Kalau Hidup di Zamannya, Ahli Dinosaurus ini Pilih Dimakan T-rex Dibandingkan yang Lain
Ia punya alasan tersendiri mengapa memilih dimakan T-Rex dibandingkan jenis dinosaurus lainnya.
Steve Brusatte, ahli paleontolog vertebrata dan ahli evolusi Dinosaurus dari Universitas Edinburgh, Inggris, bercerita tentang fakta pada film Jurassic World Rebirth. Ia adalah konsultan ilmiah dalam film tersebut.
Menurutnya, perkembangan penemuan fosil dinosaurus 30 tahun terakhir ini mengubah gambaran bagaimana sesungguhnya bentuk binatang purba itu dalam film.
Dia bilang, sejak Jurassic Park tayang pada 1993, ilmu pengetahuan tentang dinosaurus berkembang pesat. Lebih dari seribu spesies baru ditemukan, teknik CT-scan, dan analisis molekuler mengubah pemahaman orang tentang cara mereka tumbuh, bergerak, berkembang biak, berburu, dan bersosialisasi.
“Kami sekarang tahu banyak dinosaurus memiliki bulu. Pada 1993 itu sesuai ilmu yang ada. Tapi tiga tahun kemudian di China, petani menemukan kerangka dinosaurus dengan bulu membatu di sekitarnya. Sejak itu banyak spesies berbulu ditemukan. Seperti Velociraptor sebenarnya punya bulu di lengan, nyaris seperti sayap,” ungkap dia dikutip dari LiveScience, Jumat (4/7).
Namun baginya, dari keseluruhan dinosaurus yang pernah hidup di Bumi, ia menyebut T-Rex adalah binatang purba yang paling seram. Tidak ada yang lebih menyeramkan dari T-Rex, kata dia.
“T-rex itu monster seukuran bus, dengan kepala sebesar bak mandi, gigi seperti paku rel kereta, dan bisa menghancurkan tulang mangsa. Ia juga pintar dengan otak besar untuk dinosaurus, serta indera penciuman dan penglihatan tajam. Tak ada yang lebih ganas,” terangnya.
Bahkan ia berseloroh saat ditanya LiveScience jika harus dimakan dinosaurus, dia akan memilih T-Rex. Pasalnya, dengan tampilan dan fisik T-Rex yang kuat, ia merasa akan lebih cepat tewas dibandingkan jenis yang lain.
“Karena itu akan cepat. Langsung dihancurkan dan ditelan,” ujarnya.
Terlepas itu, ia mengapresiasi dunia kreatif yang melibatkan ilmuwan untuk berkonsultasi merancang karya sesuai dengan fakta, terutama dalam film dinosaurus.
“Film sci-fi luar angkasa saja jarang pakai konsultan astrofisika. Karakter dinosaurus harus punya kepribadian, bisa bercerita, dramatis. Persis seperti biopik yang kadang melebih-lebihkan karakter tokoh aslinya,” ungkap dia.