Banyak Perusahaan Menyesal Pecat Karyawan Diganti AI Demi Efisiensi
Perusahaan merasa menyesal lantaran memecat karyawan dengan digantikan AI.
Seiring dengan percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI) di tempat kerja, banyak perusahaan mulai menyadari bahwa keputusan memecat karyawan demi efisiensi AI bukanlah langkah yang tepat. Mengapa?
Laporan terbaru dari firma analitik tenaga kerja Orgvue mengungkap bahwa 39% perusahaan telah memutuskan hubungan kerja dengan karyawan mereka karena AI, namun lebih dari setengahnya (55%) kini mengakui keputusan itu adalah sebuah kesalahan.
Laporan yang dirilis pada April 2025 itu melibatkan ratusan eksekutif di sektor perusahaan besar dari Amerika Serikat dan Inggris. Hasilnya, terungkap bahwa sebagian besar perusahaan terburu-buru dalam mengejar efisiensi AI tanpa memahami peran mana yang bisa digantikan dan bagaimana dampaknya terhadap struktur organisasi.
“Banyak pemimpin perusahaan tidak cukup memahami peran mana yang rentan otomatisasi. Mereka juga tidak tahu mana posisi yang seharusnya dipertahankan,” ungkap Chief Data Officer Orgvue, Rupert Morrison.
Tak hanya itu, 25% eksekutif mengaku tidak tahu peran mana yang dapat diautomasi, sementara 30% lainnya tidak bisa mengidentifikasi posisi yang paling berisiko akibat AI. Sebanyak 35% bahkan menyatakan mereka kurang memiliki kompetensi dalam memahami teknologi AI itu sendiri.
Situasi ini memperparah ketidakpastian di lingkungan kerja. Orgvue mencatat bahwa sekitar 34% pekerja memilih mengundurkan diri karena merasa cemas terhadap masa depan peran mereka yang digantikan AI. Sementara itu, 47% eksekutif juga khawatir terhadap penggunaan AI yang tidak terkendali oleh karyawan.
Kisah Nyata Penyesalan Perusahaan
Salah satu contoh nyata dari konsekuensi ketergesaan adalah perusahaan fintech asal Swedia, Klarna. Pada 2022, Klarna memecat sekitar 700 staf customer service, menggantinya dengan chatbot bertenaga AI.
Namun, perusahaan kemudian menyadari bahwa pengalaman pelanggan menurun drastis akibat hilangnya interaksi manusia.
Klarna akhirnya kembali merekrut staf manusia untuk memperbaiki pelayanan dan mengakui bahwa AI seharusnya digunakan untuk mendukung, bukan menggantikan, manusia sepenuhnya.
“Ini bukan soal menghentikan adopsi AI, tapi tentang bagaimana mengintegrasikan AI secara cerdas dan berkelanjutan,” tambah Morrison.