UGM Sambut 610 Awardee LPDP Ganjil 2025, Teguhkan Komitmen Bangun Negeri
Bagi awardee, beasiswa LPDP bukan hanya tiket menempuh pendidikan tinggi, melainkan amanah negara yang harus dijaga
Yogyakarta, 28 September 2025 – Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi menyambut 610 mahasiswa penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) periode Ganjil 2025 melalui acara Welcoming Awardee yang digelar di Hall Gedung ASLC Fakultas Peternakan, Minggu (28/9). Sebanyak 270 awardee hadir langsung di Yogyakarta, sementara lainnya mengikuti rangkaian acara dari berbagai daerah.
Kegiatan bertema “Melangkah Bersama Membangun Indonesia untuk Masa Depan Bangsa” ini menandai awal perjalanan para penerima beasiswa magister dan doktoral. Bagi awardee, beasiswa LPDP bukan hanya tiket menempuh pendidikan tinggi, melainkan amanah negara untuk menjaga integritas, membangun jejaring, dan memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.
Pesan Inspiratif dari Panitia dan Pengurus LPDP UGM
Dalam sambutan pembuka, Ketua Panitia Juverio Pangestu menegaskan bahwa tema kegiatan memiliki makna mendalam. “Mari melangkah bersama, bukan hanya untuk menyelesaikan studi, tetapi juga memberi dampak nyata bagi bangsa,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Kelurahan LPDP UGM Boy Kurniawan menyampaikan pesan lugas penuh humor: “Datang ke sini untuk tambah gelar, bukan untuk tambah suami atau istri.” Meski disambut tawa, Boy mengingatkan pentingnya kejujuran dalam pengajuan dana beasiswa. “Jangan sampai memalsukan dokumen. Kalau melanggar, e-beasiswa bisa langsung diblokir,” tegasnya.
LPDP sebagai Amanah Negara
Melalui sambutan daring, Gendro Hartono, S.E., M.M., Kepala Divisi Pelayanan Beasiswa LPDP, menekankan bahwa LPDP adalah amanah negara untuk menyiapkan sumber daya manusia unggul. Hingga 2025, LPDP telah mendukung lebih dari 555.776 awardee dan alumni, dengan UGM sebagai penerima terbanyak (6.955 orang).
Ia mengingatkan bahwa prestasi akademik harus berjalan seimbang dengan kesehatan, organisasi, dan integritas pribadi. “Fokus pada studi, lulus tepat waktu, bijak dalam bermedia, dan selalu menjaga nama baik, baik sebagai individu maupun sebagai awardee LPDP,” pesannya.
Pesan dari UGM: Hindari Gaya Hidup Konsumtif
Acara juga dibuka resmi oleh Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengembangan Masyarakat, dan Alumni UGM. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa beasiswa adalah bentuk tanggung jawab negara.
“Boleh royal, tetapi jangan sampai hal-hal itu mendestruksi diri Anda. Hindari mempertontonkan gaya hidup yang tidak relevan, apalagi di tengah krisis ekonomi dan politik,” ungkapnya.
Arie juga mendorong awardee untuk kembali membangun daerah asal usai studi. “Bisa tetap di Jogja, tetapi sebaiknya kembali ke daerah Anda untuk membangun. Di situlah kontribusi nyata akan terasa,” tambahnya.
Narasumber Inspiratif: Visioner dan Inovatif
Dua narasumber turut berbagi inspirasi. Ir. Supardi Nompo, S.T., M.Eng., seorang wirausahawan dan kandidat doktor LPDP, mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya soal ilmu, melainkan jejaring sosial. Ia mengajak awardee berpikir visioner:
“Visioner adalah ketika orang lain hanya melihat tembok, tetapi kita bisa melihat apa yang ada di baliknya.”
Sementara itu, Indra Dwi Prasetyo, MBA, memaparkan tantangan era disrupsi. Ia menyoroti inflasi kualitas gelar, perubahan pola kerja, hingga pergeseran ekonomi freelance. Menurutnya, awardee LPDP harus berani menciptakan inovasi dengan strategi Blue Ocean.
“Untuk bisa bersaing di lautan biru, fokuslah pada low cost, high impact. Harus punya value innovation: eliminate, reduce, raise, create,” jelasnya.