Peneliti Temukan Warna Baru Bernama "Olo" yang Tak Pernah Dilihat Manusia
Dijuluki “Olo”, warna ini digambarkan sebagai hijau kebiruan.
Para ilmuwan dari University of California, Berkeley, baru saja memperkenalkan dunia pada warna baru yang belum pernah dilihat oleh manusia sebelumnya. Dijuluki “Olo”, warna ini digambarkan sebagai hijau kebiruan dengan kejenuhan warna yang belum pernah dicapai teknologi tampilan konvensional.
Warna tersebut dihasilkan bukan dari spektrum cahaya biasa, melainkan melalui pendekatan baru yang menargetkan sel fotoreseptor mata secara langsung. Dalam studi yang diterbitkan, para peneliti menyatakan: “Kami menamai warna baru ini ‘Olo’.”
Mengutip IFLScience, Senin (21/4), Olo muncul sebagai hasil dari teknik yang disebut Oz, yaitu metode stimulasi sel kerucut retina manusia menggunakan sinar laser terfokus. Dengan sistem ini, para peneliti mampu menyalakan satu jenis sel kerucut—dalam hal ini, sel M (medium-wavelength cone)—dan mengeliminasi sinyal dari sel lainnya, menghasilkan sensasi warna yang sangat jenuh dan belum pernah dijumpai sebelumnya.
“Subjek melaporkan bahwa olo tampak seperti hijau kebiruan dengan saturasi yang belum pernah mereka lihat, terutama jika dibandingkan dengan latar abu-abu netral,” tulis tim peneliti dalam studi mereka. Subjek juga menyebut warna itu mirip “teal”, “biru kehijauan”, dan “hijau agak biru”, meski tidak ada yang benar-benar cocok dengan sensasi yang mereka alami.
Metode ini berbeda dari pendekatan teknologi tampilan konvensional seperti monitor atau proyektor, yang menggabungkan spektrum merah, hijau, dan biru untuk menciptakan warna. Teknik Oz menggunakan prinsip spatial metamerism, yakni dengan mengatur distribusi cahaya secara spasial di retina alih-alih mencampur panjang gelombang cahaya.
“Ketika hanya sel M yang distimulasi, pengamat melaporkan bahwa mereka melihat warna hijau kebiruan yang luar biasa jenuh. Biasanya, cahaya terfokus akan mengenai beberapa sel kerucut sekaligus karena keterbatasan optik. Untuk menghindari ini, kami menggunakan teknologi adaptive optics seperti yang digunakan dalam astronomi,” ujar Dr Misha Corobyew, dosen senior Optometri dan Ilmu Penglihatan dari University of Auckland, yang tidak terlibat dalam studi.
Dalam eksperimen tersebut, para ilmuwan mencoba berbagai bentuk gelombang—seperti gelombang sinus, kotak, dan segitiga—pada frekuensi tertentu. Hasilnya menunjukkan bahwa gelombang sinus lebih efisien dalam menghasilkan efek warna olo. Respons yang dihasilkan pun tergantung pada kepadatan sel; pada beberapa sel, responnya justru berbalik tergantung jumlah sel yang terpapar.
Penelitian ini juga menyoroti bahwa bentuk-bentuk baru warna bisa memberikan dampak signifikan pada teknologi tampilan masa depan. Selain itu, eksperimen ini membuka peluang baru dalam pemahaman kita tentang persepsi warna dan cara otak manusia memproses informasi visual.
Penemuan ini bisa menjadi tonggak penting dalam bidang optik, neurosains, dan bahkan industri layar digital. Meski istilah "warna baru" masih menuai perdebatan, tidak diragukan lagi bahwa pengalaman visual terhadap Olo adalah sesuatu yang belum pernah dirasakan sebelumnya.