadinya, sang konten kreator memperlihatkan suasana negara tersebut saat bulan Ramadan.
Berbeda dengan di Indonesia, dirinya menceritakan keunikan negara tersebut yang memiliki waktu maghrib tanpa melewati malam. Alhasil ia harus berbuka puasa dengan kondisi langit yang masih cerah.
Lantas seperti apa momen selengkapnya? Dilansir dari YouTube Pemimpi07, Rabu (12/3) simak informasi berikut ini.
Fenomena Puasa Tanpa Malam
Konten kreator tersebut diketahui menetap di negara Swedia. Sebagai salah satu negara di Skandinavia, Swedia memiliki iklim yang unik dan menjadi tantangan bagi umat Islam yang tinggal di sana.
Menurut informasi, Swedia memiliki fenomena siang dan malam selama 24 jam.
"Selamat datang di Swedia di mana kamu dapat menemukan fenomena siang 24 jam dan juga malam 24 jam," ucap sang konten kreator.
Meski harus menghadapi iklim yang berbeda, ia tetap melaksanakan puasa dengan khusyuk dan menghabiskan waktu menjelang berbuka dengan menikmati pemandangan indah di kota.
Sebagai salah satu negara yang dikenal memiliki tata kota yang rapi, Swedia memiliki banyak taman yang dapat dinikmati oleh warganya di berbagai situasi.
Berbagai fasilitas pun dapat dimanfaatkan seperti kursi hingga meja. Taman di Swedia juga terbilang estetik, terbukti dengan dibuatkannya ornamen unik berupa patung yang jarang dijumpai di Indonesia.
"Di tengah perjalanan saya menemukan patung batu unik mirip dinosaurus leher panjang brachiosaurus," ucapnya.
Alasan Siang dan Malam 24 Jam
Sang konten kreator memberikan penjelasan terkait fenomena waktu siang dan malam yang sama-sama memiliki durasi waktu 24 jam. Menurut informasi, waktu tersebut dibedakan dari musimnya masing-masing.
"Teman-teman terkait siang 24 jam dan malam 24 jam di Swedia itu tidak selamanya. Malam 24 jam terjadi di puncak musim dingin, sedangkan siang 24 jam terjadi di puncak musim panas. Lamanya siang dan malam di Swedia itu selalu berubah signifikan," kata konten kreator.
Menurutnya perubahan waktu di Swedia bisa terjadi secara ekstrem dan tidak cuma berbeda menit atau jam saja.
"Tidak seperti di Indonesia tiap hari paling cuman beda beberapa menit aja di Swedia bisa sangat drastis perubahannya," sambungnya.
Penampakan Masjid Agung Swedia
Mayoritas masyarakat Swedia beragama Kristen. Namun ada sekitar 8,1% yang memeluk agama Islam.
Hal tersebut membuat pemerintah setempat mendirikan sebuah masjid yang disebut menjadi yang terbesar di Swedia.
"Ada kubah itu Masjid Agung yang ada di Swedia dan menjadi salah satu masjid terbesar di sini," ucapnya.
Swedia juga tidak banyak memiliki bangunan pencakar langit. Alhasil, kubah masjid agung dapat terlihat jelas dari berbagai sudut kota.
"Di sini jarang gedung pencakar langit karena tidak ada kebutuhan mendesak untuk membangunnya pertama dari jumlah penduduk dan kedua dari sisi lingkungan," tandasnya.
Berbeda dengan di Indonesia, di Swedia sangat jarang terdengar suara adzan. Biasanya suara adzan hanya dilakukan di dalam masjid.
"Meskipun dekat masjid di sini tidak ada suara adzan berkumandang, hanya terdengar di dalam masjid saja," tambahnya.
Umat Islam pun harus menyesuaikan dengan kondisi mereka masing-masing saat akan berbuka puasa. Menariknya, saat waktu berbuka puasa, langit di Swedia masih cerah dan terang.
"Ini udah Magrib sih cuma ya masih terang benderang kayak gini," sambungnya.