Bikin Video Suapi Siswi, Begini Nasib Guru di Sukabumi
Dinas Pendidikan tidak hanya melakukan pemeriksaan terhadap Ruslandi, tetapi juga memberikan perhatian khusus kepada siswa yang diduga menjadi korban.
Ruslandi, seorang guru di tingkat sekolah dasar (SD) di Kecamatan Sukalarang, Kabupaten Sukabumi, telah dinonaktifkan dari posisinya sebagai wali kelas. Keputusan ini diambil setelah ia mengunggah video yang menunjukkan dirinya menyuapi seorang siswi di akun TikTok.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, Deden Sumpena, mengonfirmasi bahwa penonaktifan ini merupakan langkah awal yang diambil selama proses pemeriksaan berlangsung.
"Sementara karena dia wali kelas, sehingga dia tidak difungsikan lagi jadi wali kelas 6," ungkap Deden saat memberikan keterangan pada Kamis (19/2/2026).
Deden juga menjelaskan bahwa Dinas Pendidikan tidak hanya akan memeriksa Ruslandi dari segi administrasi kepegawaian, tetapi juga memberikan perhatian khusus terhadap siswa yang diduga menjadi korban. Dalam upaya menangani aspek psikologis korban, Dinas Pendidikan berkoordinasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Sukabumi.
"Mengajarnya sementara masih dalam proses (evaluasi), karena kemarin baru kita melakukan pemeriksaan kepegawaian. Kita juga masih menunggu teman-teman dari DP3A yang sedang turun untuk melakukan pendampingan kepada diduga korban," tambahnya.
Sanksi Menunggu Hasil Investigasi
Terkait kemungkinan adanya sanksi yang berat atau pemecatan, Deden menyatakan bahwa pihaknya belum dapat mengambil keputusan akhir. Ia menekankan bahwa setiap bentuk hukuman perlu didasarkan pada hasil investigasi yang mendalam.
"Ya, karena statusnya kan kita belum menentukan hukuman seperti apa. Nanti (keputusannya) harus komprehensif," ungkapnya.
Minta Maaf
Ruslandi sebelumnya telah meminta maaf atas video yang menunjukkan dirinya menyuapi salah satu siswa di kelas. Konten tersebut diduga mengandung unsur child grooming dan telah menuai banyak kecaman di media sosial. Ruslandi mengakui kesalahannya dan menilai bahwa tindakannya mengunggah video bersama siswanya merupakan sebuah kesalahan yang serius.
Dalam klarifikasinya, ia dengan tulus menyampaikan penyesalan yang mendalam. Ia menyadari bahwa sebagai seorang pendidik, konten yang ia buat tidak hanya tidak memberikan nilai edukasi, tetapi juga berdampak negatif terhadap citra profesi guru secara keseluruhan.
"Sangat menyesal. Dari sisi keguruan, saya sebagai pendidik merasa itu tidak baik, kontennya tidak mendidik. Semuanya jadi terbawa-bawa, mencoreng nama baik guru," katanya pada Jumat (6/2/2026).
Alasan Buat Konten Suapi Siswi
Ruslandi menjelaskan bahwa konten yang ia buat sebelumnya dimaksudkan sebagai "terapi" untuk membantu meningkatkan rasa percaya diri siswinya yang pemalu. Meskipun ia mengklaim telah mendapatkan izin dari orang tua siswa, ia mengakui bahwa metode yang digunakannya sangat berisiko dan tidak sesuai.
Ia juga tidak membantah adanya unsur pencarian perhatian (clickbait) dalam unggahan tersebut. Namun, ia menyadari bahwa tindakan itu dilakukan tanpa mempertimbangkan aspek perlindungan anak secara matang.
“Mungkin itu salah satu kebodohan saya, ketidaktahuan saya bagaimana bermedia sosial yang baik. Saya asal post saja tanpa edukasi bagaimana membuat konten yang bagus,” tambahnya.
Akun Ditutup Secara Permanen
Akibat dari kontroversi ini, Ruslandi mengaku mengalami tekanan mental yang sangat berat setelah dituduh sebagai pedofil oleh ribuan pengguna media sosial. Menanggapi saran dari pihak sekolah, ia mengambil keputusan untuk menutup akun media sosialnya secara permanen demi meredakan situasi yang gaduh ini.
"Supaya mental saya membaik, sementara ditutup. Bahkan kepala sekolah menyarankan untuk menutupnya selamanya," jelasnya.
Ruslandi juga menegaskan bahwa video yang menjadi viral itu merupakan konten terakhir yang ia unggah, dan ia berkomitmen untuk menjadikan pengalaman ini sebagai pelajaran yang berharga bagi dirinya ke depannya.