Studi Cisco ungkap Kurangnya Kesiapan Keamanan Siber di Indonesia
Hanya 11 persen perusahaan di Indonesia yang memiliki kesiapan menghadapi ancaman siber secara efektif.
Menurut Cybersecurity Readiness Index 2025 yang dirilis Cisco menyebut hanya 11 persen perusahaan di Indonesia yang memiliki kesiapan menghadapi ancaman siber secara efektif. Angka ini turun 1 persen di mana sebelumnya perusahaan di negara ini disebut telah siap.
"Kita melihat cybersecurity readiness ini maturity low. Ini cukup mengkhawatirkan," kata Marina Kacaribu, Managing Director Cisco Indonesia saat konferensi pers di Jakarta, Senin (26/5).
Disampaikannya, harus diakui bahwa perusahaan di Indonesia masih berusaha keras mengatasi kompleksitas yang muncul akibat artificial inteligence (AI). Permasalahannya jika tidak segera diatasi, bukan tidak mungkin kesiapan keamanan siber akan menjadi masalah.
"Kurangnya kesiapan keamanan siber di Indonesia mengkhawatirkan, karena 94% responden khawatir tidak bisa mengantisipasi gangguan bisnis dari insiden siber dalam 12–24 bulan ke depan," ungkap dia.
Untuk mengatasi tantangan keamanan saat ini, organisasi harus berinvestasi pada solusi yang digerakkan AI, menyederhanakan infrastruktur keamanan, dan mengadopsi sistem yang terintegrasi.
Memprioritaskan AI untuk deteksi, respon, dan pemulihan ancaman akan memperkuat ketahanan bisnis.
"AI memberikan banyak manfaat tetapi juga menambah kompleksitas dalam lanskap keamanan yang sudah memiliki tantangannya sendiri. Di tahun lalu, kami sudah melihat perusahaan di dunia, termasuk di Indonesia, terus berusaha mengatasi ancaman yang berkembang seperti meningkatnya shadow AI, kekurangan talenta dan infrastruktur keamanan yang rumit. Ini menegaskan kebutuhan akan pendekatan yang berbeda terhadap keamanan – yang tidak hanya memanfaatkan AI untuk keamanan namun juga memastikan AI itu sendiri aman dan scalable,” kata Marina.