HP Harga Rp1 Jutaan Bakal Dibekali AI di 2028
Teknologi AI generasi baru tidak hanya akan tersedia di ponsel premium, diproyeksikan ada di HP dengan harga sekitar Rp 1 juta pada 2028.
Teknologi kecerdasan buatan generatif (Generative AI/GenAI) tengah memasuki masa keemasan di industri smartphone. Berbagai fitur berbasis AI kini menjadi bagian penting dari pengalaman pengguna, terutama pada sektor kamera.
AI memungkinkan ponsel menghapus objek yang mengganggu, memperbaiki kualitas foto, serta menghasilkan gambar malam yang lebih cerah dan detail.
Di sisi lain, penggunaan asisten AI seperti Gemini dan ChatGPT juga terus melonjak, menandai perubahan perilaku pengguna yang semakin mengandalkan kecerdasan buatan untuk aktivitas sehari-hari.
Popularitas GenAI diperkirakan akan terus meluas. Tidak hanya tersedia pada perangkat premium, teknologi ini diprediksi bakal menjangkau smartphone dengan harga lebih terjangkau bahkan berada di bawah USD 100 atau sekitar Rp1 jutaan pada tahun 2028.
Proyeksi tersebut disampaikan oleh Research Associate Counterpoint, Ridwan Kusuma, dalam riset bertajuk Tren AI & Indonesia Smartphone Market Overview.
“Sekarang kita berada pada fase generative AI, bukan lagi AI generasi sebelumnya. Perkembangan AI di smartphone sedang berada di puncaknya,” ujar Ridwan saat menjadi pembicara di Indonesia Gadget Award 2025 yang digelar Gizmologi dan GadgetDiva di Jakarta, Kamis (13/11).
Ridwan menegaskan bahwa AI memang bukan teknologi baru, namun kemampuan dan skalanya saat ini telah berubah drastis dibandingkan beberapa tahun lalu.
“Investasi global di sektor AI sudah mencapai ribuan triliun rupiah. Di era GenAI, model yang dilatih bisa memahami bahasa, gambar, video, bahkan konteks personal pengguna,” jelasnya.
Menurut Ridwan, kematangan teknologi inilah yang membuat GenAI menjadi fitur paling banyak digunakan pada smartphone saat ini, sekaligus menjadi fondasi bagi inovasi yang akan datang.
Fitur AI Makin Penting
Menurut data global yang diproses oleh Counterpoint, penetrasi Gen AI di pasar smartphone mengalami perkembangan yang cukup pesat.
Pada tahun 2023, Gen AI hanya tersedia pada smartphone premium yang memiliki harga di atas USD 400 (sekitar Rp 6 juta). Namun, pada tahun 2024 hingga 2025, teknologi ini mulai merambah ke segmen menengah dengan harga berkisar antara USD 200 hingga USD 399 (Rp 3 juta hingga Rp 6 juta).
Di sisi lain, fitur Gen AI diprediksi akan mulai hadir di smartphone dengan harga di bawah USD 100 (sekitar Rp 1 juta) pada tahun 2028.
"Ekspansi Gen AI ke semua segmen harga ini dimungkinkan oleh pesatnya perkembangan ekosistem cloud AI. Cloud AI menurunkan biaya komputasi di smartphone, tapi tetap memberikan kapabilitas AI besar," kata Ridwan.
Negara Berkembang Jadi Motor Adopsi
Survei global yang dilakukan oleh Counterpoint juga mengungkapkan bahwa konsumen menyambut positif kehadiran AI karena beberapa alasan.
Di antaranya adalah meningkatkan efisiensi dan membantu pekerjaan, memperbaiki kualitas kamera, serta memberikan pengalaman yang lebih personal. Menariknya, negara-negara berkembang seperti Indonesia dan Thailand menunjukkan tingkat antusiasme yang paling tinggi dalam mengadopsi teknologi AI.
Hal ini menandakan bahwa masyarakat di negara-negara tersebut sangat terbuka terhadap inovasi yang dapat meningkatkan kualitas hidup mereka melalui teknologi.
Gen AI Dorong Perkembangan Pasar di Indonesia
Di pasar domestik, penerapan Gen AI menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan. Ridwan mengungkapkan bahwa pasar smartphone di Indonesia mengalami pertumbuhan sekitar 12% secara tahunan (Year-on-Year/YoY) pada kuartal ketiga tahun 2025.
Selain faktor adopsi Gen AI, pertumbuhan ini juga ditopang oleh semakin terjangkaunya smartphone 5G serta meningkatnya tingkat kepercayaan konsumen.
Meskipun segmen harga di bawah USD 200 masih mendominasi pasar Indonesia, segmen mid-range mulai menunjukkan tanda-tanda stabilitas.
Data dari Counterpoint menunjukkan bahwa penetrasi smartphone 5G di Indonesia telah mencapai 35%, yang berarti bahwa satu dari tiga smartphone yang beredar sudah mendukung jaringan generasi kelima.
Capaian ini menjadi landasan penting bagi pemanfaatan AI. "Ini penting untuk AI karena cloud AI membutuhkan koneksi cepat," tegas Ridwan.