Bumi Diprediksi Akan Kembali ke Zaman Es, Begini Penjelasan Ilmuwan
Bumi diklaim akan memasuki zaman es akibat ulah manusia.
Para ilmuwan telah lama mempelajari siklus glasial (zaman es) dan interglasial (periode hangat) yang dialami bumi selama jutaan tahun. Siklus ini dipengaruhi berbagai faktor astronomis, termasuk perubahan eksentrisitas orbit bumi, kemiringan sumbu rotasi, dan presesi sumbu rotasi.
Faktor-faktor ini dikenal sebagai siklus Milankovitch, yang memainkan peran utama dalam perubahan iklim jangka panjang di planet kita. Selama 1 juta tahun terakhir, bumi mengalami siklus glasial dan interglasial dengan periode yang bervariasi antara puluhan hingga ratusan ribu tahun.
Saat ini, kita berada dalam periode interglasial yang dimulai sekitar 10.000 tahun lalu, yang dikenal sebagai Holosen, seperti dilansir IFL Science. Periode ini ditandai dengan iklim yang relatif stabil, memungkinkan peradaban manusia berkembang pesat, termasuk perkembangan pertanian, teknologi, dan masyarakat modern.
Berdasarkan perubahan insolasi (radiasi Matahari yang masuk) di masa depan, periode interglasial ini diperkirakan akan berlanjut selama 30.000 hingga 50.000 tahun. Namun, aktivitas manusia, terutama emisi gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO₂), metana (CH₄), dan dinitrogen oksida (N₂O), telah mempengaruhi iklim bumi secara signifikan.
Gas-gas ini menangkap panas di atmosfer, meningkatkan efek rumah kaca, dan mempercepat pemanasan global. Sebelum era industrialisasi, konsentrasi CO₂ di atmosfer berkisar antara 180-280 ppm selama 800.000 tahun terakhir. Namun, dalam 100 tahun terakhir, konsentrasi CO₂ meningkat tajam, mencapai 416 ppm pada tahun 2022, dan terus meningkat hingga saat ini. Peningkatan ini salah satunya disebabkan pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, dan perubahan penggunaan lahan yang mengurangi kapasitas bumi dalam menyerap karbon.
Pemanasan Global
Peningkatan konsentrasi CO₂ ini berkontribusi pada pemanasan global, yang berdampak pada pencairan es di kutub dan gletser. Air lelehan tersebut mengalir dari kutub menuju khatulistiwa, mengubah bentuk planet dengan meratakan kutub dan membuatnya lebih menonjol di bagian tengah, sehingga memperlambat rotasi bumi.
Kendati perubahan ini terjadi dalam skala yang sangat kecil, hanya dalam hitungan milidetik per hari, dampaknya bisa terasa dalam jangka panjang terhadap sistem iklim dan geodinamika bumi. Selain itu, pemanasan global menyebabkan peningkatan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem, seperti gelombang panas, hujan lebat, badai yang lebih kuat, dan kekeringan yang berkepanjangan.
Hal ini menimbulkan berbagai dampak seperti naiknya permukaan air laut dan mengubah air laut menjadi lebih asam yang berakibat pada kehidupan ekosistem laut.
Perubahan yang disebabkan oleh aktivitas manusia ini menandai era baru yang disebut Anthropocene, di mana manusia menjadi kekuatan dominan yang mempengaruhi lingkungan dan proses geologis bumi. Bukti dari era ini termasuk peningkatan konsentrasi gas rumah kaca, perubahan penggunaan lahan secara masif, urbanisasi yang cepat, serta polusi plastik dan bahan kimia yang meninggalkan jejak dalam lapisan geologis bumi.
Beberapa ilmuwan menyatakan Anthropocene harus diakui sebagai sebuah periode geologi baru dalam sejarah bumi. Dengan mempertimbangkan semua faktor ini, dapat disimpulkan aktivitas manusia tidak hanya menunda kedatangan zaman es berikutnya tetapi juga menciptakan perubahan signifikan dalam sistem iklim bumi.