Ekspresi Steve Jobs Ejek BlackBerry Saat Perkenalkan iPhone Pertama Kali
Steve Job pernah mengatakan hal itu ketika perkenalkan iPhone pertama kali 2007.
iPhone 17 resmi dirilis Apple dini hari tadi, Rabu (10/9). Jauh sebelum itu, saat Steve Jobs masih hidup, ada cerita menarik kala ia memperkenalkan iPhone pertama kali.
Pagi 9 Januari 2007, jadi momen berharga seorang Steve Jobs. Bagaimana tidak, ribuan pasang mata menatap panggung di Moscone Center, San Francisco, dengan penuh antusias ke pendiri Apple itu.
Di atas panggung megah, Steve Jobs tampil dengan gaya khasnya: kaus hitam, celana jeans, dan sneakers. Hari itu, ia akan memperkenalkan sebuah produk baru Apple yang disebut-sebut bakal merevolusi dunia ponsel.
Alih-alih blak-blakan memperkenalkan produk barunya, Jobs mengajukan pertanyaan besar kepada audiens. Pertanyaan sederhana tapi terkait dengan aktivitas penggunaan ponsel.
"Bagaimana seharusnya manusia berinteraksi dengan perangkat layar sentuh?" ungkapnya.
Pertanyaan yang ia ajukan ini muncul bukan tanpa sebab. Saat itu, pasar smartphone dikuasai perangkat dengan pena digital atau stylus, seperti BlackBerry, Palm Treo, hingga Windows Mobile.
Namun menurutnya itu justru tak canggih. Meski stylus dianggap alat modern untuk mengetik, menggambar, dan menavigasi menu.
Jobs kemudian terdiam sejenak, lalu dengan ekspresi setengah mengejek berkata:
“Oh, stylus? Kita akan memakai stylus? Tidak. Siapa yang mau pakai stylus? Kamu harus mengambilnya, menyimpannya, dan bisa saja hilang. Jijik! Tidak ada yang mau stylus".
Mengutip Engadget, Ucapan itu langsung disambut tawa dan tepuk tangan riuh dari para hadirin. Pernyataannya itu secara tidak langsung, ia baru menolak simbol modernitas kala itu: pena digital.
Mengapa Jobs Menolak?
Bagi Jobs, stylus bukanlah solusi, melainkan masalah baru. Pena digital bisa hilang, merepotkan untuk disimpan, dan memaksa pengguna membawa benda tambahan dalam kesehariannya. Ini bagi Jobs sungguh meyulitkan.
Bertolak belakang dengan filosofi Apple yang sederhana. Teknologi seharusnya membebaskan manusia, bukan membebani.
“Kita sudah lahir dengan perangkat penunjuk terbaik di dunia. Kita lahir dengan sepuluh di antaranya jari kita,” ujar Jobs sambil mengangkat tangannya.
Kalimat itu bukan sekadar candaan. Ia menandai pergeseran besar dalam desain perangkat digital: dari interaksi buatan dengan pena, menuju interaksi alami menggunakan sentuhan tangan.
Hanya dengan 'Cubitan'
Penolakan stylus juga bukan keputusan tanpa dasar teknologi. Apple sudah menyiapkan kartu andalan: layar multitouch.
Dengan teknologi ini, pengguna bisa memperbesar foto hanya dengan mencubit layar menggunakan dua jari (pinch-to-zoom), menggulir halaman dengan sapuan ringan, atau memindahkan ikon cukup dengan sentuhan sederhana.
Jobs menyebut multitouch sebagai teknologi yang “bekerja seperti sihir”. Ia begitu akurat, mampu membedakan sentuhan yang disengaja dengan yang tidak diinginkan, dan benar-benar mengubah cara orang berinteraksi dengan HP.