IDAI Ungkap Kasus Cacingan Anak Sering Dianggap Sepele Padahal Berisiko
Cacingan masih sering diabaikan, bahkan WHO mengkategorikannya sebagai penyakit tropis yang terabaikan, atau yang dikenal sebagai Neglected Tropical Disease.
Cacingan masih menjadi masalah serius yang dihadapi anak-anak di Indonesia, meskipun banyak orang yang menganggapnya sepele.
Infeksi cacing ini dikenal sebagai penyakit tropis yang sering diabaikan, atau yang disebut sebagai Neglected Tropical Diseases oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
WHO melaporkan bahwa jumlah kasus cacingan di seluruh dunia mencapai lebih dari satu setengah miliar, dengan anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terhadap infeksi parasit ini.
Kasus infeksi cacing yang dialami oleh R (4), seorang anak dari Sukabumi, telah meningkatkan kesadaran publik mengenai seriusnya kondisi ini.
"Sebetulnya kejadiannya ada, kejadiannya banyak, tapi fokus pendanaan bukan hanya di Indonesia, di dunia (juga) tidak besar. Tidak ada suatu riset penelitian yang masif," ujar Dokter Riyadi, seorang Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropis IDAI.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun masalah ini nyata dan meluas, perhatian dan dukungan untuk penelitian serta penanganannya masih sangat kurang.
Hal ini menjadi tantangan besar bagi kesehatan anak-anak, dan perlu adanya upaya lebih untuk menangani infeksi cacingan secara efektif.
Kasus cacingan di Indonesia
Riyadi menyatakan bahwa sejak tahun 2017, pemerintah mulai menunjukkan kesadaran untuk menangani masalah cacingan melalui peluncuran peraturan Menteri Kesehatan.
Peraturan ini bertujuan untuk mencegah infeksi cacing, dan program tersebut berlandaskan pada inisiatif WHO yang dimulai pada tahun 2010.
Salah satu langkah yang diambil pemerintah adalah dengan melaksanakan program pemberian obat pencegahan massal cacingan (POPM).
Dari tahun 2017 hingga 2021, sebanyak 36,97 juta anak telah menerima POPM, yang menunjukkan komitmen pemerintah dalam mengatasi masalah ini.
Selama evaluasi program yang berlangsung selama empat tahun, ditemukan bahwa 66 kabupaten atau kota memiliki prevalensi cacingan di bawah lima persen, sementara 26 kabupaten atau kota lainnya mengalami prevalensi di atas 10 persen.
Riyadi juga menyoroti bahwa pemeriksaan kasus cacingan terkadang tidak akurat, yang menyebabkan hasil yang diperoleh sering kali tidak tepat.
"Yang jadi masalah adalah untuk menegakkannya. Untuk kecacingan ini perlu dilakukan pemeriksaan buang air besar. Nah, pemeriksaan ini harus tepat dilakukannya," ujarnya.
Hal ini menunjukkan pentingnya keakuratan dalam pemeriksaan untuk mendapatkan hasil yang valid dan dapat diandalkan dalam penanganan cacingan.
Usaha yang dilakukan pemerintah
Riyadi menjelaskan bahwa program pencegahan yang dimulai pada tahun 2017 telah diperkuat pada tahun 2019. Hal ini ditandai dengan keluarnya surat edaran untuk daerah-daerah yang memiliki angka stunting tinggi.
"Jadi sebetulnya sudah ada pemahaman dan awareness dari pemerintah kita bahwa kalau suatu wilayah memiliki angka anak-anak stunting yang tinggi, maka salah satu intervensi yang harus dilakukan selain pemberian nutrisi yang baik adalah kita harus waspada terhadap penyakit kronis yang bisa menyebbakan gangguan pertumbuhan, salah satunya kecacingan," ungkap Riyadi.
Dalam penjelasannya, Riyadi menambahkan bahwa program penanggulangan cacingan mencakup pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) kepada anak-anak berusia 1 hingga 12 tahun.
Program ini dilaksanakan dua kali dalam setahun dengan interval enam bulan. Ia juga menguraikan bahwa pemberian obat dibagi menjadi tiga kategori berdasarkan prevalensi, yaitu lebih dari 50 persen, antara 20 hingga 40 persen, dan di bawah 20 persen.
"Apabila angka kejadiannya lebih dari 50 persen kita berikan 2 kali, kecuali di daerah tersebut sudah mendapatkan pencegahan untuk filariasis, jadi cukup ekstra 1 kali," jelasnya.
Untuk daerah dengan prevalensi antara 20 hingga 50 persen, pemberian obat dilakukan satu kali dalam setahun.
Sedangkan untuk prevalensi di bawah 20 persen, pengobatan dilakukan secara selektif sesuai dengan kebutuhan. Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan dapat menurunkan angka kecacingan dan mendukung pertumbuhan anak yang sehat.