Tahukah Kamu? UIN Jakarta dan Abu Dhabi Jalin Kerja Sama Perkuat Perdamaian Dunia
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Abu Dhabi Forum for Peace menjalin kerja sama strategis untuk memperkuat perdamaian dunia. Kemitraan ini bertujuan merespons krisis kemanusiaan global, lantas bagaimana implementasinya?
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Abu Dhabi Forum for Peace telah mencapai kesepakatan penting untuk menjalin kerja sama strategis. Kemitraan ini berfokus pada bidang akademik dan riset guna memperkuat upaya perdamaian dunia. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap dinamika krisis kemanusiaan global yang terus berkembang.
Kerja sama ini bertujuan untuk menghadirkan solusi konkret terhadap berbagai tantangan kemanusiaan di era modern. Kedua institusi meyakini bahwa pendekatan kolaboratif lintas negara sangat dibutuhkan. Ini adalah upaya bersama dalam menghadapi perubahan sosial, politik, budaya, dan ideologi yang cepat.
Prof. Asep Saepudin Jahar, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menegaskan pentingnya fiqh realitas dan toleransi. Menurutnya, kedua konsep tersebut merupakan pintu masuk krusial bagi terwujudnya kehidupan beragama yang damai. Hal ini juga akan mendorong sikap moderat serta penghormatan terhadap sesama umat manusia.
Pentingnya Fiqh Realitas dan Toleransi
Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar, menjelaskan bahwa fiqh realitas dan toleransi menjadi fondasi utama dalam kemitraan ini. Konsep ini memungkinkan umat Islam untuk hidup berdampingan secara harmonis. Selain itu, hal ini juga mendorong dialog konstruktif serta menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Prof. Asep menekankan bahwa era saat ini penuh dengan perubahan cepat di berbagai bidang. Oleh karena itu, menghadirkan fiqh realitas adalah kebutuhan mendesak. Tujuannya agar ajaran Islam mampu merespons tantangan kemanusiaan dengan bijaksana. Pendekatan ini juga harus humanis dan penuh penghormatan pada keberagaman.
Kerja sama para akademisi dan pakar lintas negara sangat relevan dalam mencari solusi krisis kemanusiaan global. “Sebab kita hidup di era yang sarat perubahan cepat di bidang sosial, politik, budaya, bahkan ideologi," kata Prof. Asep Saepudin Jahar. Ini menunjukkan urgensi kolaborasi dalam menghadapi kompleksitas dunia modern.
Peran Abu Dhabi Forum for Peace dalam Harmoni Global
Prof. Arif Zamhari, Kepala Pusat Moderasi Beragama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menyatakan bahwa forum ini melanjutkan misi penting. Misi tersebut adalah memperkuat harmoni dan perdamaian dunia yang diemban oleh Abu Dhabi Forum for Peace. Forum ini didirikan oleh ulama terkemuka dunia Islam, al-Allamah Syaikh Abdullah bin Bayyah.
Abu Dhabi Forum for Peace telah banyak berkontribusi pada perdamaian dunia melalui berbagai inisiatif. Contohnya adalah Konferensi Internasional Deklarasi Maroko 2016. Deklarasi ini menekankan penghargaan Hak Kaum Minoritas Agama di Negara Mayoritas Muslim. Ada juga Konferensi Para Tokoh Lintas Agama di Washington pada Februari 2018 yang menghasilkan Alliance of Virtues.
Kehadiran Forum Abu Dhabi untuk Perdamaian di Indonesia diharapkan menjadi jembatan dialog lintas iman dan budaya. “Kehadiran Forum Abu Dhabi untuk Perdamaian di Indonesia diharapkan menjadi jembatan dialog lintas iman dan budaya yang relevan dengan tantangan global saat ini, sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam mengupayakan perdamaian dunia,” ujar Prof. Arif Zamhari.
Tantangan Global dan Solusi Bersama
Mrs. Shaima Salem Alhebsi, Wakil Kepala Perwakilan di Kedutaan Besar Uni Emirat Arab di Jakarta, menyoroti beragam tantangan global. Masyarakat dunia saat ini menghadapi konflik bersenjata, bencana alam, perubahan iklim, serta krisis pemikiran dan ideologi. Semua ini menuntut penggalian kembali nilai-nilai bersama dan penguatan budaya dialog.
Shaima merespons positif forum yang mempertemukan akademisi dan pakar lintas negara ini. Forum semacam ini diharapkan dapat menghasilkan resolusi perdamaian dan penyelesaian krisis kemanusiaan global. Menurutnya, dialog dan inisiatif kerja sama para akademisi dan pengambil kebijakan lintas negara merupakan aset berharga bagi dunia.
Uni Emirat Arab dan Indonesia adalah dua negara yang telah menegaskan komitmennya terhadap toleransi dan moderasi. “Uni Emirat Arab misalnya, pendirian Kementerian Toleransi, Forum Abu Dhabi untuk Perdamaian, Majelis Hukama al-Muslimin, dan berbagai inisiatif global lainnya,” kata Shaima. Sementara itu, Indonesia dengan falsafah Bhinneka Tunggal Ika yang berakar pada Pancasila, adalah teladan nyata dalam nilai-nilai koeksistensi dan penghormatan terhadap keragaman.
Pendekatan Baru untuk Krisis Kemanusiaan
Dr. Amina, Direktur Abu Dhabi Forum for Peace, memaparkan bahwa penyelesaian krisis kemanusiaan membutuhkan pendekatan baru. Pendekatan ini tidak hanya berorientasi pada aspek intelektual. Namun juga harus berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan universal serta prinsip keadilan ekonomi.
Dr. Amina menekankan pentingnya pengembangan model yang berfokus pada penguatan nilai-nilai kemanusiaan. Selain itu, pembentukan prinsip keadilan ekonomi juga menjadi krusial. “Model ini menjadi landasan keilmuan yang relevan untuk menjawab berbagai persoalan, tanpa terkecuali, serta menjembatani setiap perbedaan yang ada,” jelasnya.
Dialog dan inisiatif kerja sama antarnegara merupakan langkah awal yang krusial. Mengokohkan nilai-nilai bersama adalah fondasi bagi perdamaian yang berkelanjutan. Dengan modal sejarah, nilai, dan kepentingan bersama, diharapkan mampu berkontribusi dalam membangun masa depan yang lebih aman, adil, dan penuh toleransi.
Sumber: AntaraNews