Teori Ini Jelaskan Bumi Pernah Berwarna Ungu
Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Edward Schwieterman dari California University dan Prof. Shiladitya DasSarma dari Maryland University, didukung NASA.
Teori Purple Earth atau Bumi Ungu adalah sebuah hipotesis yang menarik perhatian banyak kalangan karena memberikan perspektif yang berbeda tentang perkembangan alam semesta dan planet kita.
Teori ini berbeda dari pandangan ilmiah lainnya, seperti teori heliosentris, dengan mengusulkan bahwa pada suatu waktu tertentu, bumi mungkin memiliki warna yang berbeda, yaitu ungu. Meskipun terdengar seperti spekulasi, teori ini memicu perdebatan yang menarik di kalangan ilmuwan.
Menurut laman Earth via Liputan6 yang dilansir pada Senin (24/2), teori Purple Earth menunjukkan bahwa organisme bersel tunggal mungkin menggunakan molekul yang lebih sederhana daripada klorofil untuk memanfaatkan sinar matahari.
Konsep ini telah diteliti oleh Dr. Edward Schwieterman, seorang ahli astrobiologi dari California University, Riverside, dan profesor Shiladitya DasSarma dari Maryland University. Penelitian yang didukung oleh NASA mengungkapkan bahwa retinal adalah molekul penting yang memberikan warna ungu cerah pada mikroba tersebut.
Klorofil, yang merupakan pigmen hijau, membuat tanaman, alga, dan beberapa bakteri tampak cerah, serta memungkinkan mereka mengubah sinar matahari menjadi energi melalui proses fotosintesis. Tanpa adanya klorofil, kehidupan di bumi tidak akan ada, karena klorofil merupakan langkah pertama dalam menghasilkan oksigen.
Molekul ini menyerap cahaya, khususnya dari spektrum biru dan merah, dan memantulkan warna hijau, sehingga daun tampak hijau. Molekul ini terletak dalam struktur kecil di dalam sel tanaman yang disebut kloroplas, tempat di mana proses fotosintesis berlangsung.
Meskipun tanaman modern sangat bergantung pada klorofil, mungkin saja klorofil bukanlah cara pertama yang digunakan oleh tanaman di bumi untuk melakukan fotosintesis. Retina yang lebih sederhana kemungkinan besar sudah ada di Bumi ketika kadar oksigen di atmosfer masih rendah.
Pada periode tersebut, yang dikenal sebagai era oksigen rendah dan langit berkabut, para ilmuwan percaya bahwa sinar matahari masih cukup melimpah untuk mendukung kehidupan mikroba ungu ini.
Skenario ini menggambarkan bumi yang sangat berbeda dari tampilan rimbun dan berdaun yang kita kenal sekarang. Banyak organisme purba ini termasuk dalam kelompok archaea, yang mampu bertahan di lingkungan yang tidak bersahabat bagi sebagian besar kehidupan lainnya.
Salah satu contoh penting dari organisme ini adalah halobacterium, mikroba ungu cerah yang dapat bertahan hidup di tempat-tempat asin seperti Great Salt Lake. Meskipun namanya halobacterium, mikroba ini sebenarnya bukan bakteri, melainkan archaeon yang melakukan fotosintesis dengan cara yang kurang umum.
Mikroba ini menyerap panjang gelombang hijau melalui retinal dan memantulkan warna merah dan biru, sehingga menghasilkan tampilan ungu yang mencolok. Seiring berjalannya waktu, organisme lain mulai mengembangkan pigmen yang lebih efisien, yaitu klorofil, yang memungkinkan tanaman untuk memanen sinar matahari pada panjang gelombang yang lebih kuat.
Pergeseran ini akhirnya mengalahkan pendekatan berbasis retinal dan membantu memicu "Peristiwa Oksigenasi Hebat," di mana kadar oksigen di atmosfer meningkat secara dramatis.
Meskipun kehidupan berbasis retinal tidak sepenuhnya hilang, mereka tidak lagi menjadi kekuatan dominan yang membentuk warna permukaan planet kita. Organisme yang menggunakan klorofil berkembang pesat, yang mengubah tampilan umum Bumi dari ungu menjadi hijau.
Ahli astrobiologi menduga bahwa eksoplanet mungkin masih memiliki makhluk yang bergantung pada retinal. Sinyal warna dari dunia-dunia yang jauh ini dapat memberikan petunjuk apakah ada kehidupan ungu sederhana di luar sana. Fotosintesis berbasis retinal yang awal mungkin telah memberikan dasar bagi evolusi pigmen yang lebih kompleks.
Sisa-sisa Teori Purple Earth
Bukti dari teori Purple Earth yang masih ada dapat ditemukan di Laut Mati. Area ini memancarkan cahaya ungu yang khas yang disebabkan oleh keberadaan halobacterium, mikroba yang sangat tahan terhadap kondisi lingkungan yang ekstrem.
Mikroba ini dapat bertahan hidup dalam tingkat garam yang tinggi, yang membuat banyak bentuk kehidupan lainnya tidak dapat bertahan.
Dengan melakukan penelitian di lokasi-lokasi ini, para ilmuwan dapat memahami bagaimana kehidupan ungu bisa bertahan di luar angkasa, di mana kondisi yang dihadapi sangat sulit. Pengetahuan ini sangat berharga untuk membantu ilmuwan dalam menyempurnakan sinyal yang mungkin mereka cari di eksoplanet.
Vegetasi yang ada saat ini menunjukkan tepi merah yang mencolok, dengan daun yang mampu menyerap cahaya merah secara efisien namun memantulkan panjang gelombang inframerah tertentu.
Di sisi lain, retinal diperkirakan akan menghasilkan jenis sidik jari spektral yang unik, yang memuncak di area hijau. Oleh karena itu, para ilmuwan mengusulkan perlunya instrumen yang mampu melacak rentang panjang gelombang yang lebih luas untuk mendeteksi tanda-tanda kehidupan tersebut.
Pendekatan ini sangat penting untuk memperluas pemahaman kita tentang kemungkinan bentuk kehidupan di planet-planet yang mengorbit bintang-bintang yang jauh.