Studi terbaru dari Keck School of Medicine, University of Southern California (USC), mengungkap ancaman kesehatan serius bagi astronot dalam misi ke Mars.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa partikel debu halus di permukaan Mars bersifat toksik dan dapat menyebabkan kerusakan paru-paru yang parah dan berpotensi permanen.
Mengutip DailyGalaxy, Rabu (9/4), debu Mars diketahui mengandung partikel ultra-halus yang sangat reaktif secara kimia. Partikel tersebut terdiri dari silika, besi dari batuan basalt, dan nanofase besi yang mampu menembus jaringan paru-paru manusia secara mendalam.
Menurut Dr. Justin L. Wang, penulis utama studi ini, paparan jangka panjang terhadap debu ini dapat memicu penyakit pernapasan serius yang belum tentu dapat diatasi dengan pengobatan biasa.
Ancaman semakin besar karena Mars kerap mengalami badai debu besar yang dapat berlangsung selama berminggu-minggu dan meliputi seluruh planet.
Badai ini tak hanya mengganggu perangkat elektronik seperti yang terjadi pada rover Opportunity NASA pada 2018, tetapi juga meningkatkan risiko kesehatan akibat paparan partikel udara yang tidak terlihat namun sangat berbahaya.
Studi juga mengacu pada pengalaman astronaut dalam misi Apollo yang mengalami iritasi akibat debu bulan. Namun, debu di Mars memiliki zat tambahan yang lebih beracun, seperti perchlorates, gypsum, serta logam berat seperti arsenik, kadmium, dan kromium—seluruhnya bisa berdampak buruk bagi kesehatan manusia.
Penanganan risiko kesehatan ini semakin rumit mengingat keterbatasan fasilitas medis di luar angkasa. Misi ke Mars diperkirakan akan berlangsung selama tiga tahun, dan astronaut akan menghadapi tantangan besar berupa paparan berkelanjutan terhadap debu beracun, gravitasi rendah, serta radiasi tinggi yang menyertai perjalanan jauh di luar angkasa.
Penelitian ini menjadi peringatan keras bahwa eksplorasi Mars membutuhkan kesiapan lebih dari sekadar teknologi; perlindungan kesehatan astronaut harus menjadi prioritas utama sebelum manusia menginjakkan kaki di planet tetangga tersebut.