Duh, 30 Persen Pengguna Galaxy S25 Tak Pernah Pakai Fitur AI
Banyak fitur berbasis artificial intelligence (AI) yang dibenamkan di Galaxy S25 ternyata masih ada pengguna yang tak memanfaatkannya.
Sudah lebih dari satu tahun Samsung mengusung branding besar-besaran bahwa HP mereka bukan sekadar "smartphone", melainkan AI Phone.
Sejak peluncuran Galaxy AI pada awal 2024 lewat Galaxy S24, hingga berlanjut ke Galaxy S25, perusahaan asal Korea Selatan ini menanamkan berbagai fitur berbasis kecerdasan buatan seperti Live Translate, Writing Assist, hingga penghapus objek dan pembuat wallpaper generatif.
Namun, kenyataannya tidak semulus kampanye iklannya. Mengutip GizChina, Kamis (17/7), dalam sebuah siaran pers minggu ini, Samsung dengan jujur mengakui bahwa 30 persen pengguna Galaxy S25 tidak menggunakan fitur AI sama sekali.
Artinya, 30 persen pengguna mereka itu sejauh ini hanya menggunakan hal-hal dasar seperti menelepon, chatting, atau membuka media sosial.
Fitur Canggih, tapi Tidak Dipakai
Sebenarnya, alat-alat AI yang dibenamkan Samsung cukup mengesankan. Ada fitur Transcript Summarizer untuk meringkas catatan suara, Browsing Assistant yang bisa membacakan halaman web, hingga Drawing Suggestions dan Audio Eraser untuk menyunting hasil karya dengan lebih praktis.
Tapi mengapa banyak pengguna tetap tidak memanfaatkannya? Jawabannya bisa jadi karena banyak dari mereka tidak sadar fitur itu ada, atau bahkan sudah mencobanya sekali tapi merasa antarmukanya membingungkan, lalu tak pernah kembali lagi.
Samsung sendiri tidak menjelaskan alasan di balik angka 30 persen itu, apalagi memaparkan data demografi atau kebiasaan pengguna yang lebih spesifik.
Fitur AI yang paling banyak digunakan sejauh ini adalah Circle to Search—lebih dari separuh pengguna Galaxy S25 menggunakannya. Alasannya sederhana: fitur ini visual, intuitif, dan mudah dijelaskan. Cukup lingkari bagian layar, dan AI akan mencarikan jawabannya.
Fitur Photo Assist juga mencatatkan lonjakan penggunaan sejak Galaxy S24, sementara Now Brief—yang bisa meringkas konten panjang jadi ringkasan singkat—telah digunakan oleh sepertiga pengguna. Artinya, ada sebagian pengguna yang benar-benar merasakan manfaat AI, tapi hanya dari fitur yang paling mudah diakses.
Masalahnya bukan soal kualitas fitur, tapi kebiasaan pengguna. Banyak orang sudah terbiasa Googling manual, menerjemahkan lewat aplikasi terpisah, atau menyunting foto secara tradisional. Mengubah kebiasaan itu bukan hanya tantangan antarmuka, tapi juga tantangan psikologis.