Ketahui Apa Itu Cute Aggression, Penyebab Kita Gemas pada Bayi Hingga Ingin Menggigitnya
Rasa gemas pada bayi hingga ingin menggigitnya ini dikenal sebagai cute aggresion. Ketahui penyebab munculnya pikiran ini:
Pernahkah Anda melihat bayi yang lucu dan tiba-tiba merasa ingin mencubit atau bahkan menggigit pipi gemuknya? Jangan khawatir, Anda tidak sendirian. Fenomena ini dikenal sebagai cute aggression, sebuah respons emosional yang tampak kontradiktif namun sebenarnya memiliki tujuan tertentu dalam evolusi manusia.
Apa Itu Cute Aggression?
Dilansir dari Popular Mechaniscs, cute aggression adalah ekspresi dimorfik, yang berarti mengandung perasaan yang tampak bertentangan namun bekerja bersama. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Oriana Aragón, Ph.D., pada tahun 2013. Aragón, yang bekerja di Carl H. Lindner College of Business, University of Cincinnati, menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi ketika seseorang merasakan dorongan untuk "menyakiti" sesuatu yang dianggap sangat lucu, seperti bayi atau anak anjing, meskipun tidak pernah benar-benar melakukannya.
“Seorang wanita bercerita kepada saya bahwa ketika ia berusia sekitar 8 tahun, adik perempuannya lahir. Ia merasa cute aggression yang sangat kuat. Ia menggertakkan giginya begitu keras hingga bagian depan giginya patah!” kisah Aragón. Ini mungkin menjelaskan mengapa anak-anak sering kali gemas dan ingin memeluk boneka atau hewan peliharaan mereka dengan erat.
Mengapa Kita Merasakannya?
Salah satu poin penting tentang cute aggression adalah bahwa ini bukanlah dorongan yang sebenarnya. Orang tidak akan benar-benar menyakiti bayi atau hewan yang dianggap lucu. Justru, ketidaksesuaian antara pikiran instingtif yang tampak negatif dan kelembutan subjek yang lucu itulah yang memicu minat terhadap fenomena ini.
“Ekspresi dimorfik adalah ketika emosi Anda tidak sesuai dengan apa yang biasanya kita harapkan berdasarkan ekspresi emosional Anda,” jelas Aragón kepada Popular Mechanics. “Jadi, jika Anda melihat seseorang menangis karena bahagia, di luar konteks, orang mungkin mengira orang tersebut sedih. Namun dalam konteks tertentu, seperti saat menerima penghargaan atau bertemu orang yang dicintai setelah lama berpisah, air mata itu mudah diartikan sebagai representasi emosi positif.”
Persepsi Universal tentang Kelucuan
Peneliti telah berhasil mengidentifikasi konsep kelucuan seiring waktu. Ini merupakan bagian penting dari metode ilmiah, karena tanpa definisi atau kriteria yang jelas, kita tidak dapat memastikan bahwa orang merespons suatu gambar karena kelucuannya. Misalnya, kita tidak bisa menyusun serangkaian foto yang mewakili satu tipe romantis atau warna favorit seseorang. Namun, kelucuan tampaknya bersifat universal di antara manusia.
“Karakteristik fisik seperti bentuk bulat, mata besar yang terpisah lebar, pipi bulat, dagu kecil, dan bahkan versi miniatur dari sesuatu menciptakan ‘kelucuan’,” jelas Aragón, mengutip berbagai penelitian. “Fitur-fitur ini dapat membuat bayi manusia dan hewan bayi terlihat lucu, bahkan produk seperti mobil pun bisa terlihat lucu jika memiliki fitur-fitur tersebut.” Salah satu contohnya adalah mobil Volkswagen Beetle.
Aktivitas Otak saat Mengalami Cute Aggression
Katherine Meltzoff, Ph.D., seorang peneliti di University of California Riverside yang berspesialisasi dalam neurosains kognitif sosial, menyambut baik penelitian Aragón. Menurutnya, penelitian tersebut membuka peluang untuk studi lebih lanjut dari berbagai sudut pandang ilmiah. Pada tahun 2018, Meltzoff menerbitkan makalah tentang aktivitas otak selama respons emosional cute aggression.
Meltzoff menemukan bahwa saat mengalami cute aggression, aktivitas listrik otak, yang diukur dengan elektroensefalogram (EEG), mirip dengan pola yang terkait dengan “emotional salience” dan pemrosesan hadiah. Dengan kata lain, sesuatu yang dianggap emosional menonjol di otak, berbeda dari sekitarnya, dan otak mengalaminya sebagai sesuatu yang bermanfaat.
Manfaat Evolusioner dari Cute Aggression
Meskipun belum ada penjelasan evolusioner yang konkret untuk cute aggression, Meltzoff membagikan beberapa teori terkemuka. Beberapa percaya bahwa cute aggression mungkin berfungsi sebagai katup pelepas emosi yang luar biasa kuat terhadap sesuatu yang sangat lucu dan berharga. Ini memungkinkan orang untuk kembali ke urusan sehari-hari yang kurang lucu, seperti merawat bayi.
Teori lain adalah bahwa perasaan ini mengingatkan kita bahwa bayi dan hewan bayi harus diperlakukan dengan hati-hati. Fakta yang tak terbantahkan dengan cepat menggantikan pikiran awal “Saya ingin memeluknya!” karena melakukannya akan berbahaya. Dan justru karena absurdnya perasaan ini yang membuatnya begitu menarik bagi para peneliti. Tidak ada yang benar-benar melakukannya, jadi mengapa begitu banyak dari kita memikirkannya?
Aragón tertarik pada subjek ini karena kontradiksi yang ditimbulkannya. “Cute aggression terasa seperti emosi yang aneh, dan itu membuatnya semakin menarik,” katanya. Penelitiannya yang eklektik berfokus pada emosi dan komunikasi. Sementara itu, Meltzoff merasa terwakili saat pertama kali membaca studi Aragón tentang cute aggression. “Jujur, saya terkejut bahwa orang lain juga mengalami fenomena ini!” ujarnya. Saat ini, ia sedang mengerjakan penelitian baru tentang bagaimana anak-anak autis dan mereka dengan gangguan spektrum autisme (ASD) merespons stimulus lucu.
Dengan memahami cute aggression, kita tidak hanya bisa lebih memahami diri sendiri, tetapi juga menghargai kompleksitas emosi manusia yang luar biasa. Jadi, lain kali Anda merasa gemas ingin mencubit pipi bayi, ingatlah bahwa itu hanyalah cara otak Anda merespons kelucuan yang tak tertahankan.