Analisis Eks Direktur WHO Terkait Penyebab Bocah Raya yang Meninggal dengan Tubuh Dipenuhi Cacing
Anak dengan gizi kurang menjadi kelompok yang paling rentan terinfeksi.
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Tjandra Yoga Aditama menyoroti kasus meninggalnya seorang anak di Sukabumi, Jawa Barat, yang ramai diberitakan bahwa tubuh anak itu dipenuhi cacing. Tjandra menyebut ada tujuh hal penting yang perlu diperhatikan sebagai pembelajaran dari peristiwa tersebut.
"Pertama, untuk analisa bagaimana keadaan klinik sebenarnya serta apa penyebab kematian, maka kita perlu menunggu penjelasan resmi dari pihak rumah sakit secara rinci dulu, sebelum mengambil kesimpulan yang jelas," kata Tjandra di Jakarta, Rabu (20/9), sebagaimana dikutip dari Antara.
Selain menunggu penjelasan resmi dari pihak rumah sakit, menurut Tjandra, perlu ditelusuri kondisi lingkungan sekitar tempat tinggal anak tersebut untuk memastikan apakah ada potensi penyebaran cacing di pemukiman warga.
Analisis Penyebab
Tjandra mengatakan penyakit cacingan disebabkan berbagai jenis parasit, seperti Cacing Gelang, Cacing Cambuk, dan Cacing Tambang.
Tjandra menuturkan penularan umumnya terjadi melalui telur cacing dalam tinja yang mencemari tanah, kemudian masuk ke tubuh anak saat bermain tanpa mencuci tangan atau melalui air yang tercemar.
"Telur cacing tersebut dapat tertelan oleh anak-anak yang bermain di tanah yang terkontaminasi, lalu memasukkan tangan mereka ke dalam mulut tanpa mencucinya. Tentu saja ada cara penularan lain seperti melalui air yang tercemar," kata Tjandra.
Penanganan Cacingan
Tjandra menyebut anak dengan gizi kurang menjadi kelompok yang paling rentan terinfeksi.
Untuk penanganan, Tjandra melanjutkan, WHO merekomendasikan empat langkah utama yakni pemberian obat cacing secara berkala, edukasi kesehatan, perbaikan sanitasi, serta pengobatan dengan obat yang aman dan efektif.
Menurut dia, WHO telah menargetkan pengendalian penyakit cacingan berbasis tanah pada 2030.
Tjandra mengatakan, Indonesia sebaiknya juga menetapkan target serupa demi mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 yang sehat dan bebas dari penyakit menular sederhana seperti cacingan.
Cerita Lengkap Bocah Raya Meninggal dengan Tubuh Digerogoti Cacing
Sebelumnya Raya (4), bocah asal Kampung Padangenyang, Sukabumi, meninggal dunia dengan kondisi tubuh dipenuhi cacing. Dia berasal dari keluarga tidak mampu dengan ayah yang sakit-sakitan dan ibu yang mengalami gangguan jiwa. Mereka tinggal di rumah bilik panggung yang bagian bawahnya dipenuhi kotoran ayam, diduga menjadi sumber infeksi cacing.
Raya ditemukan tim pegiat sosial dalam kondisi kritis dan sempat dibawa ke rumah sakit. Namun upaya mencari bantuan biaya medis ke berbagai lembaga pemerintah maupun sosial berakhir nihil.
Selama perawatan, dari tubuh Raya dikeluarkan cacing hidup hingga seberat 1 kilogram, bahkan hasil CT Scan menunjukkan cacing dan telurnya sudah menyebar ke otak. Ia akhirnya meninggal pada 22 Juli 2025.
Kasus ini memicu keprihatinan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi. Ia menyebut lingkungan tempat tinggal yang kotor membuat Raya mengalami cacingan akut. Dedi juga menyoroti lemahnya fungsi PKK, posyandu, hingga bidan desa, dan menyebut akan memberi sanksi kepada pihak terkait. Pemerintah provinsi pun mengevakuasi keluarga Raya untuk mendapat perawatan medis karena turut mengidap penyakit TBC.