Waspada Mainan Kosmetik Anak Disebut Mengandung Formalin, Ini Efek Buruknya Buat Kulit
Penggunaan produk tersebut secara terus-menerus dapat memicu iritasi, alergi, bahkan risiko jangka panjang pada kulit anak yang masih sensitif.
Dalam era di mana penggunaan kosmetik semakin meningkat di kalangan anak-anak, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kembali menyelenggarakan sebuah webinar edukatif dengan judul "Waspada Bahaya Mainan Kosmetik: Panduan Praktis bagi Orang Tua Memilih Kosmetik Anak". Acara yang dilaksanakan pada Senin, 21 Juli 2025, ini menjadi perhatian utama karena membahas isu penting tentang keamanan produk kosmetik yang digunakan oleh anak-anak.
Dihadiri oleh lebih dari 1.000 peserta dari berbagai latar belakang, kegiatan ini menunjukkan komitmen BPOM dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya kosmetik yang tidak sesuai standar. Dalam pemaparan yang disampaikan oleh para ahli dari BPOM, Kementerian Perindustrian, serta dokter spesialis kulit, terungkap fakta bahwa banyak produk kosmetik untuk anak yang beredar di pasaran masih mengandung bahan berbahaya.
Penggunaan produk tersebut secara berkelanjutan dapat menyebabkan iritasi, alergi, bahkan risiko jangka panjang bagi kulit anak yang masih sangat sensitif. Berikut ulasannya.
Webinar Edukasi BPOM untuk Mewaspadai Kosmetik Anak
Acara ini diselenggarakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama orang tua, tentang bahaya penggunaan kosmetik anak yang tidak aman. Kegiatan ini dilakukan secara hybrid di Aula Bhineka Tunggal Ika BPOM, dengan kehadiran 50 peserta secara langsung dan lebih dari 1.000 peserta secara daring dari berbagai latar belakang.
Deputi 2 BPOM, Mohamad Kashuri, menegaskan bahwa meskipun industri kosmetik anak mengalami perkembangan yang pesat, banyak produk yang mengandung bahan berbahaya seperti formalin. Zat ini dapat menimbulkan risiko tinggi jika digunakan secara berkelanjutan pada kulit anak yang masih sensitif.
Ia juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam memverifikasi keabsahan produk melalui izin edar BPOM, membeli dari toko resmi, serta melakukan uji tempel sebelum menggunakan produk secara penuh. Selain itu, masyarakat diimbau untuk memanfaatkan aplikasi BPOM Mobile guna memeriksa keaslian produk dan melaporkan produk yang mencurigakan.
Risiko Kosmetik Anak: Ancaman dari Zat Berbahaya
Dokter spesialis kulit dan kelamin, Fitria Agustina, menyatakan bahwa anak-anak di bawah enam tahun memiliki kulit yang lebih tipis dan belum sepenuhnya berkembang, sehingga mereka lebih rentan terhadap iritasi, infeksi, serta paparan zat-zat berbahaya seperti logam berat dan paraben. Di sisi lain, Miranti Rahayu dari Kementerian Perindustrian menekankan pentingnya penerapan standar produksi untuk melindungi konsumen. Ia menjelaskan bahwa terdapat tiga jenis standar industri kosmetik untuk anak, yaitu SNI, Spesifikasi Teknis (ST), dan Pedoman Tata Cara (PTC). Ketiga standar ini berfungsi untuk mengatur aspek keamanan serta legalitas produk dari sudut pandang teknis dan hukum.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) berharap bahwa kegiatan ini dapat mendorong para orang tua untuk lebih teliti dalam memilih produk kosmetik bagi anak-anak mereka. Selain itu, diharapkan juga dapat meningkatkan tanggung jawab para pelaku usaha dalam merancang dan memasarkan produk sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Edukasi kepada masyarakat akan terus ditingkatkan untuk menciptakan ekosistem perlindungan konsumen yang aman, sehat, dan berkelanjutan.
Efek Buruk Formalin dalam Mainan Kosmetik Anak untuk Kulit
Formalin adalah larutan air yang mengandung formaldehida (CAS 50000), yang merupakan pengawet kuat yang sebelumnya banyak dipakai dalam berbagai produk, termasuk kosmetik dan peralatan berbahan kayu. Menurut klasifikasi dari International Agency for Research on Cancer (IARC), formaldehida termasuk dalam kategori karsinogen kelompok 1 dan memiliki potensi tinggi untuk menyebabkan iritasi pada kulit serta gangguan pada sistem pernapasan.
Berdasarkan tinjauan yang dilakukan oleh Royal Society of Chemistry, anak-anak lebih rentan terhadap dampak formaldehida karena sistem pertahanan tubuh dan mekanisme detoksifikasi mereka belum sepenuhnya berkembang. Paparan zat ini selama masa pertumbuhan dapat mengakibatkan kerusakan permanen pada jaringan tubuh, termasuk kulit. Berikut adalah pembagian efek negatif formalin dalam kosmetik mainan anak yang perlu diketahui:
1. Menyebabkan Iritasi Kulit Akut
Formalin dikenal sebagai senyawa yang sangat reaktif terhadap jaringan kulit manusia, terutama kulit anak-anak yang masih sensitif. Kontak langsung dengan formalin atau formaldehida dapat memicu reaksi kulit seperti kemerahan, gatal, perih, dan bahkan melepuh. Menurut Agency for Toxic Substances and Disease Registry (ATSDR), formaldehida bersifat korosif ringan dan dapat menyebabkan luka bakar atau iritasi jika bersentuhan dengan jaringan lunak, termasuk kulit bayi dan anak yang lebih tipis dibandingkan orang dewasa.
Anak-anak sangat rentan karena mereka sering menyentuh wajah atau bagian tubuh lainnya tanpa sadar setelah menggunakan kosmetik mainan yang terkontaminasi. Produk seperti lipstik mainan atau eyeshadow yang memiliki aroma menarik dapat mendorong penggunaan berulang, sehingga memperpanjang durasi paparan terhadap zat berbahaya. Dalam studi yang diterbitkan oleh Royal Society of Chemistry, L. Zhang dan I. Rana menemukan bahwa iritasi dapat berkembang menjadi dermatitis serius jika paparan berlanjut tanpa penanganan yang tepat.
2. Memicu Dermatitis Alergi Kontak
Selain menyebabkan iritasi akut, formaldehida juga merupakan alergen yang kuat dan sering memicu reaksi alergi kulit berupa dermatitis kontak alergi. Reaksi ini dapat terjadi meskipun paparan dalam jumlah kecil dan berulang. American Contact Dermatitis Society mencatat bahwa formaldehida termasuk salah satu penyebab alergi kulit yang paling umum di dunia, bahkan masuk dalam kategori "top allergens" dalam uji tempel kulit (patch test) tahunan.
Dalam konteks anak-anak, reaksi alergi dapat berlangsung lebih lama dan lebih parah. Menurut Formaldehyde Fact Sheet dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sistem imun anak belum sepenuhnya berkembang, sehingga reaksi hipersensitivitas terhadap formaldehida lebih sulit untuk dikendalikan. Hal ini dapat menyebabkan ruam, rasa gatal, dan bercak merah muncul bahkan setelah kontak yang singkat, terutama jika kosmetik mainan tidak dicuci atau dibersihkan setelah digunakan.
3. Paparan Karsinogenik Jangka Panjang
Formaldehida termasuk dalam kategori Group 1 carcinogen yang ditetapkan oleh International Agency for Research on Cancer (IARC), yang berarti substansi ini terbukti dapat menyebabkan kanker pada manusia. Meskipun risiko lebih tinggi terjadi akibat paparan jangka panjang dan melalui inhalasi, kontak berulang pada kulit anak tetap menimbulkan kekhawatiran. Menurut IARC Monographs Volume 88, penggunaan formaldehida dalam produk konsumen harus diawasi secara ketat, terutama pada produk yang digunakan oleh kelompok rentan seperti anak-anak.
Kontak berulang meskipun dalam dosis kecil tetap dapat berkontribusi pada penumpukan paparan zat kimia dalam tubuh anak. Jika kosmetik mainan digunakan secara rutin—misalnya setiap akhir pekan atau saat bermain—efek kumulatif ini berpotensi meningkatkan risiko mutasi sel atau gangguan sistemik di masa depan. Oleh karena itu, organisasi seperti Environmental Working Group (EWG) sangat menganjurkan agar orang tua memeriksa kandungan bahan kimia berbahaya dalam produk anak dan menghindari formaldehida serta turunannya.
4. Bersifat Tersembunyi dan Sulit Terdeteksi di Label Produk
Salah satu bahaya utama dari formalin dalam kosmetik mainan adalah sifatnya yang tersembunyi. Banyak produk tidak mencantumkan "formaldehida" secara langsung, tetapi dalam bentuk formaldehyde-releasers seperti DMDM hydantoin, quaternium-15, atau imidazolidinyl urea. Menurut Campaign for Safe Cosmetics, bahan-bahan ini secara bertahap melepaskan formaldehida ke dalam produk selama digunakan, sehingga tetap menimbulkan risiko meskipun namanya tidak terlihat di label.
Kondisi ini menyulitkan orang tua untuk mengidentifikasi produk berbahaya hanya dengan membaca label. Anak-anak yang menggunakan kosmetik mainan secara berulang tanpa pengawasan dapat terpapar dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, BPOM dan berbagai organisasi kesehatan menyarankan masyarakat untuk menggunakan aplikasi cek produk resmi seperti BPOM Mobile guna memverifikasi keabsahan dan keamanan produk sebelum digunakan pada anak.