Ekor Kucing Ternyata Bisa Jadi Alat "Komunikasi"
Ekor itu terdiri dari 18 hingga 23 tulang kecil yang disebut vertebra kaudal.
Para ilmuwan menemukan bahwa ternyata kucing tidak hanya menggunakan ekornya untuk menjaga keseimbangan, tetapi juga sebagai bagian dari bahasa tubuh untuk mengekspresikan emosi.
Menurut penelitian, kucing mengandalkan mata, telinga, tubuh, dan ekor untuk menunjukkan rasa takut, marah, gembira, puas, dan rasa ingin tahu mereka. Seperti yang kita ketahui, ekor kucing sangatlah fleksibel, ekor itu terdiri dari 18 hingga 23 tulang kecil yang disebut vertebra kaudal.
Ketika kucing merasa emosional, otak mereka mengirimkan sinyal ke otot-otot di ekor melalui saraf pudendal.
"Komunikasi ini hampir terjadi seketika, memungkinkan kucing menggerakkan ekornya dengan cepat dan tepat," kata Reda Mohamed, dosen anatomi hewan di Fakultas Kedokteran Hewan, Washington State University College, kepada Live Science.
Mengutip dari Live Science, Selasa (10/12), ekor yang mengarah ke atas menandakan pendekatan yang ramah dan sosial, kata Mikel Delgado, ahli perilaku hewan di Universitas Purdue di Indiana.
Namun, ekor yang mengarah ke atas tidak bersifat universal. Studi doktoral tentang komunikasi pada kucing peliharaan dan kucing liar menemukan bahwa kucing liar, meskipun menunjukkan banyak perilaku sosial yang sama seperti kucing peliharaan, tidak menggunakan sinyal "ekor ke atas" dalam interaksi bersahabat.
Ini menunjukkan bahwa sinyal "ekor ke atas" berkembang selama proses domestikasi.Ekor yang bergetar sering menunjukkan kegembiraan, kata Delgado. Sementara itu, ekor yang mengembang biasanya merupakan respons terhadap ancaman, seperti melihat kucing lain di luar, dan diasumsikan sebagai upaya pertahanan diri untuk membuat diri mereka tampak lebih besar, menurutnya.
Reaksi ini mirip seperti manusia yang merinding ketika ketakutan.Manusia memiliki otot kecil yang disebut arrector pili di pangkal folikel rambut kita. Ketika kita takut, otot-otot ini akan berkontraksi, lalu rambut akan berdiri tegak.
Begitu juga dengan kucing, mereka memiliki otot yang sama di pangkal ekornya, dan ketika merasa terancam, otot-otot ini menyebabkan ekor mereka mengembang, membuat mereka tampak lebih besar dan menakutkan.
"Ekor yang diturunkan (ekor ke bawah) biasanya dikaitkan dengan rasa takut, karena kucing mencoba mengecilkan dirinya atau melindungi dirinya," kata Delgado.
Kucing yang ketakutan juga bisa menyembunyikan ekornya di bawah atau melilit tubuhnya. Jika kucing menepuk-nepukkan ekornya ke tanah atau menggerakkannya dengan cepat dari sisi ke sisi atau ke atas dan ke bawah, itu bisa jadi tanda bahwa mereka sedang marah.
Menafsirkan emosi kucing dari ekornya mungkin tampak sederhana, tetapi konteks juga penting. "Penting untuk diingat bahwa Anda tidak dapat mengetahui perasaan kucing hanya dengan melihat satu bagian tubuhnya," kata Delgado kepada Live Science.
Reporter magang: Nadya Nur Aulia