UIN Ar-Raniry Usulkan Bantuan Pendidikan Mahasiswa Terdampak Banjir Aceh untuk 3.531 Orang
Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry mengusulkan Bantuan Pendidikan Mahasiswa Terdampak Banjir Aceh kepada pemerintah dan lembaga terkait demi keberlanjutan studi 3.531 mahasiswanya yang terancam putus kuliah.
Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh secara resmi mengusulkan permohonan bantuan pendidikan kepada Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf. Permohonan ini diajukan untuk 3.531 mahasiswa yang terdampak parah oleh bencana banjir dan longsor di Aceh. Inisiatif ini bertujuan untuk mencegah ancaman putus kuliah yang membayangi para mahasiswa akibat dampak hidrometeorologi tersebut.
Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Mujiburrahman, menyampaikan bahwa data internal kampus menunjukkan ribuan mahasiswa berasal dari keluarga yang mata pencariannya terganggu. Banyak orang tua mahasiswa kehilangan pekerjaan atau masih berada di pengungsian, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar pendidikan anak mereka. Kondisi ini membuat pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) menjadi beban yang sangat berat.
Permohonan Bantuan Pendidikan Mahasiswa Terdampak Banjir Aceh ini telah disampaikan langsung oleh Prof. Mujiburrahman kepada Mensos Saifullah Yusuf dalam pertemuan di Jakarta. Langkah strategis ini diharapkan dapat menjamin hak pendidikan tinggi bagi mahasiswa UIN Ar-Raniry yang berada dalam situasi rentan pascabencana.
Dampak Banjir dan Ancaman Putus Kuliah
Bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh telah menimbulkan dampak ekonomi yang signifikan bagi ribuan keluarga mahasiswa UIN Ar-Raniry. Sebanyak 3.531 mahasiswa teridentifikasi berasal dari keluarga terdampak, di mana sebagian besar orang tua mereka kehilangan mata pencarian. Situasi ini secara langsung mengancam keberlanjutan studi para mahasiswa.
Prof. Mujiburrahman menjelaskan bahwa dalam kondisi ekonomi yang sulit, mahasiswa tidak mungkin dibebani kewajiban membayar UKT. Tanpa dukungan finansial, mereka berpotensi besar untuk menghentikan studi mereka secara massal. Risiko putus kuliah massal ini akan menimbulkan konsekuensi jangka panjang bagi pembangunan sumber daya manusia di Aceh.
Dampak bencana tidak hanya berhenti pada fase tanggap darurat, melainkan berlanjut hingga tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Pada fase ini, beban ekonomi keluarga mahasiswa justru semakin berat, sementara perkuliahan semester genap tahun akademik 2025/2026 tetap berjalan dengan segala kewajiban akademik dan finansialnya.
Upaya UIN Ar-Raniry Jamin Keberlanjutan Studi
Untuk menjamin keberlanjutan studi mahasiswa terdampak, UIN Ar-Raniry tidak tinggal diam dan telah mengambil berbagai langkah proaktif. Kampus ini mengajukan proposal bantuan komprehensif yang mencakup pembiayaan UKT, sewa tempat tinggal, biaya hidup, serta kebutuhan dasar penunjang perkuliahan. Proposal ini diharapkan dapat meringankan beban finansial mahasiswa dan keluarga.
Selain kepada Kementerian Sosial yang dipimpin oleh Saifullah Yusuf, proposal serupa juga diajukan kepada beberapa lembaga penting lainnya. Lembaga-lembaga tersebut termasuk Kementerian Agama (Kemenag), Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), serta Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Pendekatan multi-lembaga ini menunjukkan keseriusan UIN Ar-Raniry dalam mencari solusi terbaik.
Sebelumnya, UIN Ar-Raniry juga telah menyalurkan bantuan awal berupa biaya hidup sebesar Rp200.000 per mahasiswa melalui Islamic Trust Fund (ITF). Bantuan tersebut bersifat sementara dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan paling mendesak pascabencana. Langkah ini merupakan bentuk kepedulian awal kampus terhadap kondisi mahasiswanya.
Pentingnya Investasi Pendidikan Pasca Bencana
Rektor Prof. Mujiburrahman menilai bahwa keberlanjutan pendidikan tinggi merupakan bagian integral dari proses pemulihan pascabencana. Ia menekankan bahwa risiko putus kuliah massal akan berdampak jangka panjang bagi pembangunan sumber daya manusia di Aceh. Pendidikan dianggap sebagai investasi krusial untuk masa depan daerah.
“Mahasiswa adalah investasi masa depan. Jika mereka berhenti kuliah karena bencana, dampaknya akan dirasakan bertahun-tahun ke depan,” tegas Prof. Mujiburrahman. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya dukungan pemerintah dan lembaga terkait untuk memastikan tidak ada mahasiswa yang kehilangan kesempatan pendidikan akibat musibah.
UIN Ar-Raniry sangat berharap pemerintah melalui kementerian dan lembaga terkait dapat segera merespons usulan tersebut. Respons cepat dan konkret diperlukan agar 3.531 mahasiswa terdampak banjir tetap memperoleh hak mereka atas pendidikan tinggi. Ini adalah langkah vital untuk menjaga potensi generasi muda Aceh.
Sumber: AntaraNews