Bakal calon presiden dari Koalisi Indonesia Maju (KIM) Prabowo Subianto mengamini, banyak pihak yang menilainya sudah berubah. Sosoknya yang dulu dikenal garang dan menakutkan, kini berubah menjadi ramah dan suka bercanda.
"Ada yang mengatakan Pak Prabowo sudah berubah ya? Sekarang sudah banyak bercandanya, sudah enggak galak lagi kaya dulu," kata Prabowo di Djakarta Theater, Selasa (24/10).
Menurut Prabowo, alasan terbesarnya adalah kekalahan di Pilpres melawan mantan rivalnya Joko Widodo. Oleh karena itu, kekalahan telah menjadikannya pelajaran hidup sehingga mengubah caranya bersikap.
"Ya namanya sudah dua kali kalah ya. Jadi saudara-saudara, benar ini, ini benar ya, ini pengalaman hidup," ungkap Prabowo.
Prabowo menjelaskan, kekalahan adalah bagian dari cobaan hidup yang dijadikannya sebuah pelajaran. Sebab menurut dia, terlalu berhasil juga tidak baik untuk pasang surut kehidupan.
"Pelajaran kadang-kadang memang kita harus mengalami cobaan kadang-kadang kekalahan adalah pelajaran yang bagus dan kadang-kadang terlalu banyak keberhasilan juga kurang begitu baik membuat orang kadang-kadang istilah bahasa jawanya, bukan saya bisa bahasa Jawa, kemlinti, jadi saya waktu masih muda, sekarang agak muda," canda Prabowo.
Sebagai informasi, gemoy adalah kata yang biasa digunakan kelompok milenial dan Gen Z untuk mengganti kata gemas. Dengan pelafalan yang lebih kekinian, kata gemas kini kerap disampaikan dalam percakapan sehari-hari dengan sebutan gemoy.
Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto menyatakan Presiden Joko Widodo guru politiknya, karena pernah mengalahkannya dua kali, yakni pada Pilpres 2014 dan 2019.
Bentuk kerja sama akan dilakukan mencakup penguatan kurikulum, standar pengajaran, penelitian bersama, hingga kehadiran profesor tamu dari Imperial College.