Warga Pidie Jaya Kembali Berjibaku Bersihkan Rumah Pasca Banjir Berulang, BPBD Desak Tanggul Permanen
Masyarakat Pidie Jaya kembali membersihkan rumah dari lumpur akibat banjir berulang yang melanda wilayah tersebut. BPBD setempat mendesak pemerintah pusat segera membangun tanggul permanen Sungai Meureudu untuk mencegah terulangnya bencana ini.
Bencana banjir kembali melanda sejumlah desa di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, menyebabkan warga harus kembali membersihkan rumah mereka dari endapan lumpur. Kejadian ini merupakan banjir berulang yang terjadi dua hari lalu, tepatnya pada Rabu malam (8/4), setelah sebelumnya wilayah tersebut juga dilanda banjir pada November 2025. Plh Kepala Pelaksana BPBD Pidie Jaya, Okta Handipa, mengonfirmasi bahwa masyarakat kini sudah kembali ke rumah masing-masing dan mulai bergotong royong membersihkan sisa-sisa banjir.
Hujan deras yang mengguyur wilayah hulu Sungai Meureudu menjadi pemicu utama banjir kali ini, mengakibatkan debit air sungai meningkat drastis. Akibatnya, tanggul sementara yang dibangun dari bekas lumpur banjir sebelumnya tidak mampu menahan volume air yang besar. Jebolnya tanggul ini menyebabkan air dan lumpur kembali menggenangi permukiman penduduk, memaksa sebagian warga untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Meskipun sempat mengungsi ke rumah kerabat atau mushala desa, warga kini telah kembali untuk memulai proses pembersihan. BPBD Pidie Jaya berencana mengerahkan alat berat pada esok hari untuk membantu membersihkan badan jalan desa yang masih tertutup lumpur tebal. Pihak BPBD juga menyampaikan harapan besar kepada pemerintah pusat agar segera merealisasikan pembangunan tanggul permanen di Sungai Meureudu guna mengatasi masalah banjir berulang ini.
Dampak dan Wilayah Terdampak Banjir Berulang
Banjir berulang yang terjadi di Pidie Jaya ini menimbulkan dampak signifikan bagi kehidupan masyarakat, terutama dalam hal kerugian materiil dan aktivitas sehari-hari. Lumpur tebal yang masuk ke dalam rumah memerlukan upaya pembersihan yang tidak sedikit, menguras tenaga dan waktu warga. Kondisi ini juga mengganggu mobilitas karena akses jalan desa yang tertutup lumpur, menghambat distribusi kebutuhan pokok dan aktivitas ekonomi.
Sejumlah desa di dua kecamatan menjadi lokasi terdampak parah akibat luapan air Sungai Meureudu. Di Kecamatan Meureudu, desa-desa yang kembali terendam banjir meliputi Desa Manyang Cut, Beurawang, Meunasah Lhok, dan Masjid Tuha. Sementara itu, di Kecamatan Meurah Dua, desa-desa yang terdampak adalah Desa Meunasah Mancang, Meunasah Raya, Blang Cut, Dayah Usen, Pante Beureune, Gampong Blang, Meunasah Bie, Geunteng, dan Meunasah Teungoh.
Okta Handipa menyatakan bahwa saat banjir melanda, masyarakat secara sigap mengungsi ke lokasi yang lebih tinggi untuk menghindari risiko. Namun, setelah air mulai surut, mereka kembali ke rumah masing-masing dengan semangat gotong royong untuk membersihkan sisa-sisa lumpur dan memulihkan kondisi tempat tinggal mereka. Proses pemulihan ini membutuhkan dukungan dan perhatian serius dari berbagai pihak.
Penyebab dan Urgensi Penanganan Tanggul Sungai Meureudu
Penyebab utama banjir berulang di Pidie Jaya adalah jebolnya tanggul sementara yang sebelumnya dibangun dari material bekas lumpur banjir November 2025. Tanggul tersebut tidak mampu menahan debit air yang tinggi akibat curah hujan ekstrem di hulu sungai. Selain itu, kondisi Sungai Meureudu yang semakin dangkal juga memperparah situasi, membuat kapasitas penampungan air sungai berkurang drastis dan mudah meluap saat intensitas hujan tinggi.
BPBD Pidie Jaya menekankan bahwa pendangkalan sungai dan penyumbatan saluran air warga menjadi faktor penting yang harus segera ditangani. Jika masalah ini tidak mendapatkan penanganan serius dan permanen, maka banjir akan terus berulang setiap kali terjadi hujan deras di wilayah hulu. Oleh karena itu, pembangunan tanggul permanen menjadi solusi krusial untuk melindungi masyarakat dari ancaman banjir di masa mendatang.
Plh Kepala Pelaksana BPBD Pidie Jaya, Okta Handipa, secara tegas meminta pemerintah pusat untuk segera mengambil tindakan konkret. "Kita minta pemerintah pusat segera buat tanggul permanen. Apalagi kondisi saluran warga juga tersumbat, dan Sungai Krueng Meureudu sudah dangkal, jadi kalau ada air deras dari hulu akan banjir lagi," ujarnya, menegaskan urgensi penanganan infrastruktur pencegahan banjir.
Tanpa adanya intervensi serius dari pemerintah pusat, masyarakat Pidie Jaya akan terus dihadapkan pada ancaman banjir berulang, yang tidak hanya merugikan secara materiil tetapi juga mengganggu stabilitas sosial dan ekonomi. Pembangunan tanggul permanen diharapkan dapat memberikan rasa aman dan kepastian bagi warga yang tinggal di sekitar Sungai Meureudu.
Sumber: AntaraNews