Bataviasche Nouvelles, Surat Kabar Pertama di Hindia Belanda yang Dicetak oleh VOC
Surat kabar pertama di Hindia Belanda itu berisikan iklan yang terbit seminggu sekali sebanyak 4 halaman yang seluruhnya ditulis tangan.
Surat kabar pertama di Hindia Belanda itu berisikan iklan yang terbit seminggu sekali sebanyak 4 halaman yang seluruhnya ditulis tangan.
Bataviasche Nouvelles, Surat Kabar Pertama di Hindia Belanda yang Dicetak oleh VOC
Surat kabar atau yang biasa dikenal dengan koran kini keberadaannya sudah mulai dilupakan. Bahkan tak sedikit perusahaan surat kabar ini yang harus gulung tikar karena tergerus zaman.
Di Indonesia, keberadaan surat kabar ternyata sudah ada sejak zaman Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).
Bataviasche Nouvelles en Politique Raissonnementen atau disingkat Bataviasche Nouvelles menjadi merupakan surat kabar pertama di Hindia Belanda (Indonesia) yang diterbitkan oleh VOC. Saudagar Jan Erdman yang menjadi sosok di balik beredarnya surat kabar ini sejak tahun 1744. (Foto: Wikipedia)
Mengutip dari berbagai sumber, isi konten tulisan yang ada di surat kabar Bataviasceh Nouvelles ini mayoritas adalah iklan. Ada pula beberapa terbitannya juga memuat aneka berita kapal dagang milik VOC.
Dengan rilisnya surat kabar ini, tak sedikit dari pihak Belanda yang tidak senang atau khawatir. Gubernur Jenderal VOC saat itu merasa khawatir dengan surat kabar yang menimbulkan kritik terhadap pemerintahannya.
Seperti apa perjalanan sejarah surat kabar berbahasa Belanda ini? Simak informasinya yang dirangkum merdeka.com berikut ini.
Asal-usul Nama
Penggunaan kata 'Bataviasche' pada surat kabar itu ada kemungkinan besar diambil dari kata 'Batavia' yang menjadi ibukota Hindia Belanda dan diterbitkan di sana.
Kata 'Bataviasche' sendiri merujuk pada sebutan orang-orang Batavia, orang yang hidup di dalamnya, atau mempunyai selera Batavia. Sementara kata 'Nouvelles' sendiri diambil dari bahasa Prancis yang artinya Novel. Sementara dalam bahasa Belanda, diartikan sebagai kebaruan dan semangat yang terdepan.
Awal berdirinya surat kabar ini memang menggunakan metode periklanan. Hal ini membuktikan jika berita-berita bisa dikemas seperti iklan. Kemudian, surat kabar tersebut bisa memajang iklan sebuah produk sebagai salah satu promosi.
Pembaca dari surat kabar ini mayoritas adalah orang-orang Belanda saja.
Bataviasche Nouvelles makin berkembang dan memuat kritik-kritik terhadap perbudakan di Batavia dan perilaku penjajah VOC saat itu.
Pada 20 Juni 1746, surat kabar ini kemudian diberedel. Versi lain menyebutkan, surat kabar ini diberedel karena atas kebijakan VOC yang dikhawatirkan tulisan-tulisan yang dimuat akan dimanfaatkan oleh para pesaing mereka di Eropa.
Terbit Kembali
Eksistensi surat kabar ini belum sirna. Tahun 1809, surat kabar ini terbit kembali oleh Verdu Nieuws dengan sistem surat kabar mingguan yang masih berisikan iklan saja. (Foto: Liputan6.com)
Bataviasche Nouvelles memang kembali bangkit, namun lingkupnya menjadi lebih sempit dan hanya seputar periklanan saja. Sampai-sampai orang Bumiputera dan Melayu menyebut surat kabar ini sebagai 'Surat Lelang'.
Pada zaman pemerintahan Daendels, surat kabar ini berubah nama menjadi Bataviasche Koloniale Courant yang mewajibkan para redaktur membayar pajak dan mendahulukan kepentingan pemerintahan.