Sutradara Upi Guava Ungkap Proses Produksi Eksperimental Film Fiksi Ilmiah Pelangi di Mars

Sutradara Upi Guava membeberkan detail proses produksi film fiksi ilmiah "Pelangi di Mars" yang penuh eksperimen, melibatkan teknologi canggih Extended Reality (XR) dan Unreal Engine untuk latar Planet Mars. Film ini diproyeksikan tayang pada tahun 2026.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Sutradara Upi Guava Ungkap Proses Produksi Eksperimental Film Fiksi Ilmiah Pelangi di Mars
Sutradara Upi Guava membeberkan detail proses produksi film fiksi ilmiah "Pelangi di Mars" yang penuh eksperimen, melibatkan teknologi canggih Extended Reality (XR) dan Unreal Engine untuk latar Planet Mars. Film ini diproyeksikan tayang pada tahun 2026. (AntaraNews)

Sutradara Upi Guava baru-baru ini membagikan detail menarik mengenai proses produksi film fiksi ilmiah terbarunya, "Pelangi di Mars". Proyek ambisius ini direncanakan akan tayang di bioskop pada tahun 2026, menjanjikan pengalaman sinematik yang berbeda.

Dalam sebuah konferensi pers yang diselenggarakan di Jakarta, Senin lalu, Upi Guava menjelaskan bahwa pembuatan film berlatar masa depan ini melibatkan alur kerja yang sangat kompleks. Prosesnya mengintegrasikan penggunaan teknologi Extended Reality (XR) secara ekstensif, menandai langkah maju dalam industri perfilman nasional.

Tim produksi juga memanfaatkan perangkat lunak canggih seperti Unreal Engine untuk menciptakan latar Planet Mars dalam bentuk tiga dimensi. Latar ini kemudian diproyeksikan ke layar LED, memungkinkan interaksi realistis antara para aktor dengan lingkungan Mars yang dibuat secara digital.

Proses produksi "Pelangi di Mars" sangat bergantung pada inovasi teknologi terkini untuk mewujudkan visi fiksi ilmiahnya. Penggunaan teknologi Extended Reality (XR) menjadi tulang punggung dalam menciptakan dunia Mars yang imersif dan meyakinkan bagi penonton.

Upi Guava menjelaskan bahwa pendekatan ini mirip dengan pengembangan video game modern. "Prosesnya sebenernya seperti bikin game. Lokasi Mars kita bikin seperti maps game Fortnite atau Roblox atau GTA gitu," kata Upi Guava, memberikan gambaran yang jelas mengenai skala dan detail yang diterapkan dalam pembuatan latar film.

Ia menambahkan, "Kita bikin planet Mars full. Kita bikin gedung-gedungnya, bikin ruangan-ruangan di situ. Nah, 3D itu yang kita proyeksikan ke background, ke LED." Pendekatan ini memungkinkan tim untuk dengan mudah memuat lokasi yang berbeda, menciptakan fleksibilitas yang luar biasa di lokasi syuting.

Selain XR dan Unreal Engine, "Pelangi di Mars" juga memanfaatkan teknologi Motion Capture untuk mempercepat proses animasi. Teknologi ini digunakan untuk merekam gerakan robot-robot seperti Batik, Kimchi, Yoman, dan Petya (Rusia), yang menjadi bagian penting dari narasi film.

Produser Dendy Reynando mengakui bahwa tim produksi menghadapi tantangan besar dalam menggarap film fiksi ilmiah sekompleks ini. Ia menyatakan bahwa tim sangat bergantung pada pengetahuan dan pengalaman Upi Guava, mengingat belum pernah ada proyek serupa yang memiliki kerumitan setinggi "Pelangi di Mars" sebelumnya.

Penggunaan teknologi canggih ini bukan hanya untuk estetika, tetapi juga untuk mendukung penyampaian narasi "Pelangi di Mars" secara lebih efektif. Setiap elemen teknologi dipilih untuk memperkuat cerita dan membawa penonton lebih dalam ke dunia yang dibangun.

Film "Pelangi di Mars" mengisahkan tentang Pelangi, seorang anak perempuan yang memiliki status unik sebagai manusia pertama yang lahir dan tumbuh besar di Planet Mars. Cerita ini juga mengeksplorasi konflik-konflik yang dihadapi oleh koloni manusia di planet merah tersebut.

Penulis skenario Alim Sudio menempatkan latar waktu cerita pada tahun 2090. Upi Guava menjelaskan konteksnya, "Dunia yang dibangun di film ini kan secara background itu 2090. Jadi, ini adalah dunia yang tidak kita inginkan." Ini merujuk pada kondisi Bumi yang tidak lagi layak huni akibat keputusan-keputusan manusia yang salah, mendorong pembentukan koloni di Mars.

Penggarapan film "Pelangi di Mars" juga mendapatkan dukungan penuh dari PT Produksi Film Negara (Persero). Direktur Utama PFN, Riefian Fajarsyah atau Ifan Seventeen, menyatakan komitmen perusahaannya dalam mendukung proses produksi, pemasaran, hingga distribusi film ini.

Film "Pelangi di Mars" akan dibintangi oleh sejumlah aktor ternama, antara lain Messi Gusti sebagai Pelangi, Lutesha sebagai Pratiwi, dan Rio Dewanto sebagai Banyu, menjanjikan penampilan akting yang kuat di tengah latar fiksi ilmiah yang megah.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi