Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) menyerukan kepada seluruh civitas akademika Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) untuk memperkuat sinergi antara iman, ilmu, dan amal. Seruan ini disampaikan sebagai fondasi utama dalam mencapai keunggulan umat serta memberikan kontribusi nyata bagi kemanusiaan.
Pesan penting ini disampaikan HNW saat memberikan tausiyah Ramadan dalam acara buka puasa bersama dan peringatan Nuzulul Quran. Kegiatan tersebut mengusung tema “Ramadan Unggul: Spirit Iman Ilmu dan Amal” yang berlangsung di Masjid At-Taqwa, kompleks kampus UMJ, Kota Tangerang Selatan, Banten, pada Kamis (6/3).
Hidayat Nur Wahid menekankan bahwa momentum Ramadan harus dimanfaatkan secara optimal untuk menguatkan dimensi spiritual, intelektual, dan sosial. Tujuannya agar nilai-nilai luhur Al-Quran dapat terwujud dalam tindakan konkret di tengah masyarakat, menciptakan dampak positif yang berkelanjutan.
Advertisement
Advertisement
Hidayat Nur Wahid menjelaskan bahwa salah satu kunci utama dalam mewujudkan sinergi iman, ilmu, dan amal adalah ideologi Al-Ma’un. Konsep ini telah populer dan menjadi tradisi kuat di lingkungan Muhammadiyah.
Menurutnya, ideologi Al-Ma'un merupakan representasi bagaimana Al-Quran dapat berjalan dan membumi dalam tindakan nyata sehari-hari. Konsep ini telah dicontohkan oleh pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan, yang secara konkret mempraktikkan nilai-nilai Al-Quran melalui berbagai gerakan sosial dan pendidikan.
Tradisi perpaduan iman, ilmu, dan amal ini terbukti telah melahirkan beragam kontribusi nyata Muhammadiyah dalam kehidupan masyarakat. Hal ini sekaligus membangun optimisme umat dalam menghadapi berbagai tantangan zaman yang semakin kompleks dan dinamis.
Advertisement
Advertisement
HNW juga menyinggung kepedulian historis Muhammadiyah terhadap perjuangan Palestina, yang telah hadir sejak awal abad ke-20. Tokoh muda Muhammadiyah, Abdul Kahar Muzakir, bahkan dipercaya menjadi sekretaris Mufti Palestina, Mufti al-Quds al-Sayyid al-Amin al-Husayni.
Keterlibatan ini menunjukkan bahwa perpaduan iman, ilmu, dan amal telah menjadi bagian dari sejarah gerakan Muhammadiyah dalam menghadirkan kepedulian terhadap Palestina. Spirit ini penting untuk dipertahankan sebagai bentuk pengamalan Islam berkemajuan dan solidaritas global terhadap umat Islam di seluruh dunia.
Selain itu, Ramadan juga mengajarkan optimisme melalui berbagai peristiwa sejarah Islam, seperti kemenangan kaum Muslim dalam Perang Badar. Kemenangan ini terjadi meskipun mereka berada dalam kondisi serba terbatas, membuktikan bahwa hal yang mustahil bisa terjadi.
Advertisement
Advertisement
Di samping aspek spiritual, HNW turut menekankan pentingnya peran pendidikan dalam membangun karakter bangsa yang unggul. Ia mengingatkan bahwa konstitusi Indonesia, melalui Pasal 31 UUD 1945, secara tegas menyatakan bahwa pendidikan nasional harus meningkatkan keimanan, ketakwaan, serta akhlak mulia.
Kecerdasan semata tanpa diimbangi iman dan akhlak dapat membuat manusia kehilangan arah dan tujuan hidup. Oleh karena itu, pendidikan harus mampu menghadirkan keseimbangan dan pengamalan yang menyeluruh antara iman, ilmu, dan amal, khususnya di bulan Ramadan.
Menutup tausiyahnya, HNW mengajak seluruh civitas akademika UMJ untuk terus menjaga tradisi intelektual yang berpijak pada nilai-nilai Al-Quran. Harapannya adalah melahirkan generasi yang optimistis dan produktif, yang senantiasa berbuat kebaikan meskipun dalam situasi sulit.
Advertisement
Sumber: AntaraNews