Anak Tangguh Lahir dari Orang Tua Seperti Apa? Ini 8 Kebiasaan Penting yang Melahirkan Anak Sekuat Singa!
Anak tangguh lahir dari orang tua yang menerapkan pola asuh tepat. Ketahui 8 kebiasaan orang tua yang efektif membentuk karakter anak yang kuat dan mandiri.
Membentuk anak yang tangguh adalah dambaan setiap orang tua. Ketangguhan ini bukan sekadar bakat bawaan, melainkan hasil dari didikan dan kebiasaan yang ditanamkan sejak dini. Lantas, anak tangguh lahir dari orang tua seperti apa? Bagaimana cara orang tua membentuk karakter anak agar mampu menghadapi tantangan hidup dengan tegar?
Dilansir dari Fatherly, psikoterapis Amy Morin, penulis buku "13 Things Mentally Strong Parents Don’t Do", mengungkapkan bahwa ketangguhan adalah perilaku yang dipelajari melalui contoh dan pelajaran eksplisit. Anak-anak belajar bagaimana mengelola stres, memahami bahwa penolakan bukanlah akhir dari segalanya, dan melihat kemunduran sebagai hal yang tidak perlu menghentikan mereka sepenuhnya.
Berikut adalah delapan kebiasaan umum orang tua yang berhasil membesarkan anak-anak tangguh, yang dirangkum dari berbagai sumber dan penelitian:
1. Membiarkan Anak Berjuang
Morin menekankan bahwa semua anak memiliki kemampuan untuk mengembangkan keterampilan yang membantu mereka menjadi tangguh. Orang tua berperan sebagai pembimbing, memberikan keterampilan dan kesempatan untuk melatih ketangguhan. Tindakan terbaik adalah membiarkan anak berjuang dan belajar dari pengalaman mereka.
Menurut Morin, tindakan orang tua yang terlalu sering menyelamatkan anak dari kesulitan justru menghambat perkembangan kemandirian mereka. Orang tua yang mengajarkan bahwa kerja keras adalah bagian penting dari kehidupan, dan terkadang kerja keras itu sangat sulit, adalah mereka yang membesarkan anak-anak yang menyesuaikan diri dengan baik.
"Semua anak memiliki kemampuan untuk mengembangkan keterampilan yang akan membantu mereka menjadi tangguh," kata Morin. "Sebagai orang tua, tugas kita adalah memberi mereka keterampilan itu, dan berfungsi sebagai panduan untuk membantu mereka ketika mereka berjuang dengan sesuatu dan memberi mereka lebih banyak kesempatan untuk melatih ketahanan."
2. Membiarkan Anak Mengalami Penolakan
Belajar menerima penolakan adalah hal penting bagi anak-anak. Orang tua yang tangguh tidak selalu berusaha melindungi anak dari kekecewaan. Mereka membiarkan anak merasakan penolakan dan membantu mereka belajar bagaimana menghadapinya.
Morin mencontohkan, ketika anak tidak terpilih masuk tim baseball, orang tua mungkin tergoda untuk menghubungi pelatih atau sekolah. Namun, kegagalan justru menjadi kesempatan berharga untuk mengajarkan pelajaran hidup. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, anak cukup kuat untuk menghadapinya, dan selalu ada pilihan setelah kegagalan.
"Jika anak Anda tidak terpilih untuk tim bisbol, mungkin Anda tergoda untuk menelepon pelatih, menelepon sekolah, mencoba memasukkan anak Anda ke dalam tim," kata Morin. "Tetapi kegagalan bisa menjadi salah satu peluang terbaik untuk mengajarkan pelajaran hidup kepada anak-anak. Pelajaran itu: Kegagalan bukanlah akhir dari jalan, Anda cukup kuat untuk menangani kegagalan, dan ketika Anda gagal, Anda punya pilihan."
3. Tidak Membenarkan Mentalitas Korban
Ketika anak menghadapi masalah, sering kali mereka menyalahkan orang lain. Orang tua yang bijak tidak langsung membenarkan perilaku ini. Mereka mengajarkan anak untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri dan mencari solusi atas masalah yang dihadapi.
Morin menjelaskan bahwa orang tua perlu menyampaikan bahwa hidup tidak selalu adil, tetapi anak cukup kuat untuk menghadapi ketidakadilan tersebut. Kecenderungan untuk membela anak dan membenarkan diri hanya memperkuat mentalitas korban dan menyebabkan ketidakberdayaan yang dipelajari.
"Orang tua perlu memberi tahu anak-anak mereka bahwa hidup ini tidak adil, tetapi mereka tidak cukup kuat untuk menangani ketidakadilan," kata Morin. "Dan saya pikir bagi banyak orang tua, kecenderungan kita adalah untuk membuat segala sesuatunya adil untuk membela anak-anak kita, untuk memihak mereka, hanya memperkuat mereka bahwa mereka adalah korban. Itu mengarah pada ketidakberdayaan yang dipelajari."
4. Lebih dari Sekadar Menyuruh Anak untuk 'Tegar'
Membiarkan anak berjuang itu penting, tetapi mengabaikan emosi mereka bukanlah cara yang tepat. Orang tua perlu memvalidasi emosi anak dan menunjukkan empati. Keseimbangan antara memberi ruang bagi anak untuk menghadapi masalah mereka sendiri dan memberikan dukungan emosional sangatlah penting.
Berbicara dengan anak tentang perasaan mereka saat mereka belajar sangatlah penting. Ini akan memberi mereka keterampilan untuk membicarakan perasaan mereka di kemudian hari, serta membantu mereka belajar bagaimana menghadapi masa-masa sulit.
"Orang tua perlu bertanya pada diri sendiri apakah mereka memberi anak-anak mereka keterampilan dan alat yang mereka butuhkan untuk melakukan sesuatu sendiri," tambah Morin. "Jika mereka belum memiliki keterampilan itu, maka orang tua turun tangan. Tetapi orang tua, pastikan bahwa Anda juga mengajari mereka keterampilan itu."
5. Membantu Anak Belajar Mengidentifikasi Perasaan dan Emosi Mereka
Kemampuan untuk mengidentifikasi dan melabeli emosi adalah kunci penting dalam ketangguhan emosional. Anak-anak yang mampu mengungkapkan perasaan mereka cenderung tidak melampiaskannya pada orang lain.
Morin menjelaskan bahwa anak yang bisa mengatakan "Saya marah" cenderung tidak menendang Anda untuk menunjukkan bahwa dia marah. Membantu anak merasa nyaman membicarakan emosi mereka memberi mereka keterampilan untuk memikirkan dan mengatasi apa yang membuat mereka kesal.
"Ketika anak-anak dapat melabeli emosi mereka, mereka cenderung tidak mengungkapkannya," kata Morin. "Jika anak Anda dapat mengatakan 'Saya marah,' dia cenderung tidak menendang Anda untuk menunjukkan bahwa dia marah."
6. Memberi Anak Alat untuk Menenangkan Diri
Mengajarkan anak cara menenangkan diri adalah keterampilan penting untuk mengelola stres dan emosi negatif. Orang tua dapat membantu anak mengembangkan strategi menenangkan diri yang sehat, seperti mendengarkan musik, membaca buku, atau melakukan aktivitas fisik.
Morin mencontohkan beberapa orang tua membuat 'kotak penenang' untuk anak mereka, berisi buku mewarnai, Play-Doh, dan losion beraroma enak. Mereka mengingatkan anak untuk mengambil kotak itu ketika mereka kesal. Teknik ini membantu anak belajar bertanggung jawab atas perasaan mereka dan menenangkan diri.
"Saya tahu beberapa orang tua yang membuat 'kotak penenang' untuk anak mereka," kata Morin. "Mereka memiliki kotak dengan buku mewarnai, dan beberapa Play-Doh, dan losion yang berbau harum, dan mereka mengingatkan anak mereka untuk mengambil kotak itu ketika mereka kesal."
7. Mengakui Kesalahan dan Memperbaikinya
Orang tua yang tangguh tidak takut mengakui kesalahan mereka di depan anak-anak. Mereka menunjukkan kepada anak bagaimana bertanggung jawab atas tindakan mereka dan berusaha memperbaiki kesalahan tersebut. Ini memberi contoh yang baik bagi anak untuk menghadapi kesalahan mereka sendiri.
Kesalahan mengasuh anak, menurut Morin, adalah kesempatan bagi kita untuk membalikkannya dan menunjukkan kepada anak-anak bagaimana menanggapi kesalahan dan menunjukkan bahwa kita semua melakukannya. Hal terpenting adalah orang tua harus mengakui kesalahan mereka sendiri di depan anak-anak mereka dan kemudian benar-benar memperbaiki masalahnya.
“Bahkan orang tua yang paling pandai menyesuaikan diri pun kadang-kadang melakukan kesalahan. Mereka marah pada guru atau meneriaki pasangan mereka atau lupa melakukan sesuatu yang penting. Yang penting adalah orang tua harus mengakui kesalahan mereka sendiri di depan anak-anak mereka dan kemudian benar-benar memperbaiki masalahnya. Ini menunjukkan kepada anak-anak bahwa tidak peduli seberapa besar kesalahan yang mungkin mereka lakukan, jika mereka jujur tentang hal itu dan mencoba memperbaikinya, keadaan akan menjadi lebih baik."
8. Menghubungkan Harga Diri Anak dengan Tingkat Usaha Mereka
Fokus pada usaha dan kerja keras, bukan hanya pada hasil akhir, adalah kunci untuk membangun ketangguhan pada anak. Orang tua perlu menghargai usaha yang dilakukan anak, terlepas dari hasilnya. Ini mengajarkan anak bahwa yang terpenting adalah proses belajar dan berkembang, bukan hanya mencapai kesempurnaan.
Morin menyoroti penelitian yang menunjukkan bahwa ketika anak perempuan berhasil, kita cenderung mengatakan, "Kamu melakukannya dengan baik karena kamu belajar keras." Tetapi ketika anak laki-laki berhasil, kita cenderung mengatakan, "Kamu melakukannya dengan baik dalam tes itu karena kamu pintar." Menghubungkan hasil anak dengan bakat bawaan mereka dapat menyebabkan masalah jangka panjang.
“Ketika kita terlalu fokus pada hasil, anak-anak akan menipu di sekolah menengah karena mereka berpikir bahwa hal terpenting di dunia adalah mendapatkan nilai A, dan tidak masalah bagaimana mereka sampai di sana. Kita ingin mengajari anak-anak bahwa yang penting adalah jujur, baik hati, bekerja keras. Sangat penting untuk fokus pada usaha mereka. Anak yang tumbuh dengan mengetahui bahwa itu semua tentang usaha mereka, daripada hasil mereka, akan lebih tangguh ketika mereka gagal atau ketika mereka ditolak."