Mengenang Juwono Sudarsono: Cita-cita Wartawan yang Berujung Jadi Menteri Pertahanan
Prof. Dr. Juwono Sudarsono, mantan Menteri Pertahanan RI, meninggal dunia pada Sabtu (28/3/2026), meninggalkan kenangan sebagai sosok kebapakan yang pernah bercita-cita menjadi wartawan.
Prof. Dr. Juwono Sudarsono, seorang tokoh penting dalam kancah politik dan akademisi Indonesia, telah berpulang. Mantan Menteri Pertahanan pada era Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini meninggal dunia pada Sabtu, 28 Maret 2026, sekitar pukul 13.45 WIB di Jakarta. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi bangsa, sekaligus memunculkan kembali kisah menarik tentang cita-cita masa mudanya yang tak terduga.
Juwono Sudarsono, yang juga pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Menteri Lingkungan Hidup, dikenal sebagai pribadi yang hangat dan kebapakan. Kenangan akan sosoknya diungkapkan oleh berbagai pihak, termasuk para jurnalis yang pernah berinteraksi dengannya. Kisah tentang keinginannya menjadi wartawan menjadi salah satu sisi menarik dari perjalanan hidupnya yang kaya pengalaman.
Meskipun akhirnya berkarier cemerlang di pemerintahan, Juwono Sudarsono muda ternyata memiliki impian untuk menjadi seorang jurnalis. Cita-cita ini, yang diceritakan langsung olehnya, menunjukkan sisi lain dari seorang intelektual dan negarawan yang dihormati. Kisah ini menjadi pengingat bahwa jalan hidup seringkali membawa kita pada takdir yang berbeda dari impian awal.
Cita-cita Wartawan yang Tak Tercapai
Siapa sangka, Prof. Dr. Juwono Sudarsono, yang kemudian dikenal sebagai Menteri Pertahanan, pernah memiliki cita-cita kuat untuk menjadi wartawan Kantor Berita ANTARA. Keinginan ini diungkapkan sendiri oleh Juwono kepada wartawan senior ANTARA, Ade P. Marboen. Ade P. Marboen mengenang bahwa Juwono menganggap profesi wartawan itu seru, menantang, penuh petualangan, dan "sesuatu banget".
Semasa kuliah di jurusan Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia, Juwono sering menjadi pendamping delegasi internasional dalam konferensi tingkat tinggi (KTT) di Indonesia. Dari sinilah interaksinya dengan para wartawan terjalin, memperkuat keinginannya untuk terjun ke dunia jurnalistik. Namun, takdir berkata lain; Juwono justru tidak lulus tes wartawan di ANTARA, sebuah fakta yang diceritakan oleh Ade.
Meskipun gagal menjadi wartawan, pengalaman dan interaksi tersebut mungkin telah membentuk perspektifnya dalam berkomunikasi. Sosoknya yang kalem namun akrab, seperti yang digambarkan Ade, tetap menjadikannya pribadi yang mudah didekati. "Pak yu, kami biasa panggil Pak Juwono begitu, kami akrab dan suka cerita apa saja,” tutur Ade, menunjukkan kedekatan mereka.
Sosok Kebapakan dan Sistematis dalam Berkomunikasi
Kenangan baik akan sosok Juwono Sudarsono juga dibagikan oleh Ahmad Wijaya, mantan Kepala Biro ANTARA di Beijing, yang akrab disapa Anang. Anang menceritakan pengalamannya mewawancarai Juwono Sudarsono saat kunjungan resmi ke Beijing pada tahun 2009. Wawancara tersebut membahas peningkatan kerja sama pertahanan dan diplomatik antara Indonesia dan Tiongkok, keamanan di Laut Cina Selatan, serta isu penangkapan kapal ikan Tiongkok di perairan Indonesia.
Sebagai seorang mantan dosen, Juwono Sudarsono memberikan penjelasan yang sangat kebapakan dan sistematis. Hal ini sangat berkesan bagi Anang, yang merasa mendapatkan wawasan mendalam dari setiap jawaban yang diberikan. Wawancara berjalan sangat mengalir, dengan beberapa jawaban yang disampaikan secara on the record dan beberapa lainnya off the record, di mana Juwono sangat menekankan agar informasi off the record tidak diberitakan.
Satu hal yang paling membekas bagi Anang adalah perhatian pribadi Juwono setelah wawancara usai. Dengan gaya kebapakan, Juwono balik menanyakan kondisi pribadi Anang selama bertugas di Beijing, termasuk tentang keluarga dan transportasi. “Terharu sekali saya ditanya beliau seperti itu,” kenang Anang, menunjukkan betapa Juwono adalah sosok yang peduli terhadap orang di sekitarnya.
Sumber: AntaraNews