8 Potret Dapur Boby Tince di Kampung: Sederhana Pakai Kayu Bakar, Tapi Tetap Estetik dan Modern
Dapur milik Boby Tince di kampung menggabungkan penggunaan kayu bakar dengan desain bangunan modern, menciptakan suasana yang unik dan menarik.
Selebriti dan komedian Boby Tince baru-baru ini membagikan momen berharga saat memasak bersama ibunya di dapur rumahnya setelah memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya.
Dalam unggahan di akun media sosialnya @boby_tince, tampak bahwa area dapur yang digunakan masih mempertahankan nuansa tradisional Sunda. Dalam beberapa video, ia terlihat menggunakan kompor hawu yang berbahan bakar kayu, yang menambah kesan autentik pada suasana memasak mereka.
Menariknya, desain dapur di rumahnya menggabungkan elemen tradisional dan modern, dengan dinding semen bergaya industrial dan lantai keramik yang stylish. Ditambah lagi, posisinya yang menghadap langsung ke halaman belakang yang terbuka, memberikan kenyamanan dan keindahan tersendiri.
Model dapur yang ditampilkan oleh pemeran yang sebelumnya dikenal dari sinetron Si Yoyo ini bisa menjadi inspirasi bagi Anda yang ingin mendesain hunian.
Dapur tersebut menghadap ke halaman depan
Dapur milik Boby Tince terletak di bagian belakang rumah dengan desain semi terbuka. Atapnya terbuat dari kombinasi struktur kayu dan bambu, serta dilengkapi dengan ijuk dari daun kering.
Pemandangan dari dapur ini langsung menghadap ke halaman yang luas, di mana permukaan tanahnya dikelilingi oleh bebatuan kerikil. Di sekeliling area ini, terdapat beberapa pohon dan tanaman yang memberikan nuansa hijau yang segar dan alami, menciptakan suasana yang nyaman untuk beraktivitas di dapur.
Pintu bermotif kayu telah dipasang di area dapur
Area dapur ini terletak bersebelahan dengan bangunan utama rumah, yang ditandai oleh keberadaan sebuah pintu kayu. Pintu tersebut berwarna hijau tua dan memiliki ventilasi garis-garis di bagian atasnya, memberikan kesan klasik. Material kayu yang digunakan pada pintu mencerminkan gaya bangunan lama yang diadopsi oleh Boby di kediamannya. Letak pintu ini sangat strategis, berada tepat di samping meja dapur, sehingga memudahkan penghuni rumah dalam proses memasak atau menyiapkan bumbu.
Halaman belakang rumah menjadi pemandangan yang dinikmati Boby saat memasak
Salah satu daya tarik dari dapur semi outdoor tradisional ini adalah pemandangan yang menghadap langsung ke bagian depan. Misalnya, ketika Boby sedang memasak, ia dapat menikmati pemandangan halaman belakang yang luas dan segar. Tanpa adanya tembok pembatas, pengalaman memasak menjadi lebih menyenangkan karena Boby bisa merasakan kesejukan area belakang rumahnya. Hal ini tentu membuat proses memasak menjadi lebih seru dan menyenangkan.
Gunakanlah kompor tradisional yang terbuat dari semen
Sebenarnya, Boby memiliki dua jenis kompor di dapurnya. Jenis pertama adalah kompor yang menggunakan bahan bakar gas, sedangkan yang kedua adalah kompor berbahan kayu bakar. Dalam unggahan ini, Boby sedang memasak sayur asem menggunakan kompor kayu bakar. Kompor ini memiliki struktur tungku yang terbuat dari campuran semen dan batu bata, dan berbentuk kotak. Terdapat dua lubang pembakaran yang terlihat jelas; lubang di samping digunakan untuk memasukkan kayu, sedangkan lubang di bagian atas berfungsi sebagai jalur api untuk memasak.
Gunakan kayu sebagai bahan bakar saat memasak
Pemanasan alat masak di dapur ini sepenuhnya bergantung pada kayu bakar sebagai sumber energi panas utama. Potongan kayu tersebut dimasukkan ke dalam lubang tungku untuk menciptakan api yang stabil selama proses memasak. Biasanya, kayu-kayu ini diperoleh dari pepohonan di sekitar pemukiman yang telah kering atau dipotong secara khusus.
Dalam suasana tersebut, terlihat Boby dan ibunya sedang menyiapkan menu makanan mereka. Keduanya bekerja sama dengan kompak, mempersiapkan kompor dan membuat bumbu sebelum memasak dimulai. Dengan kerja sama yang baik, mereka berharap dapat menyajikan hidangan yang lezat dan memuaskan.
Keceriaan Boby ketika meniup kompor tradisional
Aktivitas meniup bara api adalah salah satu momen menarik dalam proses memasak dengan tungku tradisional di dapur Boby Tince. Dalam kegiatan ini, Boby menggunakan pipa bambu yang panjang sebagai alat bantu untuk mengarahkan tiupan angin langsung ke pusat bara di dalam tungku.
Ketika Boby meniup bara, asap yang keluar dari lubang tungku sering kali membuat matanya terasa perih, namun hal itu justru menciptakan suasana ceria dan gelak tawa bersama ibunya. Tak jarang, Boby harus berjongkok dan menutup salah satu sisi wajahnya agar tidak terkena paparan asap yang cukup pekat pada saat itu.
Tradisional
Dapur ini mengadopsi konsep yang menggabungkan elemen desain modern dengan fungsi-fungsi tradisional. Dindingnya dibiarkan dengan tekstur semen acian yang menyerupai gaya industrial yang sedang berkembang. Selain itu, lantai dapur ini menggunakan keramik yang terpasang merata di seluruh area, berbeda dengan penggunaan tanah liat yang umum ditemukan di pawon tradisional. Di sudut dekat kompor, terdapat rak kayu sederhana yang dirancang oleh Boby untuk menyimpan berbagai peralatan dapur, seperti piring, gelas, dan wadah makanan lainnya. Rak ini memiliki beberapa tingkat, sehingga dapat memaksimalkan penggunaan ruang yang ada.
Masih menggunakan peralatan makan tradisional dari Sunda
Dalam proses penyajian makanan, Boby Tince tetap setia menggunakan peralatan makan tradisional yang mencerminkan budaya Sunda. Salah satu contohnya adalah boboko, tempat nasi yang terbuat dari anyaman bambu, yang digunakan untuk menyimpan nasi yang telah matang. Selain itu, sambal tomat leunca juga diolah secara langsung di atas ulekan kayu yang memiliki permukaan lebar. Penyajian sambal ini dilakukan dalam wadah yang menambah kesan tradisional saat berkumpul di meja makan.
Boby dan ibunya menikmati hidangan rumahan yang sederhana, seperti ikan asin, tahu, dan lalapan segar. Makanan ini bukan hanya sekadar santapan, tetapi juga menjadi momen untuk berbagi cerita dan kebersamaan. Dengan suasana yang hangat dan alat makan yang khas, pengalaman bersantap mereka terasa lebih istimewa dan berkesan. Momen-momen seperti ini memperkuat ikatan keluarga dan melestarikan tradisi yang telah ada sejak lama.
Bogor
Di mana letak rumah kampung Boby Tince? Rumah kampung Boby Tince berada di kawasan Bogor, Jawa Barat, di mana ia biasa menghabiskan waktu bersama keluarga besarnya. Tempat ini menjadi pilihan Boby untuk menikmati suasana alam yang tenang dan dekat dengan orang-orang terkasih.
Kenapa Boby Tince masih memilih untuk memasak dengan kayu bakar? Penggunaan kayu bakar tetap dipertahankan karena bahan baku tersebut mudah didapat di kampung dan tradisi memasak dengan cara ini diyakini dapat menghasilkan cita rasa masakan yang lebih lezat. Hal ini juga menjadi bagian dari warisan budaya yang ingin dijaga oleh Boby.
Apa saja hidangan yang sering dimasak oleh Boby Tince di kampung? Menu yang sering disiapkan mencakup masakan tradisional Sunda seperti sayur asem, sambal leunca, ikan asin, tahu tempe, serta berbagai jenis lalapan. Hidangan-hidangan ini mencerminkan kekayaan kuliner daerah yang selalu dinikmati oleh keluarganya.
Bagaimana desain dapur di rumah kampung Boby Tince? Dapur tersebut mengusung konsep terbuka (outdoor) dengan lantai keramik, dinding semen, dan atap yang terbuat dari bambu. Desain ini tidak hanya memberikan nuansa alami, tetapi juga membuat dapur terasa lebih luas dan nyaman saat digunakan.
Alat makan tradisional apa yang digunakan oleh Boby Tince? Beberapa peralatan makan yang digunakan meliputi boboko bambu sebagai tempat nasi dan ulekan kayu untuk menghaluskan sambal. Penggunaan alat-alat ini menunjukkan kecintaan Boby terhadap tradisi dan cara-cara memasak yang telah diwariskan oleh nenek moyangnya.