Tim Evakuasi Temukan Delapan Korban Baru, Total Korban Bencana Tapanuli Utara Capai 23 Jiwa
Tim evakuasi kembali menemukan delapan jasad korban bencana alam di Tapanuli Utara, menambah daftar korban bencana Tapanuli Utara menjadi 23 jiwa, sementara pencarian masih terus berlangsung.
Tim evakuasi gabungan berhasil menemukan delapan korban jiwa tambahan akibat bencana alam yang melanda wilayah Tapanuli Utara. Penemuan ini diumumkan langsung oleh Kepala Kepolisian Resor (Polres) Tapanuli Utara, AKBP Ernis Sitinjak, pada hari Sabtu. Operasi pencarian dan penyelamatan terus diintensifkan di lokasi terdampak.
AKBP Ernis Sitinjak menjelaskan bahwa enam dari delapan jenazah yang baru ditemukan berasal dari masyarakat Rantau Prapat. Sementara itu, dua korban lainnya merupakan warga Kecamatan Adiankoting, yang juga terdampak parah oleh bencana hidrometeorologi ini. Upaya identifikasi dan penanganan jenazah sedang dilakukan oleh pihak berwenang.
Dengan penemuan terbaru ini, total jumlah korban jiwa akibat bencana alam di Tapanuli Utara kini mencapai 23 orang. Angka korban hilang yang masih dalam pencarian tim evakuasi juga berkurang dari 36 menjadi 28 orang. Kondisi cuaca ekstrem sebelumnya menjadi pemicu utama serangkaian musibah ini.
Perkembangan Pencarian dan Jumlah Korban Bencana Tapanuli Utara
Kapolres Tapanuli Utara, AKBP Ernis Sitinjak, menegaskan bahwa tim evakuasi bekerja tanpa henti untuk menemukan korban yang masih hilang. "Hari ini, tim evakuasi telah menemukan delapan jasad lagi," ujar Ernis Sitinjak di Tapanuli Utara. Fokus utama saat ini adalah menuntaskan area pencarian yang telah dipetakan.
Dari total delapan jenazah yang ditemukan, enam di antaranya diidentifikasi sebagai warga Rantau Prapat. "Dan dua lagi merupakan masyarakat Kecamatan Adiankoting," kata dia. Proses identifikasi lebih lanjut akan melibatkan keluarga korban untuk memastikan data yang akurat.
Data terbaru menunjukkan bahwa total korban jiwa akibat bencana ini telah mencapai 23 orang. Angka ini mencakup seluruh penemuan sejak awal bencana melanda wilayah tersebut. "Angka korban hilang berkurang dari 36 menjadi 28 orang yang masih tetap dalam pencarian tim evakuasi," ujarnya.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara sebelumnya mencatat 47 orang meninggal dunia akibat bencana hidrometeorologi di 13 kabupaten/kota. Angka ini menunjukkan skala luas dampak bencana yang terjadi di provinsi Sumatera Utara. Upaya penanganan pasca-bencana terus dikoordinasikan oleh berbagai pihak.
Dampak Siklon Tropis Senyar Picu Cuaca Ekstrem di Sumatera Utara
Kepala Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan, Hendro Nugroho, menjelaskan penyebab cuaca ekstrem ini. Fenomena Siklon Tropis Senyar menjadi pemicu utama serangkaian bencana hidrometeorologi. Bibit siklon ini berkembang sejak 21 November 2025 di perairan timur Aceh dan Selat Malaka.
Dampak dari Siklon Tropis Senyar ini telah menyebabkan hujan setiap hari di wilayah Sumatera Utara selama satu minggu terakhir. "Dampaknya dalam satu minggu terakhir, wilayah Sumatera Utara dilanda hujan setiap hari," katanya. Intensitas hujan yang tinggi memicu banjir dan tanah longsor di berbagai daerah.
Siklon Tropis Senyar juga berkontribusi pada peningkatan intensitas cuaca ekstrem lainnya. Ini termasuk hujan lebat hingga ekstrem, gelombang tinggi, dan angin kencang yang melanda wilayah Sumatera Utara. Kondisi ini memperparah situasi dan menyulitkan upaya evakuasi serta penanganan bencana.
Hendro menambahkan bahwa kelembapan udara terpantau sangat tinggi, mendukung potensi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat. "Dengan kelembapan udara terpantau sangat tinggi, sehingga udara cukup basah semakin mendukung potensi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat di beberapa wilayah Sumatera Utara," tutur Hendro. Peringatan dini terus dikeluarkan untuk masyarakat.
Sumber: AntaraNews