Bayer Indonesia mengumumkan proyeksi peningkatan signifikan pada ekspor produk pestisida mereka. Perusahaan menargetkan kenaikan hingga 55 persen pada tahun 2026 mendatang. Peningkatan ini didorong oleh rencana perluasan kapasitas produksi di fasilitas Bayer Crop Science Site Surabaya, Jawa Timur.
Diyan Siswanto, HSE Lead Surabaya Site Bayer Crop Science Indonesia, menjelaskan strategi ambisius ini. Saat ini, sekitar 60 persen hasil produksi pabrik digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik. Sementara itu, 40 persen lainnya diekspor ke sejumlah negara di kawasan Asia dan Australia.
"Tahun depan ekspor diperkirakan meningkat hingga 55 persen tanpa mengurangi pasokan untuk kebutuhan lokal. Karena itu, perluasan kapasitas produksi tengah kami siapkan,” kata Diyan Siswanto di Surabaya, Jawa Timur, Rabu. Perusahaan berkomitmen menjaga keseimbangan antara pasar domestik dan internasional.
Advertisement
Advertisement
Proyeksi peningkatan ekspor pestisida Indonesia sebesar 55 persen ini menjadi fokus utama Bayer Indonesia. Langkah strategis ini bertujuan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam pasar global. Perluasan kapasitas produksi di Surabaya menjadi tulang punggung rencana jangka panjang ini.
Salah satu produk utama yang diproduksi di fasilitas Surabaya adalah fungisida berbahan aktif antrakol. Produk ini telah digunakan lebih dari enam dekade di berbagai negara. Fungisida ini juga telah menjadi salah satu produk andalan di kawasan Asia Pasifik.
"Fungisida ini menjadi tulang punggung perlindungan tanaman karena dibutuhkan pada semua kondisi cuaca, baik saat musim hujan, panas, maupun lembap,” ujar Diyan Siswanto. Keberadaan produk ini sangat vital untuk menjaga produktivitas pertanian. Fungisida tersebut berperan penting dalam menjaga kualitas hasil panen petani.
Advertisement
Advertisement
Selain memperkuat kinerja ekspor pestisida, fasilitas produksi Bayer Crop Science Surabaya juga menerapkan sistem energi terbarukan. Pabrik ini menggunakan pasokan listrik dari PLN yang bersumber dari panas bumi (geothermal). Inisiatif ini menunjukkan komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan.
Diyan Siswanto menambahkan bahwa penggunaan energi bersih tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan. Hal ini sejalan dengan upaya mendukung agenda nasional dalam transisi menuju industri hijau. Langkah ini juga berkontribusi pada pengurangan emisi karbon secara signifikan.
“Kami memastikan seluruh proses produksi berjalan efisien dan berkelanjutan,” tegasnya. Kombinasi antara peningkatan kapasitas ekspor dan penggunaan energi terbarukan ini diharapkan memberikan dampak positif. Ini akan memposisikan Indonesia sebagai pemain kunci dalam pertanian berkelanjutan.
Advertisement
Dengan demikian, industri pestisida diharapkan dapat berkontribusi terhadap kemandirian pangan nasional. Selain itu, langkah ini juga memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok pertanian kawasan Asia Pasifik. Inovasi ini menciptakan nilai tambah bagi sektor pertanian Indonesia.
Sumber: AntaraNews