Terungkap! 3 Keanehan Pra Penculikan KCP Bank yang Berujung Maut
Kuasa hukum korban penculikan KCP bank beberkan sejumlah keanehan mencurigakan yang terjadi seminggu sebelum insiden tragis, memunculkan pertanyaan besar.
Jakarta – Kasus penculikan yang menimpa Kepala Cabang Pembantu (KCP) bank di Jakarta Pusat, MIP (37), menyimpan banyak misteri. Kuasa hukum korban, Boyamin Saiman, baru-baru ini mengungkapkan serangkaian keanehan yang terjadi sekitar satu minggu sebelum MIP diculik pada Rabu (20/8).
Keanehan-keanehan ini mengindikasikan adanya firasat atau peringatan dini yang dirasakan korban sebelum insiden tragis tersebut. Perubahan perilaku MIP bahkan tidak disadari oleh istrinya sendiri, yang baru mengetahui setelah kejadian terungkap.
Penculikan ini sendiri berujung pada penemuan jenazah MIP di areal persawahan Serang Baru, Kabupaten Bekasi, pada Kamis (21/8). Jenazah ditemukan dengan kondisi wajah, kaki, dan tangan terlilit lakban hitam, menambah daftar panjang kejanggalan dalam kasus ini.
Gelagat Aneh Korban Seminggu Sebelum Kejadian
Menurut Boyamin Saiman, korban MIP menunjukkan perubahan perilaku yang signifikan seminggu sebelum penculikan. Salah satu keanehan utama adalah kebiasaan memarkir mobilnya jauh dari rumah, sekitar 300-400 meter dari kediamannya di Tangerang Selatan.
"Korban itu nampak tidak nyaman seminggu sebelumnya (sebelum hari penculikan). Parkir mobil di luar kompleks, enggak pernah itu (sebelumnya)," kata Boyamin kepada wartawan di Polda Metro Jaya. Kebiasaan ini sangat berbeda dari biasanya, di mana MIP selalu memarkir mobil di area rumah.
Istri MIP sendiri tidak menyadari perubahan kebiasaan parkir suaminya karena korban pulang larut malam dan sudah berangkat pagi hari. Informasi mengenai keanehan ini justru datang dari Satpam kompleks setelah insiden penculikan terjadi.
Indikasi Pengintaian dan Upaya Pendekatan
Selain perubahan perilaku korban, Boyamin juga mengungkapkan adanya indikasi pengintaian terhadap MIP. Ada orang yang dipergoki menguntit rumah masa kecil korban yang tertera di KTP, meskipun MIP sudah lama tinggal di Tangerang Selatan.
Keanehan lain terjadi di kantor cabang tempat MIP bekerja di Cempaka Putih. Seorang individu mendatangi kantor tersebut dengan dalih mengurus ATM, namun tidak membawa KTP dan tidak memiliki rekening. "Tapi ujung-ujungnya meminta untuk bertemu pimpinan," tambah Boyamin, yang mengindikasikan upaya untuk mendekati pimpinan bank.
Upaya pendekatan ini gagal, namun menunjukkan bahwa ada pihak-pihak yang mencoba mengakses atau mendekati pimpinan bank. Peristiwa ini terjadi sebelum penculikan, yang semakin memperkuat dugaan adanya perencanaan matang di balik insiden tragis tersebut.
Motif di Balik Penculikan dan Peran Tersangka
Fakta penyidikan mengungkap motif utama di balik penculikan ini adalah kebutuhan para tersangka akan otoritas seorang KCP bank. Mereka membutuhkan akses untuk memindahkan dana dari rekening dormant atau terbengkalai ke rekening yang telah disiapkan.
Kepala Sub Direktorat Kejahatan dan Kekerasan (Kasubdit Jatantas) Polda Metro Jaya AKBP Abdul Rahim menjelaskan bahwa otak pelaku berinisial K alias C, sempat mengajak DH mencari kepala cabang bank yang bersedia diajak bekerja sama. Namun, upaya ini tidak membuahkan hasil setelah lebih dari satu bulan.
"Namun dalam perjalanannya setelah sekian lama, 1 bulan lebih, mereka tidak berhasil mendapatkan kepala cabang bank yang mau diajak kerja sama," ujar AKBP Abdul Rahim dalam jumpa pers. Kegagalan ini mendorong mereka untuk mengambil tindakan ekstrem.
Setelah gagal mencari kerja sama, K kemudian memberikan kartu nama MIP kepada DH. Kartu nama tersebut digunakan DH untuk menelusuri keberadaan korban, yang berujung pada penculikan di parkiran Lotte Mart Pasar Rebo, Jakarta Timur. Ini menunjukkan bagaimana informasi pribadi korban dimanfaatkan oleh para pelaku.
Sumber: AntaraNews