Unik, Desa Hantu di Cicadas Jadi Ikon Baru Perayaan Kemerdekaan
Awalnya tak tampak jelas peran apa yang akan mereka mainkan. Namun beberapa saat kemudian, sosok Grim Reaper.
Suasana berbeda tampak di Gang Banteng, Kelurahan Cicadas, Kecamatan Cibeunying Kaler, Kota Bandung, Jumat 1 Agustus 2025. Di teras rumah Endang Suprahtini, dua pemuda tampak sibuk mempersiapkan sesuatu. Mereka sedang berganti pakaian untuk berperan dalam pertunjukan malam.
Awalnya tak tampak jelas peran apa yang akan mereka mainkan. Namun beberapa saat kemudian, sosok Grim Reaper, makhluk menyeramkan bertudung hitam yang dikenal sebagai Sang Pencabut Nyawa, muncul dari balik kostum salah satu dari mereka.
Pemuda tersebut merupakan bagian dari tim 'talent hantu' yang akan meramaikan atraksi 'Desa Hantu', sebuah konsep unik yang mengubah seluruh gang menjadi lorong menyeramkan dengan dekorasi kain hitam, pepohonan pisang, dan properti lainnya. Bahkan, lebih dari 30 rumah di sepanjang gang itu turut disulap menjadi bagian dari wahana mistis tersebut.
Endang, pemilik rumah yang dipakai untuk persiapan para talent, tak merasa terganggu. Ia justru merasa senang bisa ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
"Mereka istilahnya pada ke sini. Ya positifnya, sama-sama, saling menolong, saling mendukung yang mereka butuhkan apa," kata dia.
'Desa Hantu' akan dibuka selama tiga hari, mulai dari tanggal 1 hingga 3 Agustus 2025, sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-80.
Aditya Rahman, selaku ketua panitia, menjelaskan bahwa puluhan pemuda telah bekerja sama menyiapkan seluruh konsep sejak jauh hari. Tahun ini merupakan penyelenggaraan kedua setelah tahun sebelumnya sukses menyedot perhatian warga dan bahkan sempat viral.
Ia mengungkapkan bahwa ide ini muncul dari keinginan untuk menampilkan sesuatu yang berbeda. Bila umumnya wahana rumah hantu hanya menggunakan satu rumah sebagai lokasi utama, Aditya dan timnya justru membuat satu gang penuh menjadi arena menyeramkan.
"Kalau di tempat lain, RT atau RW lain, bikin rumah hantu nih, kita coba bikin apa yang beda terbikinlah desa desa hantu, dibuatlah satu gang," katanya.
"Kalau yang lain mungkin cuma satu rumah, kita dibuat satu gang, perizinan ke warga juga Alhamdulillah warga juga mendukung, terjadilah seperti ini. Alhamdulillah tahun kemarin sampai viral ke mana-mana," katanya.
Dengan antusiasme tahun lalu, panitia tidak ingin tahun ini terasa sama. Maka, sejumlah elemen baru ditambahkan, termasuk kehadiran "raja hantu" sebagai karakter spesial.
"Ada rajanya," imbuh dia.
Warga dan pengunjung dapat menikmati suasana menyeramkan ini dengan tiket masuk sebesar Rp5.000. Harga yang cukup terjangkau untuk pengalaman menguji adrenalin di malam hari.
Lurah Cicadas, Tjakra Irawan, turut memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini. Ia menyatakan kekagumannya terhadap kreativitas pemuda dan partisipasi aktif warga.
Tjakra bahkan mengatakan bahwa pihak kelurahan telah mengundang Ketua DPRD Kota Bandung untuk turut merasakan sensasi dari Desa Hantu ini.
"Sekarang kita undang dari pemerintahan, mudah-mudahan nanti pak ketua DPRD pun sudah mendukung dengan kegiatan ini mudah-mudahan ini bisa menjadi ikon di wilayah Cicadas terutama," kata dia.
"Mudah-mudahan tidak ada yang aslinya," dia menambahkan.
Ia berharap Desa Hantu dapat menjadi kegiatan rutin tahunan, sekaligus menjadi daya tarik ikonik menjelang Hari Kemerdekaan setiap bulan Agustus.
"Memperingati kegiatan 17 Agustus. Karena awalnya di situ. Nanti ke depannya kalau ini sudah menjadi ikon di wilayah Cicadas. Ini akan saya minta setiap bulan Agustus terkait dengan rangkaian memperingati 17 Agustus, ini wajib," katanya.