Ayam Bahagia Ternyata Hasilkan Telur Ajaib Ampuh buat Cegah Stunting Anak
Telur fungsional memiliki kandungan zat besi yang lebih mudah diserap oleh tubuh dibandingkan dengan telur ayam biasa.
Ada jenis telur ayam yang memiliki kandungan protein dan zat besi yang lebih mudah diserap oleh tubuh, sehingga dianggap efektif dalam mencegah stunting dan meningkatkan status gizi anak. Telur ini dikenal dengan sebutan telur fungsional, yang dihasilkan oleh ayam yang hidup dalam kondisi bahagia.
Istilah telur fungsional digunakan karena kandungan zat besi di dalamnya lebih mudah diserap dibandingkan dengan telur ayam biasa atau zat besi yang berasal dari sumber nabati. Sekitar 15–35 persen dari zat besi hewani (heme) yang ada dalam telur fungsional dapat langsung diserap dan digunakan oleh tubuh.
Sementara itu, zat besi nonheme yang berasal dari tumbuhan hanya memiliki tingkat penyerapan yang lebih rendah, yaitu sekitar 2–20 persen, dan sisanya akan terbuang.
Informasi ini disampaikan oleh Ns. Muflih, seorang spesialis keperawatan komunitas dari Universitas Respati Yogyakarta, dalam acara Diseminasi Hasil Kajian Pengasuhan Seribu Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) untuk mempercepat penurunan stunting di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Penelitian yang dilakukan oleh Muflih menunjukkan bahwa mengonsumsi satu butir telur fungsional setiap hari selama 42 hari dapat meningkatkan kadar hemoglobin secara signifikan, yaitu sebesar 2,8 g/dL, dibandingkan dengan kelompok kontrol yang hanya mengalami peningkatan sebesar 0,7 g/dL. Hal ini juga berpengaruh terhadap peningkatan tinggi badan anak.
"Telur fungsional mengandung zat besi heme yang mudah diserap oleh tubuh. Temuan kami menegaskan bahwa intervensi sederhana dan terjangkau seperti ini dapat membantu mempercepat penurunan anemia dan stunting pada anak," ungkap Muflih saat menjelaskan efektivitas telur fungsional dalam meningkatkan kadar hemoglobin pada anak balita yang mengalami anemia, seperti yang dilaporkan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada Rabu (13/8/2025).
Ayam yang Bahagia Mampu Menghasilkan Telur Berkualitas
Telur ayam fungsional berasal dari ayam yang hidup dalam kondisi bahagia. Ayam-ayam ini ditempatkan dalam kandang bebas sangkar, yang memungkinkan mereka untuk bergerak leluasa dan berperilaku sesuai dengan naluri alaminya, seperti mencari makanan, bergerak aktif, dan bertengger.
Dengan cara ini, ayam-ayam tersebut dapat mengurangi stres dan merasa lebih bahagia. Selain itu, pakan yang diberikan kepada ayam terdiri dari bahan nabati yang telah diproses dengan teknologi canggih, tanpa menggunakan bahan kimia atau antibiotik.
Berkat pakan dan perlakuan yang baik, ayam mampu menghasilkan telur dan daging yang memiliki kualitas tinggi.
Telur Ayam Bahagia Menjadi Fokus Penelitian
Pada tahun 2018, Profesor Ali Agus, seorang Guru Besar Ilmu Peternakan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), memulai penelitian mengenai telur ayam bahagia di Indonesia. Ia mengembangkan konsep telur fungsional yang berasal dari ayam yang dipelihara dengan prinsip kesejahteraan hewan, yaitu ayam yang dibiarkan berkeliaran bebas (cage-free/free-range), tidak diberi antibiotik, serta diberikan pakan khusus untuk meningkatkan kandungan gizi telur.
Penelitian ini merupakan jawaban terhadap pelarangan penggunaan antibiotic growth promoter (AGP) di Indonesia.
Inisiatif ini bertujuan untuk menghasilkan telur berkualitas tinggi dengan memperhatikan kesejahteraan hewan. Dengan menerapkan metode pemeliharaan yang lebih baik, diharapkan telur yang dihasilkan tidak hanya lebih sehat, tetapi juga lebih bernutrisi.
Penelitian ini menunjukkan komitmen Ali Agus untuk meningkatkan praktik peternakan yang etis dan berkelanjutan di Indonesia, serta memberikan alternatif bagi konsumen yang peduli akan kesehatan dan kesejahteraan hewan.
Kerja Sama Dalam Merumuskan Kebijakan yang Didasarkan pada Bukti
Dalam sesi diskusi, Rektor Universitas Respati Yogyakarta, Prof. dr. Hari Kusnanto, Dr.PH, Sp.KKLP, menekankan pentingnya kerjasama antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat untuk merumuskan kebijakan yang berbasis bukti.
"Kegiatan seperti ini tidak hanya memberikan data, tetapi juga arah strategis dalam membangun kualitas pengasuhan yang berdampak jangka panjang terhadap pembangunan SDM," katanya.
Selain itu, Gubernur DIY yang diwakili oleh Wakil Gubernur KGPAA Paku Alam X, memberikan apresiasi kepada semua pihak yang telah menginisiasi kegiatan tersebut.
Kepala Perwakilan BKKBN DIY, Iqbal Apriansyah, juga menyampaikan harapannya agar program pengasuhan 1000 HPK dapat dijalankan dengan lebih efektif dan terarah. Program ini diharapkan mampu memberikan kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia.
Seribu Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK), yang dimulai sejak terjadinya pembuahan hingga anak berusia 24 bulan, merupakan masa yang sangat penting dalam menentukan masa depan anak. Kualitas pengasuhan yang diberikan pada periode ini sangat berpengaruh dalam mencegah stunting, yang dapat berdampak jangka panjang terhadap kesehatan dan perkembangan anak.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2355695/original/026432700_1536578931-Infografis_stunting_ancaman_hilangnya_satu_generasi.jpg)