Helikopter Ingenuity NASA Mengalami Kecelakaan, Ada Apa dengan Mars?
Misi Ingenuity NASA di Mars resmi berakhir setelah penerbangan ke-72. Ada kecelakaan pada helikopter itu.
Setelah hampir tiga tahun melakukan penerbangan epik di atmosfer tipis Mars, misi helikopter Ingenuity NASA resmi berakhir pada 18 Januari 2024.
Mengutip ScienceAlert, Jumat (13/12), meski direncanakan hanya terbang lima kali dalam 31 hari, Ingenuity berhasil mencetak rekor dengan 72 penerbangan, menjadikannya simbol keajaiban rekayasa teknologi.
Namun, penerbangan terakhir Ingenuity berakhir tragis ketika helikopter kecil ini mengalami kecelakaan fatal di wilayah kawah Jezero. Meskipun demikian, data dari penerbangan ini memberikan wawasan penting untuk eksplorasi Mars di masa depan.
Penerbangan Terakhir yang Memicu Investigasi
Ingenuity memulai penerbangan ke-72 dengan mulus. Helikopter ini terbang hingga ketinggian 12 meter, melayang selama 20 detik, dan mengambil beberapa foto.
Namun, saat mulai turun, komunikasi dengan rover Perseverance terputus sekitar 1 meter dari permukaan Mars.
Setelah komunikasi kembali terjalin, foto yang dikirimkan menunjukkan helikopter berada di tanah dengan rotor yang rusak parah.
Tim teknisi NASA dan AeroVironment melakukan investigasi untuk menemukan penyebab kecelakaan ini, mencatat bahwa ini adalah laporan kecelakaan pesawat pertama yang dilakukan di planet lain.
Penyebab Kecelakaan: Kekurangan Tekstur Permukaan
Helikopter Ingenuity menggunakan kamera yang menghadap ke bawah untuk memantau permukaan Mars. Kamera ini memproses 30 gambar per detik untuk menentukan kecepatan, posisi, dan arah helikopter berdasarkan fitur-fitur permukaan seperti bebatuan atau tekstur berkerikil.
Namun, wilayah berpasir di kawah Jezero tempat penerbangan terakhir berlangsung tidak memiliki cukup fitur permukaan untuk dilacak. Akibatnya, sistem navigasi tidak dapat menentukan kecepatan penurunan yang tepat, menyebabkan helikopter turun lebih cepat dari seharusnya.
Dampak keras pada permukaan Mars membuat helikopter miring dan memberikan tekanan besar pada keempat rotor, mematahkan masing-masing pada titik terlemah sekitar sepertiga dari ujungnya. Salah satu bilah rotor bahkan terlepas sepenuhnya, menyebabkan getaran berlebih dan memutus komunikasi.