Sungai Cisadane Tercemar Pestisida, Begini Cara Meminimalisir Dampaknya untuk Manusia
Fungsi utama pestisida adalah untuk melindungi tanaman pangan agar tetap optimal tanpa mengganggu kesehatan manusia atau lingkungan.
Keakaran melanda gudang penyimpanan bahan kimia pestisida di kompleks pergudangan Taman Tekno, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), dilandakebakaran pada Senin (9/2). Kebakaran gudang pestisida di kawasan Pergudangan Tangsel ternyata memberikan dampak yang luas bagi masyarakat.
Cairan pestisida mengalir tidak hanya mencemari Kali Jalantreng, tetapi juga mencemari Sungai Cisadane, yang menjadi sumber air baku PDAM untuk Kota dan Kabupaten Tangerang.
Sejak Selasa (10/2) pagi, warga Tangerang mulai merasakan dampak dari pencemaran air baku PDAM yang bersumber dari Sungai Cisadane.
Nur Azizah, seorang ibu rumah tangga berusia 55 tahun yang tinggal di kawasan Bencongan Indah, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, mengaku mencium aroma seperti minyak tanah dari kamar mandinya.
Ternyata, aroma tersebut berasal dari air bersih yang mengalir dari PDAM.
"Kaya minyak tanah aromanya, makanya saya enggak berani pakai. Pas lihat di berita, ternyata katanya karena kebakaran gudang pestisida, ya sudah kami enggak berani pakai, apalagi buat masak," kata Nur Azizah kepada wartawan.
Di grup WhatsApp, warga diimbau untuk tidak menggunakan air PDAM untuk keperluan memasak hingga dua hari ke depan. Sebagai alternatif, Nur Azizah memilih untuk meminta air tanah dari tetangganya untuk memasak.
Kondisi Air Sungai Cisadane
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH Kota Tangerang, Hendry Pratama Syahputra menyatakan bahwa berdasarkan hasil alat pemantau Indeks Kualitas Air (IKA) yang dimiliki DLH, hasilnya masih menunjukkan kondisi yang normal.
"Namun khusus untuk yang sumber pencemar pestisidanya ini, kita perlu uji kembali ke laboratorium. Tadi sih kita udah minta ke lab untuk membawa hasil sampel airnya, 2 sampai 5 hari baru kelihatan hasilnya untuk pencemaran jenis bahan kimianya atau adakah kandungan pestisidanya," kata Hendry.
Dia juga mengingatkan warga untuk tidak menggunakan air dari Sungai Cisadane secara langsung.
Hendry menekankan bahwa masyarakat sebaiknya tidak mengonsumsi ikan dari sungai tersebut, baik yang ditangkap baru-baru ini maupun beberapa hari ke depan.
Mengenal Pestisida
Dilansir dari Healthline, secara umum, pestisida adalah bahan kimia yang digunakan untuk mengendalikan organisme yang dianggap merugikan tanaman pangan, seperti serangga, gulma, dan jamur. Menurut Kementerian Pertanian Amerika Serikat (USDA) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA), pestisida dibatasi penggunaannya berdasarkan studi jangka panjang terhadap kesehatan manusia. Terdapat beberapa jenis pestisida yang umum digunakan, termasuk insektisida, herbisida, rodentisida, dan fungisida.
Fungsi utama pestisida adalah untuk melindungi tanaman pangan agar tetap optimal tanpa mengganggu kesehatan manusia atau lingkungan. Namun, seperti dikutip dari sebuah artikel di Healthline, "Pestisida bertujuan untuk menghancurkan hama tanpa berdampak negatif pada manusia dan lingkungan."
Sayangnya, pestisida bukanlah produk yang sempurna. Meskipun sudah mengalami peningkatan kualitas dari waktu ke waktu, bahan kimia ini tetap dapat memberikan dampak negatif baik terhadap kesehatan manusia maupun lingkungan. Keseimbangan antara kebutuhan akan pestisida dan dampak negatifnya menjadi persoalan yang perlu dicermati lebih lanjut.
Batasan Penggunaan dan Pengaturan Pestisida pada Makanan
Pestisida yang digunakan pada makanan diatur oleh berbagai organisasi internasional, seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan USDA. Mereka menetapkan batas aman residu pestisida pada makanan yang kita konsumsi sehari-hari. Batas ini ditentukan berdasarkan dosis yang dianggap aman dengan menambahkan margin keselamatan hingga 100–1.000 kali lebih rendah dari tingkat dosis minimum yang menyebabkan gejala paling ringan, dikenal dengan istilah “lowest observed adverse effect level” (LOAEL). Akan tetapi, terdapat kritik mengenai metode pengaturan ini. Penelitian yang dilakukan untuk mengukur keamanan pestisida kadang kala masih tidak cukup akurat atau hanya didasarkan pada studi yang didanai oleh industri, yang mungkin memiliki bias dalam penentuan toksisitas.
Selain itu, beberapa pestisida yang masih diperbolehkan untuk digunakan mengandung logam berat, seperti tembaga, yang dapat terakumulasi di dalam tubuh. Berdasarkan studi yang dilakukan pada 162 petani anggur, mereka ditemukan memiliki kadar logam berat hingga 2–4 kali lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Hal ini menjadi kekhawatiran tersendiri karena logam berat dapat menimbulkan dampak jangka panjang pada kesehatan manusia, terutama jika terpapar dalam jangka waktu lama.
Dampak Kesehatan Akibat Terpapar Pestisida
Paparan pestisida dalam dosis tinggi dapat berpotensi menyebabkan berbagai penyakit serius, seperti gangguan saraf dan penyakit kronis. Beberapa penelitian mengindikasikan bahwa paparan pestisida dapat meningkatkan risiko penyakit Parkinson dan mengubah gen tertentu yang terkait dengan perkembangan penyakit tersebut.
Sebuah tinjauan dari Healthline menunjukkan bahwa "paparan pestisida dapat dikaitkan dengan risiko Alzheimer yang lebih tinggi." Selain itu, paparan pestisida tertentu, seperti organofosfat, dapat meningkatkan risiko kanker hormonal, termasuk kanker payudara, tiroid, dan ovarium, terutama pada wanita yang sering terpapar pestisida.
Tidak hanya itu, pestisida juga dikaitkan dengan peningkatan risiko berbagai jenis kanker lainnya, seperti kanker prostat, paru-paru, dan hati. Meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memperjelas hubungan ini, ada bukti yang cukup kuat untuk menyimpulkan bahwa paparan pestisida dalam jangka panjang dapat berkontribusi terhadap perkembangan penyakit kanker.
Dampak Terhadap Anak-Anak
Anak-anak memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap dampak negatif pestisida karena tubuh mereka yang masih berkembang lebih rentan terhadap paparan zat beracun. Paparan pestisida pada anak-anak telah dikaitkan dengan berbagai kondisi serius, termasuk kanker, gangguan hiperaktif, dan autisme. Dalam salah satu penelitian, ditemukan bahwa anak-anak dengan kadar pestisida tertinggi dalam urine mereka memiliki peluang lebih besar hingga 50–90% untuk mengalami gangguan hiperaktif dibandingkan mereka yang memiliki kadar terendah.
Lebih lanjut, paparan pestisida saat prenatal atau selama masa kehamilan juga dikaitkan dengan risiko autisme yang lebih tinggi pada anak-anak. Meski ada juga penelitian yang tidak menemukan efek negatif pada anak-anak dari ibu dengan kadar pestisida yang lebih tinggi selama kehamilan, bukti yang ada menunjukkan bahwa risiko paparan ini tetap perlu diwaspadai.
Mengurangi Risiko Paparan Pestisida
Mengingat adanya risiko paparan pestisida, ada beberapa cara untuk meminimalkan residu pestisida pada makanan. Mencuci bahan pangan dengan air dapat mengurangi kadar pestisida hingga 60–70%. Memasak atau memproses makanan juga dapat menurunkan kadar pestisida pada bahan pangan. Namun, mencuci dan mengupas buah atau sayuran juga memiliki kekurangan, karena nutrisi yang terkandung dalam kulit buah atau sayur dapat ikut terbuang. Meski demikian, langkah-langkah sederhana ini dapat membantu kita untuk tetap mendapatkan manfaat nutrisi tanpa meningkatkan risiko paparan pestisida.
Selain itu, produk organik sering kali dianggap lebih aman dari segi residu pestisida sintetik. Akan tetapi, produk organik pun tidak sepenuhnya bebas dari pestisida, karena pertanian organik juga menggunakan pestisida alami atau biopestisida.
Sebuah studi menunjukkan bahwa "mengonsumsi produk organik menghasilkan kadar pestisida sintetik yang lebih rendah dalam tubuh." Namun, penting untuk dicatat bahwa biopestisida tidak selalu lebih aman daripada pestisida sintetik dan juga memiliki dampak negatif terhadap lingkungan.