Tren lari Semakin Meningkat, Olahraga ini Dapat Kurangi Risiko Osteoporosis
Aktivitas seperti berjalan, berlari, dan mengikuti fun run dapat memperkuat tulang, menjaga keseimbangan pembentukan tulang.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, memberikan apresiasi terhadap meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan walking 5K, fun walk, dan fun run.
Kegiatan ini memiliki manfaat signifikan bagi kesehatan, termasuk kesehatan tulang. Nadia menjelaskan bahwa berjalan kaki dapat membantu menyeimbangkan proses pembentukan dan pengurangan massa tulang.
"Tulang kita tuh ada yang dibentuk, ada yang kemudian kalau kelebihan dibentuk, dia akan otomatis bisa ngurangin sendiri," ujarnya dalam press conference Anlene OsteoWalk dan OsteoRun 5K, Jakarta Pusat pada Minggu (16/11).
Proses keseimbangan massa tulang ini dapat dicapai jika seseorang rutin melakukan aktivitas berjalan atau berolahraga. Selain itu, kegiatan seperti berjalan kaki juga berperan dalam menyeimbangkan berat badan melalui mekanisme weight bearing, yang mana beban tubuh ditopang oleh tulang sehingga dapat merangsang penguatan tulang.
Dalam kesempatan yang sama, dokter spesialis rehabilitasi medis, Tirza Z. Tamin, menambahkan bahwa olahraga teratur seperti berjalan kaki dapat meningkatkan Bone Mineral Density (BMD).
"Bisa ini bisa meningkatkan BMD dan sebagainya. Dan, juga tergantung juga pada kecepatan. Ada kecepatan 4 km per jam itu sudah terbukti juga. Atau kan 120 langkah per menit itu bisa meningkatkan densitas tulang," jelasnya.
Lebih lanjut, aktivitas berjalan kaki juga berkontribusi dalam meningkatkan daya tahan kardiorespirasi, membantu penurunan berat badan, serta mengurangi dampak pada lutut, sehingga dapat memperlambat terjadinya osteoartritis.
Dengan demikian, keterlibatan dalam kegiatan fisik ini tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan tulang, tetapi juga untuk kesehatan secara keseluruhan.
Kurangnya aktivitas fisik tetap menjadi tantangan yang signifikan
Olahraga dan Aktivitas Fisik di Indonesia
Meskipun ada peningkatan dalam tren olahraga, Nadia menyatakan bahwa sekitar 95% penduduk Indonesia masih kurang melakukan aktivitas fisik. Angka ini mencakup kelompok usia di atas 18 tahun.
Menurut Nadia, fenomena seperti fun run dan walking 5K lebih sering terlihat di kota-kota besar. Untuk mendorong masyarakat agar lebih aktif, salah satu inisiatif yang terus dijalankan adalah kegiatan Car Free Day.
"Car Free Day itu kita ingin betul-betul diaktifkan lagi sampai ke kabupaten kota. Karena betul salah satu Car Free Day itu adalah salah satu membuat aktivitas olahraga dengan murah, dengan masyarakat dengan senang," kata Nadia.
Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam berolahraga, terutama di daerah yang belum terjangkau oleh kegiatan serupa. Dengan mengadakan Car Free Day, masyarakat diharapkan dapat menikmati aktivitas fisik dengan cara yang menyenangkan dan terjangkau.
Selain itu, kegiatan ini juga bisa menjadi ajang untuk mempererat hubungan antarwarga, sehingga menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan aktif. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan kesadaran akan pentingnya aktivitas fisik dapat meningkat di seluruh Indonesia.
Osteoporosis bukan hanya risiko bagi orang lanjut usia
Nadia menekankan bahwa risiko osteoporosis tidak hanya mengancam orang lanjut usia.
"Sebenarnya kalau dulu kan kita percaya 'Oh kalau tua itu cuma waktunya rapuh dan biasa' gitu ya kan. Nah sekarang ternyata bukan hanya usia lansia, tapi bahkan pada usia-usia muda pun kita lihat juga sudah ada yang mengalami kekurangan ataupun kerapuhan tulang ini," jelasnya.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk menyadari risiko ini agar mereka memahami bahwa perawatan tulang harus dimulai sejak usia muda.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan aktivitas fisik yang sesuai dan bermanfaat bagi kesehatan tulang.
Kekuatan tulang dipengaruhi oleh aktivitas yang dilakukan secara teratur
Dari perspektif medis olahraga, dokter spesialis kedokteran olahraga, Ade Tobing, mengungkapkan bahwa untuk mencegah osteoporosis, diperlukan keseimbangan antara pembentukan dan perombakan tulang. Proses pembentukan tulang dilakukan oleh osteoblas, sedangkan osteoklas bertanggung jawab atas perombakan tulang.
"Jadi harus ada keseimbangan itu," jelasnya pada kesempatan tersebut.
Aktivitas fisik seperti berjalan atau berlari dapat mendukung proses ini, karena memberikan tensile strength atau daya tarik-menarik antara otot dan tulang. Mekanisme ini sangat penting dalam menjaga kekuatan tulang.
Menurut Ade, olahraga yang bersifat weight bearing, seperti berjalan dan berlari, memberikan stimulus yang diperlukan agar tulang terus aktif dan mempertahankan kekuatannya.