PSI Kritik PDIP: Serang Jokowi untuk Cari Simpati, Tapi Gagal
PSI menilai serangan yang terus dilontarkan PDIP terhadap Jokowi sebagai bentuk provokasi dan penyebaran fitnah.
PDIP mengklaim ada utusan Presiden ke-7 Joko Widodo sebelum dipecat sebagai kader. Namun, Jokowi dengan tegas membantah pernyataan Ketua DPP PDIP, Deddy Yevri Sitorus itu dan mempertanyakan siapa sosok utusan yang dimaksud.
Menanggapi itu, Juru Bicara DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Beny Papa menilai, serangan yang terus dilontarkan PDIP terhadap Jokowi sebagai bentuk provokasi dan penyebaran fitnah.
Beny menyebut tudingan PDIP yang mengaitkan Jokowi dengan kasus hukum yang menjerat Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto adalah langkah politis yang tidak berdasar.
"Apa yang dilakukan Deddy Sitorus dan teman-teman PDIP yang terus menyerang Pak Jokowi adalah cara-cara murahan, mencoba memprovokasi untuk meraup simpati dengan menyebar hoaks. Pola ini biasanya dilakukan orang-orang yang tidak siap kalah dan pasti gagal," ujar Beny dalam keterangan tertulis, Sabtu (15/3).
Kasus Hasto Murni Persoalan Hukum
Beny menegaskan bahwa kasus yang menjerat Hasto adalah murni masalah hukum, bukan politik.
"Kasus ini adalah persoalan suap-menyuap dan menghalangi penyidikan. Maka kalau PDIP selalu membawa-bawa Pak Jokowi, itu salah alamat. Tidak ada andil dan kepentingan beliau di sana," tegasnya.
Ia menyarankan agar Hasto fokus menghadapi kasusnya dengan argumentasi hukum, bukan justru menyeret pihak lain ke dalam polemik.
"Jangan gunakan para kaki tangannya untuk terus menyebar fitnah dan hoaks di masyarakat," pungkas mantan Ketua Umum Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) itu.