Trivia: Potensi 63 GW! Indonesia Perkuat Kolaborasi Energi Terbarukan Berbasis Kelautan dengan AS
Indonesia serius menggarap potensi energi terbarukan berbasis kelautan yang melimpah. Simak bagaimana kolaborasi dengan AS akan mempercepat transisi energi bersih dan pengembangan SDM.
Indonesia menunjukkan komitmen kuat dalam mengembangkan energi terbarukan, khususnya dari sektor kelautan. Duta Besar RI untuk Amerika Serikat (AS), Dwisuryo Indroyono Soesilo, menegaskan upaya Indonesia untuk memperkuat kolaborasi dengan AS dalam bidang ini. Langkah strategis ini diharapkan dapat memaksimalkan potensi besar energi laut yang dimiliki Indonesia.
Potensi energi laut Indonesia sangat signifikan, mencakup energi gelombang, energi arus, dan energi pasang surut. Secara spesifik, energi arus laut Indonesia memiliki potensi hingga 63 Gigawatt (GW) yang sayangnya belum termanfaatkan secara komersial. Untuk itu, pemerintah menargetkan pemanfaatan awal sebesar 40 Megawatt (MW) energi arus laut pada tahun 2028.
Target ambisius ini tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034. Studi kelayakan telah dilakukan oleh Kementerian ESDM bekerja sama dengan University of Maryland, AS. Proyek percontohan direncanakan akan dibangun di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT), mengingat kedua wilayah tersebut memiliki potensi arus laut yang paling kuat.
Mengoptimalkan Potensi Energi Arus Laut Indonesia
Indonesia diberkahi dengan kekayaan maritim yang luar biasa, termasuk potensi energi arus laut yang mencapai 63 GW. Angka ini menunjukkan betapa besarnya peluang bagi Indonesia untuk beralih ke sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan. Meskipun demikian, pemanfaatan potensi ini masih berada pada tahap awal, menuntut investasi dan teknologi yang memadai.
Pemerintah Indonesia, melalui RUPTL 2025–2034, telah menetapkan target konkret untuk memanfaatkan energi arus laut. Target awal 40 MW pada tahun 2028 menjadi langkah penting dalam mewujudkan visi energi bersih nasional. Ini adalah bagian dari komitmen Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan beralih ke sumber yang lebih ramah lingkungan.
Kerja sama internasional menjadi kunci dalam percepatan pengembangan energi ini. Studi kelayakan yang dilakukan bersama University of Maryland, AS, adalah contoh nyata kolaborasi yang konstruktif. Hasil studi ini akan menjadi dasar bagi pembangunan proyek percontohan di NTB dan NTT, wilayah yang secara geografis sangat strategis untuk pengembangan energi arus laut.
Kolaborasi Indonesia-AS dan Penguatan SDM Berbasis STEM
Kolaborasi antara Indonesia dan AS tidak hanya terbatas pada transisi energi semata. Dwisuryo Indroyono Soesilo menekankan pentingnya penguatan sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan dan riset, terutama dalam bidang Sains, Teknologi, Teknik (Engineering), dan Matematika (STEM). Peningkatan kapasitas SDM ini krusial untuk mendukung pembangunan energi bersih secara berkelanjutan.
Arahan dari Presiden RI Prabowo Subianto juga sejalan dengan fokus ini, yang menekankan pentingnya pelibatan tenaga ahli Indonesia sejak awal tahap proyek pembangunan. Hal ini memastikan bahwa transfer pengetahuan dan teknologi terjadi secara efektif, sehingga Indonesia memiliki kemandirian dalam mengelola sektor energi terbarukannya di masa depan.
Upaya kolaborasi ini juga mendukung target ambisius Indonesia untuk menurunkan emisi karbon sebanyak 42 persen pada tahun 2030. Dukungan dari mitra internasional, seperti melalui skema Just Energy Transition Partnership (JETP), merupakan bagian integral dari Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia–AS. JETP menjadi platform penting untuk memobilisasi investasi dan keahlian yang diperlukan dalam transisi energi Indonesia.
Profil Dwisuryo Indroyono Soesilo: Dubes RI untuk AS
Dwisuryo Indroyono Soesilo, yang baru dilantik sebagai Duta Besar RI untuk AS pada 25 Agustus 2025 oleh Presiden RI Prabowo Subianto, merupakan sosok yang memiliki latar belakang kuat di bidang sains dan pemerintahan. Pria yang akrab disapa Indroyono ini adalah lulusan Teknik Geologi ITB tahun 1979. Pendidikan tingginya berlanjut di AS, di mana ia meraih gelar magister di bidang Remote Sensing dari University of Michigan pada 1981 dan gelar doktor dalam Geologic Remote Sensing dari University of Iowa pada 1987.
Sebelum menjabat sebagai Dubes, Indroyono memiliki rekam jejak karier yang impresif di kancah internasional dan nasional. Pada tahun 2012, ia menjadi orang Indonesia pertama yang menduduki jabatan tinggi di Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) sebagai Direktur Sumber Daya Perikanan dan Aquakultur. Pengalamannya yang luas di bidang kemaritiman juga terbukti saat ia menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI dari 27 Oktober 2014 hingga 12 Agustus 2015.
Sumber: AntaraNews