Survei LPI: Kaesang Perkuat Citra PSI sebagai Partai Anak Muda, Namun Elektabilitas Stagnan
Figur Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep dinilai memperkuat citra PSI sebagai partai anak muda dan dekat dengan Presiden Jokowi, namun survei LPI mengungkap elektabilitas PSI masih di bawah ambang batas parlemen.
Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) merilis hasil survei terbaru yang menyoroti dampak figur Kaesang Pangarep terhadap Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Survei ini menunjukkan bahwa kehadiran Kaesang secara signifikan memperkuat citra PSI sebagai partai yang mewakili generasi muda. Meskipun demikian, temuan ini juga diiringi dengan fakta bahwa elektabilitas PSI masih berada di bawah ambang batas parlemen.
Direktur Riset dan Kebijakan Politik LPI, Fernando Emas, menjelaskan bahwa alasan utama responden menyukai Kaesang bukan semata karena statusnya sebagai putra Presiden Joko Widodo. Kaesang justru dianggap mampu merepresentasikan aspirasi dan semangat generasi muda Indonesia. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi PSI dalam menjangkau pemilih muda.
Survei yang dilakukan secara daring di 32 provinsi ini melibatkan 1.922 responden dan berlangsung dari tanggal 10 hingga 17 Juni 2026. Hasilnya memberikan gambaran komprehensif mengenai persepsi publik terhadap PSI di bawah kepemimpinan Kaesang. Temuan ini menarik untuk dicermati mengingat dinamika politik menjelang pemilihan umum mendatang.
Pengaruh Kaesang Terhadap Citra PSI
Figur Kaesang Pangarep terbukti efektif dalam memperluas jangkauan pengenalan publik terhadap PSI dan membawa semangat pembaruan dalam kancah politik. Sebanyak 69,7 persen responden menilai kepemimpinan Kaesang dapat memperkuat citra PSI sebagai partai yang dekat dengan Presiden Jokowi. Angka ini menunjukkan adanya asosiasi kuat antara Kaesang, PSI, dan sosok presiden.
Daya tarik Kaesang terhadap PSI juga berasal dari citranya sebagai representasi generasi muda, dengan 72 persen responden menyatakan hal tersebut sebagai alasan utama. Selain itu, sekitar 65 persen responden menilai Kaesang akan membuat PSI lebih dikenal masyarakat, dan 61 persen melihatnya membawa semangat pembaruan dalam politik. Fernando Emas menggarisbawahi bahwa daya tarik Kaesang memiliki nilai jual tersendiri, terlepas dari bayang-bayang ayahnya.
Kedua faktor, baik pengaruh Jokowi maupun Kaesang, saling memperkuat dalam membentuk citra PSI sebagai partai anak muda yang diasosiasikan sebagai representasi politik Jokowi. Ini menunjukkan strategi PSI dalam merangkul figur-figur populer untuk meningkatkan visibilitas dan daya tariknya di mata publik.
Efek Jokowi dan Transfer Citra Positif
Sosok Presiden Joko Widodo juga memberikan pengaruh signifikan terhadap citra dan tingkat kepercayaan publik terhadap PSI. Survei LPI menemukan adanya image transfer antara figur Jokowi dengan PSI, terutama karena kabar bahwa Jokowi akan menjadi ketua dewan pembina partai. Rata-rata 70,2 persen masyarakat menilai kedekatan PSI dengan Jokowi dapat meningkatkan kesan positif terhadap partai.
Citra positif ini tidak hanya mengasosiasikan figur Jokowi dengan PSI, tetapi juga atribut atau identitas lain yang muncul dari pandangan responden. Misalnya, persepsi publik terhadap figur Jokowi yang dikenal merakyat dan memiliki gaya kepemimpinan yang unik dan khas turut melekat pada PSI. Survei menunjukkan rata-rata 64,9 persen masyarakat menilai bahwa PSI merupakan partai yang merakyat seperti Jokowi.
Fenomena image transfer ini mengindikasikan bahwa popularitas dan karakteristik positif yang melekat pada Presiden Jokowi dapat secara tidak langsung meningkatkan penerimaan publik terhadap PSI. Hal ini menjadi modal penting bagi PSI dalam membangun basis dukungan yang lebih luas.
Tantangan Elektabilitas PSI di Tengah Citra Positif
Meskipun memiliki citra yang relatif positif, survei LPI juga menemukan fakta kontras pada sisi elektabilitas PSI. Saat responden ditanyai pilihan partainya jika pemilihan umum dilaksanakan hari ini, PSI hanya memperoleh 1,9 persen suara nasional. Angka ini menempatkan PSI di bawah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang sebesar 2,8 persen, dan berselisih tipis dengan Partai Perindo sebesar 1 persen.
Fernando Emas menjelaskan bahwa perolehan suara PSI masih berada di bawah ambang batas parlemen (parliamentary threshold) sebesar 4 persen suara nasional. Lima partai besar masih mendominasi peta elektoral nasional, yaitu Gerindra (21,9 persen), PDI Perjuangan (19 persen), Golkar (8,1 persen), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) (7,9 persen), dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) (4,7 persen).
Temuan ini menjadi paradoks sekaligus tantangan yang harus dicermati lebih lanjut oleh PSI. Loyalitas terhadap Jokowi memang masih kuat, namun belum cukup untuk mendorong publik benar-benar berpindah pilihan ke PSI dalam jumlah signifikan. Fernando menyarankan agar modal citra dari sosok Jokowi dan Kaesang perlu segera dikonversi menjadi program kerja konkret dan substansi politik yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Jika tidak, popularitas tersebut berisiko hanya menjadi citra di permukaan tanpa pernah benar-benar berubah menjadi suara di kotak pemilu.
- Survei bertajuk “Pengaruh Sosok Jokowi terhadap Citra PSI dalam Pandangan Masyarakat”.
- Dilakukan secara daring di 32 provinsi pada 10-17 Juni 2026.
- Jumlah responden sebanyak 1.922.
- Metode pengambilan sampel menggunakan multistage random sampling dengan teknik stratified quota sampling.
- Populasi survei adalah warga negara Indonesia berusia 17 tahun ke atas atau yang telah memiliki hak pilih.
- Tingkat kesalahan (margin of error) sebesar ±2,54 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Sumber: AntaraNews