Hati-Hati: Infeksi Cacing Bisa Pengaruhi Paru-Paru, Cacing Keluar Saat Batuk
Jika kecacingan sudah mencapai paru-paru, gejala yang mungkin muncul antara lain adalah batuk, sesak napas, dan suara mengi.
Kecacingan, yang selama ini lebih dikenal sebagai masalah pada saluran pencernaan, ternyata juga dapat memengaruhi paru-paru. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Profesor Tjandra Yoga Aditama.
"Salah satu alat tubuh yang mungkin saja dapat mengalami akibat buruk dari penyakit akibat cacing (kecacingan) adalah paru-paru, walaupun yang utama dan lebih sering terjadi adalah gangguan di saluran cerna," katanya.
Dia mengatakan, jika kecacingan sudah mencapai paru-paru, gejala yang mungkin muncul antara lain adalah batuk, sesak napas, dan suara mengi.
"Kalau lebih berat dapat terjadi nyeri dada, batuk darah, batuk keluar cacing," dalam pernyataan tertulis dikutip dari Liputan6.com.
Meskipun demikian, kondisi tersebut tergolong jarang terjadi. Dia juga menjelaskan bahwa apabila kecacingan sampai ke paru, dapat timbul penyakit serius seperti pneumonia, efusi pleura (cairan di paru), dan pneumotoraks (paru yang kolaps).
"Lebih jarang lagi dapat terjadi keadaan yang disebut sindrom Loeffler, hipertensi paru, dan bahkan gagal napas dalam bentuk ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome)," tuturnya.
Cara Diagnosis Infeksi Cacing Berpengaruh pada Paru-Paru?
Untuk mengevaluasi dampak cacing pada paru-paru, dapat dilakukan pemeriksaan dahak serta bronkoskopi menggunakan teknik Bronchoalveolar Lavage (BAL).
Selain itu, pemeriksaan radiologi seperti rontgen toraks atau CT scan juga diperlukan, seperti yang dijelaskan oleh seorang pria yang menjabat sebagai Guru Besar Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Pengobatan Kecacingan yang Berdampak ke Paru
Tjandra menjelaskan bahwa pengobatan untuk kecacingan yang mempengaruhi paru-paru dilakukan dengan menggunakan obat antihelmintik, seperti albendazole, mebendazole, atau ivermectin.
Selain itu, pengobatan simptomatik akan diberikan sesuai dengan keluhan pasien, serta tindakan suportif lainnya akan dilakukan untuk mendukung proses penyembuhan.
Bocah Sukabumi Meninggal Akibat Infeksi Cacing
Seorang bocah berusia tiga tahun bernama Raya dari Sukabumi menjadi perhatian publik setelah dilaporkan meninggal dunia diduga akibat cacingan. Cacing gelang yang bersarang di tubuhnya telah menyebar ke organ-organ penting lainnya.
Ketua Tim Penanganan Keluhan di RSUD R Syamsudin SH, dokter Irfanugraha Triputra, menjelaskan bahwa cacing ascaris telah menyebar ke organ-organ vital seperti paru-paru dan otak.
"Cacingnya sudah banyak sekali di dalam pencernaan dan sudah berukuran besar-besar," ungkap Irfanugraha kepada wartawan pada Rabu, 20 Agustus 2025.
Raya Bocah Sukabumi Pernah Ditempatkan di PICU
Raya tumbuh dalam keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi. Ibunya merupakan seorang yang mengalami gangguan jiwa, sementara ayahnya menderita penyakit Tuberkulosis (TBC). Dalam situasi yang sulit ini, Raya pernah mendapatkan bantuan dari Rumah Teduh & Peaceful Land.
Namun, kondisi kesehatan Raya semakin memburuk sehingga tidak memungkinkan untuk ditolong lebih lanjut. Infestasi cacing telah menyebar dan bersarang di tubuhnya, bahkan hingga ke otaknya.
Pada tanggal 13 Juli 2025, Raya dijemput untuk dibawa ke rumah sakit oleh pihak Rumah Teduh. "Kami dapat berita dari kerabatnya Raya, mereka cuma bilang sakitnya sesak napas," kata Iin Achsien, pendiri Rumah Teduh & Peaceful Land, saat dikonfirmasi pada 19 Agustus 2025.
Relawan Rumah Teduh segera melakukan asesmen pada hari yang sama. Sayangnya, saat mereka tiba, Raya sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri. Penyakit cacingan akut yang diderita Raya baru terdeteksi setelah ia dibawa ke RSUD R Syamsudin.
"Kondisinya sudah drop, langsung dimintakan masuk ke PICU (Pediatric Intensive Care Unit)," ungkap Iin.
Namun, tim Rumah Teduh menghadapi kendala besar karena Raya tidak memiliki identitas. Pihak rumah sakit memberikan waktu 3x24 jam untuk mengurus BPJS PBI (Penerima Bantuan Iuran) agar biaya perawatan dapat ditanggung oleh pemerintah. Namun, proses birokrasi ternyata sangat rumit.
"Kita langsung ke Disdukcapil, diarahkan ke Dinas Sosial karena orang tuanya ada keterbelakangan mental. Dari sana diarahkan ke Dinas Kesehatan, dan akhirnya Dinas Kesehatan angkat tangan. Waktunya sudah habis 3 hari berturut-turut, tidak ada tanggapan apapun," ucap Iin, mengutip dari NewsLiputan6.com.