Tragis! Bocah Penuh Cacing Meninggal, Dinkes Jabar Audit Puskesmas Sukabumi
Hasil dari audit itu nantinya bakal menjadi bahan rekomendasi untuk aparatur daerah setempat melakukan evaluasi atas layanan kesehatan.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memerintahkan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat untuk mengaudit pelayanan kesehatan di seluruh puskesmas di Kabupaten Sukabumi, menyusul kematian tragis seorang bocah bernama Raya yang ditemukan meninggal dengan tubuh dipenuhi cacing.
Ia menjelaskan, hasil dari audit itu nantinya bakal menjadi bahan rekomendasi untuk aparatur daerah setempat melakukan evaluasi atas layanan kesehatan.
"Saya minta Kepala Dinas Kesehatan lakukan audit investigatif. Dan kemudian nanti rekomendasikan pada Bupatinya untuk memberikan tindakan," katanya saat dijumpai awak media di Graha Sanusi Unpad, Jalan Dipatiukur, Jumat (22/8).
Kadinkes Jawa Barat, Vini Adiani Dewi menerangkan pelaksanaan audit tersebut sudah berlangsung. Langkah ini, menjadi bagian dari evaluasi menyeluruh yang bertujuan agar perangkat desa dapat lebih aktif dan sigap menangani masalah kesehatan di tengah masyarakat.
"Artinya seperti tadi Bapak sampaikan, harusnya kan posyandu secara aktif begitu ya. Termasuk misalnya ketika tidak punya KTP, KK, berarti aparat desa, kecamatan, harusnya segera menindaklanjuti," jelas Vini.
"Jadi hal-hal ini yang Bapak maksudkan untuk kami di Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat," imbuhnya.
Vini mengatakan bahwa pihaknya juga telah berkoordinasi dengan berbagai pihak termasuk Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Bupati Sukabumi dalam evaluasi ini. Ia menyebut, bahwa Kemenkes akan melakukan audit juga, namun dalam hal mengungkap kepastian penyakit yang menyebabkan Raya meninggal.
"Jadi nanti kita sudah sepakat satu suara untuk investigasi kematiannya. Itu akan dikeluarkan dari Kementerian Kesehatan. Itu kemarin kesepakatannya,” kata dia.
Selain hal di atas, Vini menyatakan pihaknya akan memberikan pembekalan kepada para dokter puskesmas se-Jawa Barat dalam upaya pengobatan cacingan. Pembekalan itu diharapkan dapat meningkatkan kompetensi para tenaga kesehatan di puskesmas.
Kendati begitu, Vini mengakui pihaknya tak bisa bekerja sendiri. Diperlukan sinergi lintas sektor diperlukan agar tujuan di atas dapat terwujud.
"Kami dari kesehatan tidak mampu kalau berdiri sendiri. Artinya kita ingin lintas sektor, dalam hal ini pemerintah desa, kecamatan, Disdukcapil, dan DPPKB, PKK, dan semuanya itu bergabung bersama apabila ada masalah, termasuk teman-teman ya, para wartawan, ketika ada masalah, mari kita komunikasikan," ujarnya.